Akurat
Pemprov Sumsel

Eskalasi Konflik Timur Tengah Picu Koreksi Bursa Eropa

Andi Syafriadi | 5 Maret 2026, 07:50 WIB
Eskalasi Konflik Timur Tengah Picu Koreksi Bursa Eropa
Ilustrasi Bursa Eropa

AKURAT.CO Bursa saham Eropa mencatat penurunan dua hari terbesar sejak April, dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga energi global.

Indeks Stoxx Europe 600 melemah 2,9%. Sementara indeks Euro Stoxx 50 turun 3,1%. Pelemahan terjadi secara luas di berbagai sektor.

Saham perbankan menjadi penekan utama. HSBC Holdings Plc, Banco Santander SA, dan UniCredit SpA masing-masing turun lebih dari 3%.

Baca Juga: Atasi Gonjang-ganjing Pasar Modal, Bamsoet Dukung Langkah Presiden Prabowo Benahi Bursa Saham

Dikutip dari laman bloomberg, Analis JPMorgan Chase & Co menilai aksi jual di sektor bank berpotensi berlebihan karena dampak langsung konflik terhadap pendapatan investment banking global masih terbatas.

Di sisi energi, harga gas alam Eropa melonjak hingga 34% setelah penutupan fasilitas ekspor LNG di Qatar. Lonjakan ini memperkuat saham energi seperti Equinor ASA dan BP Plc.

Diketahui, selat Hormuz menjadi perhatian utama pasar. Jalur ini mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas cair global. Gangguan di kawasan tersebut historisnya memicu lonjakan harga energi dan volatilitas pasar global.

Presiden AS Donald Trump menyatakan akan melakukan “apa pun yang diperlukan” tanpa memberikan kepastian waktu berakhirnya konflik di Iran. Pernyataan ini memperkuat sentimen risk-off global.

Baca Juga: Peran Strategis Underwriter dalam Proses IPO di Bursa Saham

Lonjakan energi meningkatkan risiko inflasi di Eropa, yang sebelumnya mulai melandai setelah krisis energi 2022.

Jika harga minyak tetap bertahan tinggi, tekanan terhadap margin perusahaan dan daya beli konsumen bisa meningkat.

Penurunan tajam indeks dalam dua hari menunjukkan pasar mulai mengalihkan fokus dari fundamental korporasi ke risiko geopolitik dan pasokan energi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.