IMK Maret 2026 Turun ke 79,5, LPS: Kemampuan Menabung Konsumen Turun

AKURAT.CO Indeks Menabung Konsumen (IMK) tercatat pada level 79,5 pada bulan Maret 2026, menurun 3,9 poin dari posisi bulan sebelumnya.
Hasil Survei Konsumen dan Perekonomian (SKP) LPS juga menunjukkan penurunan pada dua komponen IMK, yaitu Indeks Kemampuan Menabung (IKPM) dan Indeks Kemauan Menabung (IKMM), pada waktu yang sama. IKPM turun 3,0 poin menjadi 72,0, sedangkan IKMM turun 4,8 poin menjadi 87,1.
Penurunan IMK tersebut menunjukkan kemauan dan kemampuan menabung konsumen yang menurun, seiring dengan pengeluaran konsumsi untuk kebutuhan hari raya Idulfitri serta meningkatnya pengeluaran tak terduga.
Pelemahan komponen IKPM terjadi seiring dengan penurunan porsi responden yang menyatakan sering menabung dari 19,0% di bulan Februari 2026 menjadi 17,7% di bulan Maret 2026. Pada periode yang sama, porsi responden yang menilai bahwa jumlah yang ditabung lebih kecil dari yang direncanakan mengalami peningkatan dari 35,5% menjadi 40,7%.
Di samping itu, komponen IKMM mengalami pelemahan seiring dengan peningkatan persentase responden yang menilai bahwa saat ini bukan waktu yang tepat untuk menabung (53,7% vs. 48,1% pada Februari 2026).
Di periode yang sama, persentase responden yang menyatakan bahwa tiga bulan mendatang bukan waktu yang tepat untuk menabung turut mengalami peningkatan (33,9% vs 31,4% pada Februari 2026).
Pergerakan IMK pada sebagian kelompok rumah tangga (RT) cenderung menurun pada Maret 2026. Penurunan IMK paling dalam terlihat pada kelompok RT berpendapatan Rp1,5 juta–Rp3 juta/bulan (-6,1 poin), diikuti IMK RT berpendapatan berpendapatan hingga Rp1,5 juta/bulan (-2,6 poin), dan IMK RT berpendapatan di atas Rp3 juta–Rp7 juta/bulan (-2,0 poin).
Di sisi lain, IMK RT berpendapatan di atas Rp7 juta/bulan tetap stabil di atas level 100, dan menguat 3,3 poin pada bulan Maret 2026.
Persepsi Konsumen Kembali Melemah
Hasil SKP LPS juga menunjukkan pelemahan Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) pada bulan Maret 2026. IKK menurun 7,0 poin di bulan Maret 2026 ke level 91,8 dari level 98,8 pada bulan sebelumnya, serta membukukan level terendah sejak bulan Oktober 2025.
Hal ini mengindikasikan turunnya persepsi konsumen dalam menilai kondisi perekonomian, terutama disebabkan oleh melemahnya penilaian terhadap kondisi ekonomi lokal dan lapangan kerja saat ini. Hal ini terjadi di tengah persepsi konsumen yang tetap optimis terhadap prospek ekonomi dan pendapatannya pada masa mendatang.
Pada Maret 2026, Indeks Situasi Saat Ini (ISSI) dan Indeks Ekspektasi (IE) masing-masing melemah 7,0 poin ke level 72,2 dan 106,5. Meskipun menurun, level IE yang masih berada di atas nilai 100 menunjukkan bahwa optimisme terhadap prospek ekonomi ke depan masih terjaga.
Selain karena kenaikan harga bahan pokok dan sulitnya lapangan kerja, penurunan IKK juga dipengaruhi sejumlah faktor, seperti harga jual panen yang menurun, panen yang gagal, harga pupuk yang mahal, serta adanya banjir.
Kenaikan permintaan barang selama bulan puasa dan Lebaran mendorong kenaikan harga bahan pangan, sedangkan penyesuaian harga BBM nonsubsidi dan tarif angkutan antarkota mendorong akselerasi inflasi pada kelompok transportasi.
Jika ditinjau berdasarkan kelompok pendapatan, pada Maret 2026, IKK pada hampir seluruh kelompok pendapatan rumah tangga (RT) mengalami penurunan pada bulan Maret 2026 dari bulan sebelumnya.
IKK RT berpendapatan di atas Rp1,5 juta–Rp3 juta/bulan (-7,4 poin) turun paling besar, diikuti IKK RT berpendapatan Rp3 juta–Rp7 juta/bulan (-7,3 poin), dan IKK RT berpendapatan di atas Rp7 juta/bulan (-4,1 poin). Di sisi lain, IKK RT berpendapatan hingga Rp1,5 juta/bulan cenderung stabil (+0,1 poin).
IKK RT berpendapatan di atas Rp7 juta/bulan masih berada di atas level 100, yang menunjukkan terjaganya optimisme kelompok RT ini dalam menilai kondisi perekonomian.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









