Relaksasi SLIK OJK Buka Akses KPR Subsidi, Bos BTN: Biarkan Judgmentnya Diserahkan ke Bank

AKURAT.CO Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru saja menghapus catatan pinjaman di bawah Rp1 juta dari Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK), guna mempermudah masyarakat mengakses Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi.
Selama ini, tunggakan kecil—seringkali berasal dari pinjaman konsumtif bernilai rendah—kerap menjadi penghalang administratif bagi calon pembeli rumah pertama. Tunggakan minor kerap jadi friksi terbesar dalam proses akuisisi debitur.
Merespons kebijakan anyar OJK, Direktur Utama BTN, Nixon L.P. Napitupulu, menilai relaksasi tersebut sebagai respons atas kebutuhan nyata di lapangan, terutama dari sektor perumahan dan kementerian terkait.
Baca Juga: BTN JAKIM 2026 Dongkrak Ekonomi Jakarta, Target Tembus Rp200 Miliar!
Ia menegaskan bahwa penghapusan catatan kredit mikro bisa memperluas basis calon debitur namun tak serta-merta mengorbankan prinsip kehati-hatian bank. Sebaliknya, pelonggaran ini tidak berarti bank kehilangan kendali atas risiko.
BTN menegaskan bahwa SLIK hanya salah satu variabel dalam penilaian kredit. Proses underwriting tetap mengacu pada prinsip 5C (Character, Capacity, Capital, Collateral, Condition) yang menjadi fondasi evaluasi kelayakan debitur.
Artinya, kemampuan bayar tetap menjadi penentu utama. Bahkan dengan rekam jejak kredit yang bersih, debitur dengan profil pendapatan yang tidak memadai tetap berisiko ditolak. "Jadi biarkan diserahkan ke bank judmentnya," ujar Nixon di Jakarta, Rabu (15/4/2026).
Ditambahkan Nixon, tak semua tunggakan kecil dengan nominal di bawah Rp1 juta merupakan "korban" dari sistem pinjaman yang salah. Tunggakan yang kecil namun tersebar di berbagai lembaga keuangan maupun pindar bisa mencerminkan perilaku keuangan yang tak baik.
Ketika kelompok ini masuk ke dalam pembiayaan jangka panjang seperti KPR, potensi kerentanan dan potensi gagal bayar tetap perlu diantisipasi. "Karena ternyata banyak juga yang tunggakannya nilainya di bawah Rp1 juta ini punya lebih dari 1 rekening, semuanya NPL (kredit bermasalah)," tuturnya.
Apresiasi Dukungan Pemerintah ke Pembiayaan Perumahan
Nixon juga mengapresiasi dukungan solid yang selama ini diberikan Pemerintah untuk industri pembiayaan perumahan nasional.
Sejalan dengan capaian tersebut, BTN terus menjalankan noble purpose dalam mendukung masyarakat memiliki rumah dengan menyalurkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) mencapai 6 juta unit sejak 1976 hingga awal April 2026 atau senilai Rp530 triliun.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan capaian tersebut tidak terlepas dari keberpihakan Pemerintah kepada rakyat khususnya masyarakat menengah ke bawah. Dari 6 juta rumah tersebut, jika satu rumah 4 orang maka total ada 24 juta orang yang akhirnya bisa memiliki rumah layak huni.
Pihaknya berterima kasih karena keberpihakan Pemerintah yang menempatkan sektor perumahan sebagai program prioritas nasional yang pro-rakyat menjadi fondasi penting dalam mendorong peningkatan kualitas hidup masyarakat.
"Bagi BTN, hal ini bukan hanya memperkuat kinerja bisnis secara berkelanjutan dan sesuai prinsip GCG (good corporate governance), tetapi juga menjadi pendorong kami untuk terus memperkuat peran sebagai mitra strategis Pemerintah terutama dalam memenuhi kebutuhan hunian layak bagi masyarakat,” ujar Nixon.
Nixon melanjutkan, keberpihakan pada perumahan memiliki multiplier effect yang besar, tidak hanya bagi penghuni rumah tapi juga bagi perekonomian nasional.
Dia merinci, sektor perumahan merupakan sektor padat modal yang membutuhkan tenaga kerja lokal baik dari pengembang hingga tukang. Kemudian, untuk membangun rumah, 90% bahan bakunya berasal dari produk lokal. Selain itu, dari setiap rumah yang terjual, ada pendapatan negara berupa pajak.
“Dari sektor perumahan nasional bisa membuka peluang pekerjaan terhadap 12,5 juta orang di seluruh sektor terkait dan setiap tambahan capital injection sebesar Rp1 triliun di industri ini akan menambah keterlibatan tenaga kerja sebanyak 8.000 orang,” jelas Nixon.
Cetak Pertumbuhan Laba Bersih 22,6 Persen di Kuartal I-2026
Sementara itu, pertumbuhan laba bersih BTN mencapai 22,6% secara tahunan (year-on-year/yoy) per kuartal I-2026, menjadi Rp1,1 triliun dari posisi sebelumnya dari Rp904 miliar.
Per kuartal I-2026, BTN mencatatkan penyaluran kredit senilai total Rp400,63 triliun atau naik 10,3% yoy dari Rp363,11 triliun. Dari total penyaluran kredit tersebut, di segmen KPR Subsidi, BTN merekam telah menyalurkan kredit senilai Rp193,55 triliun per kuartal I-2026 atau naik 7,7% yoy dari Rp179,70 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya.
Kemudian, untuk segmen KPR Non-Subsidi, posisi kredit telah mencapai Rp112,56 triliun per kuartal I-2026 atau naik 5,4% yoy dari Rp106,81 triliun.
Sejalan dengan pertumbuhan kredit, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) BTN juga tumbuh positif sebesar 9,9% yoy menjadi Rp422,63 triliun per kuartal I-2026 dari Rp384,70 triliun di periode yang sama tahun lalu.
Current account and savings account (CASA) BTN juga terus menunjukkan peningkatan sejalan dengan transformasi di segmen retail dan kehadiran bale by btn. Per kuartal I-2026, CASA BTN tercatat naik 7,9% yoy menjadi Rp212,11 triliun atau menempati porsi 50,2% dari total DPK.
Cost of Fund (CoF) BTN pun membaik ke level 3,0% per kuartal I-2026 atau turun dari 4,0% di periode yang sama tahun lalu. Kinerja kredit dan DPK tersebut juga ikut menopang peningkatan aset BTN sebesar 10,5% yoy menjadi Rp517,54 triliun per kuartal I-2026 dari Rp468,53 triliun.
Tentunya kinerja positif ini tidak terlepas dari dukungan Danantara Indonesia dan BP BUMN yang terus mendorong BTN dalam menjalankan noble purpose kami sebagai motor penggerak pembiayaan perumahan nasional sekaligus tetap memberikan kinerja yang optimal dan berkelanjutan bagi para shareholders,” tutur Nixon.
Transaksi Digital Naik 67,5 Persen
Sementara itu, di kuartal pertama tahun ini, pengguna bale by BTN juga melonjak sebesar 67,5% yoy menjadi 4 juta pengguna dari 2,4 juta pengguna di kuartal I-2025.
Peningkatan jumlah pengguna tersebut juga diikuti pertumbuhan positif rata-rata saldo tabungan, jumlah, dan nilai transaksi yang masing-masing melesat sebesar 18% yoy, 8,1% yoy, dan 48,2% yoy per kuartal I-2026.
Menurut Nixon, salah satu penopang utama peningkatan signifikan tersebut yakni acara BTN Jakarta International Marathon (JAKIM) 2026.
BTN JAKIM menjadi salah satu pendongkrak peningkatan signifikan untuk transaksi dan pengguna bale, karena perseroan menyadari sebagai consumer bank, perseroan perlu terus menghadirkan berbagai kemudahan transaksi perbankan untuk mendukung berbagai aktivitas gaya hidup masyarakat termasuk olahraga.
"Tahun ini sendiri, kami optimistis membidik jumlah pengguna bale naik menjadi 5 juta," kata Nixon.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










