Akurat
Pemprov Sumsel

BI Sebut Dampak Perang AS-Iran ke RI Besar, Mulai Arus Keluar Modal Asing Rp21 Triliun hingga Pelemahan Rupiah ke Rp17.100

Esha Tri Wahyuni | 13 April 2026, 22:18 WIB
BI Sebut Dampak Perang AS-Iran ke RI Besar, Mulai Arus Keluar Modal Asing Rp21 Triliun hingga Pelemahan Rupiah ke Rp17.100
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) mencatat tekanan signifikan terhadap pasar keuangan domestik akibat eskalasi perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.

Hingga periode terbaru, arus modal asing keluar (capital outflow) dari Indonesia mencapai sekitar Rp21 triliun, dipicu meningkatnya ketidakpastian global.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti menegaskan, bahwa dampak konflik ini lebih terasa secara tidak langsung melalui transmisi pasar keuangan global.

Baca Juga: Dubes Saudi Beberkan Dampak Perang AS-Iran Terhadap Pelaksanaan Ibadah Haji 2026

“Kalau direct impact, Iran dan Israel ini sebenarnya bukan financial hub secara global. Jadi kontribusi mereka dalam financial sector tidak terlalu besar, tapi indirect impact-nya itu akan sangat besar,” ujar Destry dalam Central Banking Forum 2026 di Jakarta, Senin (13/4/2026).

Menurut BI, dampak tidak langsung tersebut dipicu oleh keterlibatan AS sebagai pusat keuangan global. Kondisi ini mendorong perubahan perilaku investor global ke arah risk-off, yakni menghindari aset berisiko dan beralih ke instrumen aman (safe haven).

Data pasar menunjukkan Indeks dolar AS (DXY) menguat, imbal hasil (yield) US Treasury naik ke kisaran 4,5–4,6% serta aliran modal ke emerging markets, termasuk Indonesia, menurun.

“Ini ada risiko yang menyebabkan ketidakpastian global, sehingga DXY naik, yield UST juga naik, aliran modal ke emerging markets turun, dan tekanan terhadap nilai tukar meningkat,” jelas Destry.

Konflik Geopolitik Picu Volatilitas Pasar

Secara historis, konflik geopolitik di Timur Tengah memang kerap memicu volatilitas pasar global, terutama sejak krisis minyak 1970-an hingga ketegangan di Selat Hormuz dalam dekade terakhir.

Iran saat ini hanya menyumbang sekitar 5% produksi minyak global. Namun, posisi strategis Selat Hormuz jalur distribusi sekitar 20% suplai minyak dunia menjadi faktor krusial. Gangguan di jalur ini berpotensi menghambat pasokan energi global.

Kegagalan negosiasi gencatan senjata antara AS dan Iran turut memperburuk situasi. Harga minyak dunia dilaporkan melonjak hingga menyentuh USD100 per barel, level yang secara historis sering memicu tekanan inflasi global.

Dampak terhadap Publik dan Pasar

Kenaikan harga minyak berdampak luas, tidak hanya pada sektor energi tetapi juga ke berbagai komoditas lainnya.

Di satu sisi, tekanan terjadi pada nilai tukar rupiah akibat capital outflow ke level Rp17.100, biaya impor energi yang berpotensi meningkat hingga volatilitas pasar saham dan obligasi.

Namun di sisi lain, Indonesia juga mendapatkan potensi keuntungan dari kenaikan harga komoditas ekspor. “Impact-nya ini cukup bagus buat Indonesia, karena kita penghasil batu bara, CPO, dan emas yang bisa kita ekspor,” kata Destry.

Kenaikan harga komoditas yang tercatat meliputi batu bara (seiring kebutuhan energi alternatif global), Crude Palm Oil (CPO), emas sebagai aset safe haven serta logam industri seperti aluminium.

BI menilai situasi ini menciptakan efek dua arah bagi ekonomi Indonesia yakni tekanan di sektor keuangan sekaligus peluang di sektor komoditas.

Nantinya arah pasar akan sangat ditentukan oleh perkembangan geopolitik, khususnya stabilitas di Selat Hormuz, kelanjutan negosiasi AS–Iran serta kebijakan moneter global, terutama suku bunga AS.

Dalam jangka pendek, BI menegaskan akan terus memantau volatilitas pasar dan menjaga stabilitas nilai tukar serta arus modal untuk memitigasi risiko eksternal.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.