IHSG Naik 22 Persen, Investor Reksa Dana Pilih Instrumen Aman

AKURAT.CO Kinerja industri reksa dana sepanjang 2025 mencatat hasil positif, namun terjadi pergeseran signifikan pada preferensi investor.
Di tengah imbal hasil tinggi reksa dana saham, aliran dana justru menguat ke instrumen yang lebih konservatif seperti pendapatan tetap dan pasar uang.
Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) mencatat, reksa dana saham membukukan imbal hasil tertinggi sebesar 17,23% hingga akhir 2025.
Baca Juga: Ajaib, Solusi All-in-One untuk Investasi Saham, Reksadana, Kripto Hingga Saham AS
Disusul reksa dana campuran 12,48%, pendapatan tetap 6,96%, dan pasar uang 3,18%.
Ketua Presidium APRDI, Lolita Lilana, mengatakan kinerja tersebut sejalan dengan penguatan pasar saham domestik.
“Capaian kinerja reksa dana saham selaras dengan penguatan pasar saham domestik, dimana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tumbuh 22,13 persen di sepanjang 2025,” ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Namun, dari sisi dana kelolaan atau asset under management (AUM), pertumbuhan terbesar justru terjadi pada reksa dana pendapatan tetap yang melonjak 67,04%, diikuti pasar uang 60,03%, reksa dana terproteksi 11,15%, dan reksa dana saham hanya 3,51%. Sementara itu, reksa dana indeks mencatat kontraksi sebesar 1,64%.
Secara historis, pergerakan dana di industri reksa dana kerap dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi dan tingkat risiko global. Dalam beberapa tahun terakhir, ketidakpastian pasar keuangan global, termasuk fluktuasi suku bunga dan tensi geopolitik, mendorong investor domestik cenderung memilih instrumen dengan volatilitas lebih rendah.
Data APRDI menunjukkan pola 2025 menguatkan tren tersebut, di mana investor tidak sepenuhnya mengejar return tinggi, tetapi lebih mempertimbangkan stabilitas dan likuiditas portofolio.
Baca Juga: Cara Mengoptimalkan Reksa Dana untuk Pensiun Dini, Langkah Bijak Mempersiapkan Masa Depan
Pergeseran preferensi ini berdampak pada struktur industri reksa dana nasional. Dominasi pertumbuhan pada produk pendapatan tetap dan pasar uang mengindikasikan profil risiko investor ritel yang masih berada pada level konservatif hingga moderat.
Di sisi lain, kondisi ini berpotensi menahan optimalisasi penghimpunan dana pada instrumen berbasis saham, meskipun pasar ekuitas mencatat kinerja positif. Bagi pelaku industri, dinamika ini menjadi sinyal perlunya strategi distribusi dan edukasi yang lebih adaptif.
APRDI menilai peningkatan literasi menjadi faktor kunci untuk menjaga momentum industri. “Penguatan literasi merupakan kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan industri,” kata Lolita.
“Di Jakarta, kami menyelenggarakan kelas edukasi bagi jurnalis sebagai bagian dari upaya memperkuat literasi investasi reksa dana di kalangan media, sehingga dapat mendorong penyampaian informasi investasi secara akurat dan kredibel kepada masyarakat,” katanya.
APRDI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self Regulatory Organization (SRO) akan melanjutkan program edukasi melalui rangkaian SOSEDU 2026 dan kampanye #ReksaDanaAja di berbagai kota.
Puncaknya akan digelar dalam Pekan Reksa Dana pada 25 April hingga 1 Mei 2026 di Bursa Efek Indonesia.
Dengan tren preferensi investor yang semakin berhati-hati, penguatan literasi dan transparansi produk dinilai menjadi faktor penentu dalam mendorong pertumbuhan industri reksa dana secara berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini











