Akurat Logo

BRI Salurkan Kredit UMKM Rp1.211 Triliun di Kuartal I-2026, NPL Terjaga

Esha Tri Wahyuni | 30 April 2026, 14:04 WIB
BRI Salurkan Kredit UMKM Rp1.211 Triliun di Kuartal I-2026, NPL Terjaga
Direktur Finance & Strategy BRI, Achmad Royadi

AKURAT.CO PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mencatatkan pertumbuhan kredit dan pembiayaan sebesar 13,7% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp1.562 triliun hingga akhir kuartal I-2026.

Di tengah ekspansi tersebut, kualitas kredit justru menunjukkan perbaikan, ditandai dengan penurunan rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) menjadi 3,01%.

Direktur Finance & Strategy BRI, Achmad Royadi, menyampaikan bahwa struktur kredit perseroan masih didominasi segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mencapai Rp1.211 triliun atau mayoritas dari total portofolio.

Baca Juga: BRI Ungkap Potensi Risiko Baru Yang Dihadapi Nasabah UMKM Saat Ini

“Secara komposisi, UMKM mendominasi struktur kredit dan pembiayaan perseroan dengan penyaluran mencapai Rp1.211 triliun. Model bisnis BRI yang berfokus pada segmen UMKM memberikan keunggulan tersendiri dari sisi manajemen risiko,” ujar Achmad di sela Public Expose Kinerja Keuangan BRI Kuartal I-2026, Kamis (30/4/2026).

Achmad menegaskan bahwa penyebaran kredit yang granular ke jutaan debitur mikro dengan plafon kecil membuat risiko lebih terdiversifikasi dan tidak terkonsentrasi pada segmen tertentu.

“Portofolio pembiayaan tersebar luas di jutaan nasabah mikro dengan plafon relatif kecil, sehingga menciptakan diversifikasi risiko yang sangat granular. Dengan struktur seperti ini, potensi risiko kredit menjadi lebih terdistribusi dan tidak terkonsentrasi,” tambahnya.

Kualitas Aset Membaik

Direktur Manajemen Risiko BRI, Ety Yuniarti, mengungkapkan bahwa perbaikan kualitas kredit terjadi secara konsisten sejak akhir 2025. Rasio NPL tercatat turun dari 3,07% pada Desember 2025 menjadi 3,01% pada Maret 2026.

“Penurunan rasio NPL tersebut menunjukkan bahwa strategi pengelolaan risiko yang dijalankan selama tahun 2025 mulai berjalan efektif,” jelas Ety.

Selain itu, indikator risiko yang lebih forward looking yakni Loan at Risk (LAR) juga menunjukkan tren positif. Rasio LAR turun dari 11,13% pada Maret 2025 menjadi 9,67% pada Maret 2026 atau turun sekitar 150 basis poin.

“Penurunan ini mencerminkan semakin membaiknya kualitas booking kredit baru, terutama di segmen ritel yang sebelumnya menghadapi tantangan kualitas,” ujarnya.

Dari sisi mitigasi risiko, BRI juga menjaga rasio pencadangan pada level tinggi. NPL coverage tercatat hampir 180%, sementara LAR coverage berada di kisaran 55%.

UMKM Jadi Tulang Punggung

Fokus BRI pada UMKM bukan strategi baru. Secara historis, BRI dikenal sebagai bank dengan eksposur terbesar di segmen mikro dan ultra mikro di Indonesia, termasuk sebagai penyalur utama Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Data Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa sepanjang 2025, penyaluran KUR nasional mencapai lebih dari Rp260 triliun, dengan porsi terbesar disalurkan oleh BRI. BRI menjadikan ini sebagai katalis penting dalam mendorong inklusi keuangan dan penciptaan lapangan kerja.

Achmad menegaskan bahwa model bisnis ini tidak hanya berdampak sosial, tetapi juga terbukti resilien secara finansial.

“Segmen UMKM tidak hanya menjadi strategi dalam mendukung inklusi keuangan, tetapi juga fondasi penting dalam menjaga stabilitas dan keberlanjutan kinerja bank,” ujarnya.

Likuiditas Melonggar

Dari sisi likuiditas, BRI mencatat Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 87%, yang masih berada dalam rentang ideal industri perbankan.

Sementara itu, efisiensi pendanaan terlihat dari penurunan cost of fund dari 3% pada kuartal I 2025 menjadi 2,3% pada kuartal I 2026, atau turun 65 basis poin.

“Penurunan ini mencerminkan efektivitas strategi BRI dalam mengoptimalkan struktur funding, khususnya melalui peningkatan porsi dana murah,” kata Achmad.

Rasio dana murah (CASA) meningkat dari 65,7% menjadi 68,1%, dengan total mencapai Rp1.058 triliun. Secara keseluruhan, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 9,4% yoy menjadi Rp1.555 triliun.

Menariknya, untuk pertama kalinya dalam sejarah, tabungan BRI menembus Rp600 triliun, tepatnya Rp605,8 triliun.

“Pencapaian ini menunjukkan tingginya kepercayaan nasabah serta efektivitas transformasi layanan dalam mendorong akuisisi dan retensi dana,” ujarnya.

Ekspansif, BRI Siap Dorong UMKM

Dari sisi permodalan, Capital Adequacy Ratio (CAR) BRI berada di level 22,9%, jauh di atas ketentuan minimum regulator untuk bank sistemik sekitar 14,7%.

Dengan posisi tersebut, BRI dinilai memiliki ruang ekspansi yang cukup besar, sekaligus buffer untuk mengantisipasi potensi risiko di tengah dinamika ekonomi global.

“Struktur permodalan BRI saat ini memberikan ruang yang fleksibel untuk mendorong pertumbuhan kredit, khususnya di segmen UMKM dan pembiayaan produktif, tanpa mengorbankan prinsip kehati-hatian,” kata Achmad.

Perbaikan kualitas kredit di tengah pertumbuhan dua digit menjadi sinyal penting bagi industri perbankan, terutama di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung hingga 2026.

Kombinasi antara ekspansi kredit, penurunan risiko, serta likuiditas dan permodalan yang kuat menunjukkan bahwa model bisnis berbasis UMKM masih mampu menjadi penopang stabilitas sektor keuangan domestik.

Selain itu, peningkatan penyaluran kredit UMKM juga berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi riil, mengingat sektor ini menyerap lebih dari 90% tenaga kerja di Indonesia berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).

BRI juga menegaskan akan menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan pengelolaan risiko, seiring dengan upaya mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.