Laba OCBC NISP Naik 4%, CASA dan Efisiensi Jadi Penopang

AKURAT.CO PT Bank OCBC NISP Tbk mencatat laba bersih Rp5,1 triliun sepanjang 2025, tumbuh 4% secara tahunan di tengah perlambatan pertumbuhan kredit dan tekanan margin bunga.
Kinerja tersebut ditopang oleh penguatan likuiditas melalui lonjakan dana murah serta efisiensi operasional yang membaik.
Direktur Keuangan OCBC NISP, Hartati, mengatakan pertumbuhan laba tersebut mencerminkan ketahanan bisnis perseroan di tengah tantangan industri perbankan yang masih dibayangi suku bunga tinggi.
Baca Juga: Dividen OCBC 2025 Turun seiring Dengan Pertumbuhan Laba yang Melambat
“Laba bersih tumbuh 4 persen menjadi Rp5,1 triliun dengan Return on Equity sebesar 12,2 persen,” ujar Hartati dalam Paparan Publik Tahunan di OCBC Tower, Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit tumbuh terbatas 2% menjadi Rp173 triliun. Meski pertumbuhannya melambat, kualitas aset tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) bruto sebesar 1,9%, lebih rendah dari kisaran rata-rata industri perbankan nasional 2–3% berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan.
Di sisi lain, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) justru tumbuh jauh lebih tinggi, naik 18% menjadi Rp243,5 triliun.
Pertumbuhan ini terutama didorong oleh dana murah atau current account saving account (CASA) yang melonjak 24% menjadi Rp141,1 triliun, sehingga rasio CASA naik ke level 58%.
Secara historis, strategi memperbesar CASA menjadi fokus utama industri perbankan nasional dalam beberapa tahun terakhir. Ketika Bank Indonesia mempertahankan suku bunga relatif ketat sepanjang 2025 untuk menjaga inflasi dan stabilitas nilai tukar, biaya dana (cost of fund) perbankan ikut meningkat. Dalam kondisi tersebut, dana murah menjadi penopang utama profitabilitas bank.
Tekanan pada margin terlihat dari net interest margin (NIM) yang turun ke level 3,9%. Namun penurunan ini berhasil diimbangi efisiensi operasional. Cost to Income Ratio (CIR) membaik ke 47,1%, sementara rasio BOPO berada di level 69,6%.
Baca Juga: OCBC Business Forum 2025 Bahas Strategi Tumbuh di Tengah Ketidakpastian
Pendapatan non-bunga juga turut menopang kinerja, terutama dari keuntungan penjualan surat berharga dan transaksi valuta asing yang meningkat di tengah volatilitas pasar global. Hal ini menjadi penting karena memperlihatkan diversifikasi sumber pendapatan di luar bunga kredit.
Dari sisi struktur bisnis, 84% portofolio kredit OCBC NISP masih didominasi sektor produktif, dengan komposisi kredit modal kerja 41% dan investasi 43%. Sementara itu, kemampuan permodalan tetap kuat dengan rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 24,5%, jauh di atas batas minimum regulator.
Bagi pasar, kinerja ini memberi sentimen positif terhadap saham NISP yang pada perdagangan Kamis (9/4/2026) berada di level Rp1.395 per saham.
Namun investor juga mencermati aspek teknikal terkait free float yang masih 13,98%, sedikit di bawah ketentuan minimum Bursa Efek Indonesia sebesar 15%.
Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi likuiditas perdagangan saham di pasar sekunder serta menjadi perhatian dalam kepatuhan regulasi emiten.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini











