Akurat Logo

OJK: Investor Pasar Modal Tembus 26 Juta di Tengah Tekanan IHSG

Esha Tri Wahyuni | 7 Mei 2026, 19:32 WIB
OJK: Investor Pasar Modal Tembus 26 Juta di Tengah Tekanan IHSG
OJK mencatat investor pasar modal RI menembus 26 juta meski IHSG terkoreksi 18,49% pada kuartal I-2026 akibat tekanan global.

AKURAT.CO Pasar modal Indonesia menghadapi tekanan sepanjang kuartal I-2026 di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Namun di balik koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), jumlah investor domestik justru terus bertambah dan menjadi penyangga utama stabilitas pasar.

Ketua Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi mengatakan IHSG ditutup di level 7.048,22 per 31 Maret 2026. Secara kuartalan, indeks terkoreksi 18,49%, meski masih tumbuh positif 8,26% secara tahunan atau year on year (yoy).

Baca Juga: Rupiah dan IHSG: Kenapa Pasar Naik Tapi Mata Uang Terus Melemah?

“Memasuki Mei 2026, IHSG menunjukkan tren penguatan dan per 5 Mei ditutup pada level 7.057,11 atau terapresiasi 1,44% secara month to date,” ujar Friderica dalam konferensi pers KSSK di Jakarta, Kamis (7/5/2026).

Di tengah volatilitas pasar global, OJK mencatat jumlah investor pasar modal terus meningkat. Pada kuartal I-2026, jumlah single investor identification (SID) mencapai 24,7 juta dan terbaru sudah menembus 26 juta investor.

Menurut OJK, pertumbuhan investor tersebut menunjukkan tingkat kepercayaan investor domestik terhadap pasar modal Indonesia masih terjaga. Peningkatan investor ritel juga menjadi bantalan penting ketika pasar global mengalami tekanan akibat ketidakpastian suku bunga global dan perlambatan ekonomi dunia.

Selain pertumbuhan investor, aktivitas penghimpunan dana di pasar modal juga masih kuat. Hingga 5 Mei 2026, nilai fundraising korporasi di pasar modal mencapai Rp59,35 triliun secara year to date.

Mayoritas penghimpunan dana berasal dari penerbitan efek bersifat utang dan sukuk yang mencapai Rp58,9 triliun. Kondisi ini menunjukkan korporasi domestik masih aktif mencari pendanaan melalui pasar keuangan di tengah ketatnya likuiditas global.

Seperti yang diketahui, pasar modal Indonesia sempat mengalami tekanan serupa saat pandemi COVID-19 dan periode kenaikan suku bunga agresif bank sentral Amerika Serikat pada 2022-2023.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, basis investor domestik terus tumbuh signifikan dan mulai mengurangi ketergantungan pasar terhadap aliran modal asing.

Data OJK menunjukkan penetrasi investor pasar modal melonjak dibanding sebelum pandemi yang masih berada di bawah 5 juta investor. Lonjakan investor ritel didorong digitalisasi pembukaan rekening efek dan meningkatnya literasi keuangan.

Baca Juga: Gagal Bertahan di 7.000, IHSG Tertekan Aturan Diskon Aplikator

Di sisi lain, OJK juga tengah melanjutkan reformasi pasar modal melalui delapan rencana aksi penguatan integritas pasar. Salah satu kebijakan yang masih dalam tahap implementasi adalah pengaturan free float saham.

OJK menilai penguatan pasar modal masih akan ditopang oleh reformasi regulasi, pertumbuhan investor domestik, dan kebutuhan pendanaan korporasi yang tetap tinggi sepanjang 2026.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.