Akurat
Pemprov Sumsel

Dari Cost Overrun ke Risk Sharing, Pelajaran Mahal dari Proyek Whoosh

Andi Syafriadi | 22 April 2026, 15:30 WIB
Dari Cost Overrun ke Risk Sharing, Pelajaran Mahal dari Proyek Whoosh
Ilustrasi Kereta Whoosh (Dok: Whoosh)

AKURAT.CO Rampungnya restrukturisasi utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) bukan hanya soal penyelesaian finansial, tetapi juga membuka refleksi besar terhadap tata kelola proyek infrastruktur di Indonesia.

Proyek ini menjadi contoh nyata bagaimana kelemahan pengawasan dapat berujung pada pembengkakan biaya dalam skala besar.

Hal tersebut diakui secara langsung oleh Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa bahwa akar persoalan Whoosh bukan pada desain proyek, melainkan pada lemahnya kontrol selama pelaksanaan.

“Ketika ada masalah, tidak ada yang menangani. Akhirnya terjadi cost overrun berpuluh triliun rupiah,” ucapnya.

Baca Juga: Pemerintah Rampungkan Restrukturisasi Whoosh, Ini Dampaknya

Data menunjukkan bahwa proyek ini mengalami lonjakan biaya dari sekitar USD6 miliar menjadi lebih dari USD7 miliar. Selisih tersebut menjadi beban tambahan yang harus diselesaikan melalui restrukturisasi pembiayaan.

Fenomena ini bukan kasus tunggal. Dalam berbagai proyek infrastruktur global, cost overrun sering terjadi akibat kombinasi faktor seperti perencanaan yang kurang matang, perubahan desain, serta lemahnya koordinasi antar lembaga.

Di Indonesia, persoalan koordinasi antarinstansi juga menjadi salah satu faktor yang disebut pemerintah.

Namun, pelajaran terbesar dari proyek Whoosh adalah pentingnya sistem pengawasan yang kuat sejak tahap awal.

Dalam konteks tersebut, restrukturisasi utang menjadi solusi jangka menengah. Tetapi untuk jangka panjang, pemerintah mulai mendorong perubahan pendekatan melalui skema berbagi risiko.

Model risk sharing (Pembagian porsi antara konsorsium Indonesia dan konsorsium China) dinilai lebih sehat karena tidak membebankan seluruh risiko pada satu pihak.

Baca Juga: Whoosh Angkut 311 Ribu Penumpang saat Lebaran 2026, Naik 7 Persen

Selain itu, pendekatan ini juga mendorong disiplin dalam pengelolaan proyek, karena setiap pihak memiliki kepentingan langsung terhadap kinerja proyek.

Di sisi lain, dari perspektif utilisasi, Whoosh mulai menunjukkan perkembangan positif.

Dengan lebih dari 15 juta penumpang sejak awal operasi, proyek ini memiliki potensi ekonomi, terutama dalam meningkatkan konektivitas Jakarta - Bandung yang sebelumnya memakan waktu 3 jam lebih menjadi sekitar 40 menit.

Meski demikian, tantangan utama tetap pada keberlanjutan finansial.

Pendapatan operasional harus mampu mengejar beban investasi yang besar, sesuatu yang tidak mudah untuk proyek transportasi berbasis rel berkecepatan tinggi.

Karena itu, evaluasi terhadap proyek Whoosh menjadi penting sebagai pembelajaran bagi proyek strategis nasional lainnya. Sebab tanpa adanya perbaikan tata kelola, risiko serupa pun berpotensi akan terulang kembali.

Sebaliknya, jika pelajaran ini direspons dengan reformasi sistem pengawasan dan pembiayaan, Indonesia dapat membangun fondasi yang lebih kuat untuk proyek infrastruktur di masa depan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.