Akurat Logo

Kurangi Ketergantungan Dolar AS, Yuan-Rupiah Makin Didorong

Esha Tri Wahyuni | 7 Mei 2026, 21:32 WIB
Kurangi Ketergantungan Dolar AS, Yuan-Rupiah Makin Didorong
Gubernur BI, Perry Warjiyo (AKURAT.CO/Esha Tri Wahyuni)

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) mulai mempercepat strategi diversifikasi mata uang perdagangan dan transaksi internasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik Timur Tengah dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS).

Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan Indonesia kini mulai memperluas penggunaan transaksi mata uang lokal, termasuk penguatan skema perdagangan yuan-rupiah di pasar domestik.

“Pasar domestik antara renminbi dengan rupiah terus berjalan. Ini sebagai langkah lanjut diversifikasi mata uang perdagangan dari dolar ke yen, ke yuan,” kata Perry dalam konferensi pers KSSK di Jakarta, Kamis (7/5/2026).

Baca Juga: Intip Kisah Desa Banyuanyar, Desa Ramah Lingkungan yang Terus Maju Lewat Pemberdayaan Desa BRILian

Langkah tersebut muncul di tengah tekanan global yang meningkat akibat konflik geopolitik dan volatilitas pasar keuangan dunia. Meski demikian, Perry memastikan ketahanan eksternal Indonesia masih tetap kuat.

BI mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Januari-Maret 2026 masih surplus sebesar USD5,5 miliar. Surplus terutama ditopang oleh kinerja perdagangan nonmigas.

Tak hanya itu, arus modal asing juga kembali masuk ke pasar keuangan domestik. Hingga 30 April 2026, tercatat aliran modal asing masuk mencapai USD3,3 miliar, terutama ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Perbendaharaan Negara (SPN).

Angka tersebut berbalik arah dibanding triwulan I 2026 yang sempat mencatat arus keluar modal asing sebesar USD1,7 miliar.

“Nilai tukar rupiah juga stabil dengan langkah-langkah Bank Indonesia. Tingkat pelemahan rupiah masih sebanding dengan negara-negara lain,” ujar Perry.

Di sisi cadangan devisa, posisi Indonesia juga dinilai masih sangat memadai. Hingga akhir Maret 2026, cadangan devisa tercatat mencapai USD148,2 miliar.

Baca Juga: Pembiayaan Berkelanjutan Maybank Indonesia Melonjak 2 Kali Lipat: Dorong Ekonomi Hijau dan Kendaraan Listrik

BI juga mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 4,75% sepanjang Februari hingga April 2026 guna menjaga stabilitas rupiah dan inflasi.

Selain intervensi pasar spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), BI juga aktif melakukan intervensi di pasar luar negeri melalui pusat keuangan global seperti Hong Kong, Singapura, London, dan New York.

“Cadangan devisa kita memadai dan struktur suku bunga SRBI terus diperkuat agar menarik aliran modal asing,” kata Perry.

Dalam upaya menjaga stabilitas pasar keuangan domestik, BI juga telah membeli Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp123,1 triliun hingga 4 Mei 2026 di pasar sekunder.

Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari koordinasi erat antara kebijakan moneter dan fiskal pemerintah.

Di saat bersamaan, BI mulai memperluas kerja sama sistem pembayaran lintas negara. Setelah implementasi QRIS antarnegara dengan sejumlah negara ASEAN, kini BI resmi meluncurkan QRIS lintas negara dengan Korea Selatan pada 1 April 2026 dan Tiongkok pada 30 April 2026.

Perluasan transaksi lintas negara berbasis QRIS dan penggunaan mata uang lokal dinilai menjadi bagian dari strategi jangka panjang Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

Secara historis, isu diversifikasi mata uang mulai menguat pascapandemi COVID-19 dan meningkat tajam setelah gejolak geopolitik global dalam beberapa tahun terakhir memicu volatilitas dolar AS serta kenaikan suku bunga global.

Di sisi lain, inflasi Indonesia masih terkendali. BI mencatat inflasi April 2026 berada di level 2,42% secara tahunan, masih berada dalam target BI sebesar 2,5±1%.

“Inflasi inti rendah, harga pangan terkendali, dan administered prices juga rendah. Ini mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia tetap baik,” ujar Perry.

BI memastikan akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendukung pertumbuhan nasional.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.