BEI Implementasikan Kuotasi Liquidity Provider Saham Demi Perdalam Likuiditas Pasar

AKURAT.CO PT Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi memulai implementasi kuotasi Liquidity Provider saham pada Senin (20/4/2026), ditandai dengan pelaksanaan perdana oleh Phintraco Sekuritas sebagai Anggota Bursa (AB).
Langkah ini menjadi strategi baru BEI untuk memperbaiki likuiditas perdagangan, khususnya pada saham dengan frekuensi transaksi rendah.
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy, menyatakan bahwa keterlibatan AB sebagai Liquidity Provider menjadi elemen krusial dalam meningkatkan kualitas pasar.
“Partisipasi aktif AB sebagai Liquidity Provider saham merupakan elemen penting dalam meningkatkan likuiditas dan kualitas pembentukan harga (price discovery),” ujar Irvan di Jakarta, Senin (20/4/2026).
Baca Juga: BEI Coret 18 Emiten dari Bursa, Ini Daftar Lengkapnya
Pada tahap awal, Phintraco Sekuritas memberikan kuotasi beli dan jual pada lima saham, yakni PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), PT Trans Power Marine Tbk (TPMA), PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU), dan PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS).
BEI menegaskan bahwa kehadiran Liquidity Provider bertujuan mempersempit bid-ask spread, meningkatkan market depth, serta mempermudah eksekusi transaksi investor.
“Kehadiran Liquidity Provider saham berperan penting untuk meningkatkan kualitas perdagangan melalui penyempitan bid-ask spread, peningkatan kedalaman pasar, serta mendukung kemudahan transaksi bagi investor,” kata Irvan.
Implementasi Liquidity Provider merupakan bagian dari upaya pendalaman pasar modal Indonesia yang selama ini menghadapi tantangan likuiditas, terutama pada saham lapis kedua dan ketiga.
Berdasarkan data BEI dalam beberapa tahun terakhir, likuiditas perdagangan masih terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar dalam indeks utama seperti LQ45.
Sebagai perbandingan, data BEI menunjukkan kontribusi nilai transaksi harian masih didominasi oleh kurang dari 30 saham aktif, sementara ratusan saham lainnya relatif minim aktivitas.
Kondisi ini berdampak pada lebar spread harga dan volatilitas yang lebih tinggi. Secara global, skema Liquidity Provider atau market maker telah lama diterapkan di berbagai bursa besar seperti NYSE dan Nasdaq untuk menjaga stabilitas harga dan likuiditas pasar.
Implementasi ini berpotensi meningkatkan efisiensi perdagangan, terutama bagi investor ritel yang sering menghadapi kendala likuiditas pada saham tertentu.
Dengan adanya kuotasi aktif dari Liquidity Provider, investor dapat melakukan transaksi dengan spread harga yang lebih kompetitif.
Selain itu, peningkatan likuiditas juga dinilai dapat memperkuat kepercayaan investor, baik domestik maupun asing. Data BEI mencatat, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) pasar saham Indonesia berada di kisaran Rp10–13 triliun sepanjang 2025, namun distribusinya belum merata.
Dari sisi emiten, program ini membuka peluang bagi saham dengan fundamental baik namun kurang likuid untuk mendapatkan perhatian pasar lebih luas.
BEI menargetkan partisipasi lebih banyak Anggota Bursa dalam program ini ke depan. Evaluasi berkala serta pemberian insentif disiapkan untuk memastikan implementasi berjalan optimal.
“Kami berharap keberhasilan pelaksanaan kuotasi perdana ini dapat menjadi katalis bagi AB lainnya untuk turut berpartisipasi, sehingga ekosistem perdagangan menjadi semakin likuid, kredibel, dan berdaya saing,” ujar Irvan.
Efektivitas skema Liquidity Provider akan menjadi indikator penting dalam upaya BEI meningkatkan daya tarik pasar modal Indonesia di tingkat regional, sekaligus memperdalam struktur pasar yang lebih inklusif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









