Akurat
Pemprov Sumsel

AUM Reksa Dana Tumbuh 3 Persen di Tengah Pelemahan IHSG, Investor Maksimalkan Momentum Koreksi Pasar

Esha Tri Wahyuni | 20 April 2026, 23:31 WIB
AUM Reksa Dana Tumbuh 3 Persen di Tengah Pelemahan IHSG, Investor Maksimalkan Momentum Koreksi Pasar
Ilustrasi reksa dana

AKURAT.CO Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat anomali di pasar modal domestik yaitu saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terkoreksi dalam, industri reksa dana justru mencatat pertumbuhan. 

OJK menilai fenomena ini mencerminkan perubahan perilaku investor yang mulai memanfaatkan momentum koreksi pasar.

Kepala Departemen Pengawasan Pengelolaan Investasi dan Pasar Modal Regional OJK, M. Maulana, menyebut bahwa secara year-to-date IHSG sempat turun hingga sekitar 19%, namun kondisi tersebut tidak diikuti pelemahan pada reksa dana.

Baca Juga: Xdana Tutup Usaha di Tengah Pertumbuhan AUM Industri Reksa Dana

“Kalau kita lihat secara umum, indeks kan sebenarnya sudah turun cukup dalam dari awal tahun, pernah sampai minus 19 persen, lalu sekarang sudah naik lagi. Tapi reksa dana itu malah tumbuh,” ujar Maulana saat ditemui usai Road to Pekan Reksa Dana di BEI, Senin (20/4/2026).

Maulana menambahkan, aset under management (AUM) reksa dana tercatat meningkat sekitar 3% dalam periode yang sama.

“Artinya apa? Investor sudah sadar bahwa kalau ada saham-saham yang murah dan bagus, ya dibeli. Jadi ini waktunya membeli bagi reksa dana,” katanya.

Dari sisi basis investor, OJK juga mencatat lonjakan signifikan. Jumlah investor reksa dana yang pada Desember sebelumnya sekitar 20 juta, kini telah meningkat menjadi 23,5 juta investor per April.

“Cepat sekali kenaikannya. Apalagi kalau kita percepat dengan program yang sedang disiapkan,” ujar Maulana.

Secara historis, industri reksa dana di Indonesia masih tergolong dangkal dibandingkan negara kawasan. OJK mencatat kontribusi pasar modal terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia masih sekitar 4%, jauh di bawah negara tetangga di Asia Tenggara.

Kondisi ini menjadi dasar regulator untuk mendorong pendalaman pasar (market deepening), termasuk melalui penguatan sektor pengelolaan investasi seperti reksa dana, efek beragun aset (EBA), dana investasi real estat (DIRE), hingga instrumen infrastruktur.

Di sisi lain, data dari Infovesta menunjukkan sempat terjadi penurunan AUM pada beberapa jenis reksa dana, khususnya reksa dana pendapatan tetap. Namun OJK menilai penurunan tersebut bersifat sementara.

“Kalau ada penurunan, bagi investor yang rasional justru melihat ini sebagai peluang beli. Jadi sifatnya sementara,” kata Maulana.

Fenomena ini mengindikasikan pergeseran perilaku investor domestik yang semakin rasional dan berorientasi jangka panjang. Dalam kondisi pasar terkoreksi, investor tidak lagi panik keluar, tetapi memanfaatkan harga yang lebih rendah untuk akumulasi.

Bagi industri, tren ini berpotensi meningkatkan stabilitas pasar keuangan domestik. Basis investor yang lebih luas dan perilaku investasi yang lebih matang dapat mengurangi volatilitas ekstrem saat terjadi tekanan global.

Di sisi lain, peningkatan jumlah investor juga membuka peluang pembiayaan yang lebih besar bagi sektor korporasi dan proyek publik melalui pasar modal.

“Targetnya adalah meningkatkan jumlah investor dan AUM agar bisa menjadi sumber pembiayaan bagi sektor korporasi dan publik,” jelas Maulana.

Untuk mempercepat pendalaman pasar, OJK tengah menyiapkan sejumlah inisiatif, termasuk peluncuran produk baru seperti Dana Investasi Terproteksi berbasis ekosistem bullion (DIT Ekosistem).

Regulasi terkait produk tersebut telah diterbitkan melalui POJK Nomor 2 Tahun 2026 dan saat ini masih dalam tahap koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk perbankan bullion seperti Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia.

“Ini salah satu upaya untuk memperdalam market di Indonesia. Kami harapkan bisa mendorong peningkatan jumlah investor dan likuiditas pasar,” ujar Maulana.

OJK menargetkan implementasi produk tersebut dapat terealisasi dalam tahun ini, seiring dengan koordinasi lintas lembaga yang masih berlangsung.

Dengan kombinasi pertumbuhan investor, inovasi produk, dan strategi pendalaman pasar, OJK menilai potensi industri reksa dana masih terbuka lebar untuk mengejar ketertinggalan dari negara kawasan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.