Inflasi Medis Eksponensial, Sayangnya Asuransi 40 Persen Penduduk RI Masih Tak Relevan dengan Kebutuhan

AKURAT.COSurvei terbaru Ipsos Indonesia dan FWD Insurance mengungkap 66% konsumen kelas menengah di Indonesia mengalami kecemasan terhadap kondisi finansial mereka, seiring tekanan inflasi medis.
Associate Director Ipsos Indonesia, Oscar Simamora, menyatakan bahwa studi ini dilakukan terhadap konsumen kelas menengah di Indonesia sebagai bagian dari survei lintas sembilan negara di Asia dengan pendekatan nasional dan representatif.
“Ada 66 persen yang mereka itu worry, stress, feel anxiety terhadap kondisi finansialnya mereka,” ujar Oscar dalam Konferensi Pers FWD Consumer Outlook Survey di Jakarta, Senin (13/4/2026).
Baca Juga: FWD: 66 Persen Kelas Menengah RI Alami Tekanan Finansial
Oscar menjelaskan, tekanan utama berasal dari kenaikan biaya hidup, khususnya sektor kesehatan yang mengalami inflasi lebih tinggi dibandingkan inflasi umum.
“Inflasi terhadap kebutuhan medical itu lebih naik secara eksponensial dibandingkan inflasi secara general,” jelasnya.
Sayangnya, dari sisi perlindungan finansial, Ipsos mencatat hanya 4 dari 10 responden yang memiliki asuransi. Namun, kepemilikan tersebut dinilai belum efektif.
“4 dari 10 itu sebenarnya sudah punya insurance, tapi tidak relevan dengan kebutuhan mereka,” kata Oscar.
Kelas Menengah Tertekan Meski Ekonomi Stabil
Secara makro, ekonomi Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan stabil. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5% dalam beberapa tahun terakhir (2023–2025). Namun, stabilitas tersebut tidak sepenuhnya dirasakan oleh kelas menengah.
Tekanan inflasi, terutama pada sektor kesehatan, menjadi faktor pembeda. Data Kementerian Kesehatan dan berbagai lembaga internasional menunjukkan inflasi medis di Indonesia secara historis memang lebih tinggi, dipicu kenaikan biaya layanan, obat, dan teknologi kesehatan.
Dalam konteks demografi, survei Ipsos juga menemukan adanya gap signifikan antara usia pensiun dan harapan hidup. Rata-rata responden memperkirakan pensiun di usia 58 tahun, sementara harapan hidup mencapai sekitar 70–79 tahun.
Ada gap sekitar 20–24 tahun antara masa pensiun dan harapan hidup, ini menunjukkan kebutuhan fondasi finansial jangka panjang. "Namun tabungan yang dimiliki belum memadai untuk menutup periode tersebut," ungkap Oscar.
Dampak terhadap Publik dan Pasar
Kondisi ini menciptakan kerentanan struktural pada kelas menengah, terutama dalam 3 aspek berikut.
1. Risiko Ketahanan Finansial
Mayoritas responden belum memiliki perencanaan keuangan yang matang. Ipsos mencatat sebagian besar belum berkonsultasi dengan penasihat keuangan. “Mayoritas mereka belum melakukan apa-apa dalam hal perencanaan finansial,” kata Oscar.
2. Tekanan Generasi Produktif
Generasi milenial (Gen Y) menghadapi tekanan ganda sebagai “sandwich generation”. Hal ini mengurangi kemampuan mereka menabung untuk pensiun. “Lebih dari 60 Persen mengalokasikan 20 Persen atau lebih pendapatannya untuk keluarga,” jelasnya.
3. Perubahan Perilaku Konsumen Keuangan
Terdapat tren peningkatan minat terhadap instrumen keuangan berbasis syariah, seiring mayoritas populasi Indonesia yang beragama Islam.
Selain itu, kebutuhan produk proteksi juga berbeda antar generasi, dimana:
Gen Z: menginginkan produk sederhana dan terjangkau
Gen Y: membutuhkan proteksi keluarga menyeluruh
Gen X: fokus pada perlindungan aset dan stabilitas pensiun
Survei Ipsos menegaskan adanya kesenjangan antara kebutuhan dan kesiapan finansial kelas menengah di Indonesia. Di satu sisi, pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.
Namun di sisi lain, tekanan inflasi terutama biaya kesehatan dan rendahnya literasi serta perencanaan keuangan memperbesar risiko jangka panjang.
Pada akhirnya diperlukan peningkatan literasi keuangan, akses terhadap produk proteksi yang relevan, serta inovasi industri keuangan untuk menjawab kebutuhan spesifik tiap generasi.
“Konsumen kelas menengah ini membutuhkan guidance untuk mengelola financial well-being mereka, terutama untuk kebutuhan kesehatan dan masa pensiun,” tutur Oscar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini











