Akurat Logo

Pasar Kripto Melambat, Investor Ritel Indonesia Masih Bertahan

Esha Tri Wahyuni | 11 Mei 2026, 15:06 WIB
Pasar Kripto Melambat, Investor Ritel Indonesia Masih Bertahan
OJK mencatat transaksi kripto turun 4,7 persen pada Maret 2026, tetapi jumlah investor domestik terus meningkat.

AKURAT.CO Pasar aset kripto Indonesia mengalami perlambatan pada Maret 2026 di tengah tekanan global dan tingginya volatilitas pasar. Namun di balik penurunan nilai transaksi, jumlah investor kripto domestik justru terus bertambah.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan nilai perdagangan aset kripto domestik pada Maret 2026 tercatat sebesar Rp22,24 triliun di pasar spot dan Rp5,8 triliun di derivatif. Nilai transaksi spot tersebut turun 4,7% secara bulanan dibanding Februari 2026 yang mencapai Rp24,33 triliun.

Meski transaksi melemah, jumlah konsumen kripto di Indonesia justru meningkat menjadi 21,37 juta akun per Maret 2026. Angka ini naik tipis dibandingkan bulan sebelumnya dan memperlihatkan investor ritel belum sepenuhnya meninggalkan pasar.

Baca Juga: OJK Catat 21 Juta Pengguna Kripto, Indodax Kuasai Hampir Separuh Pengguna Nasional

Chief Executive Officer Tokocrypto, Calvin Kizana, mengatakan perlambatan transaksi lebih dipicu sentimen global yang membuat investor memilih menahan diri.

“Investor tidak sepenuhnya keluar dari pasar kripto. Yang terjadi adalah pergeseran strategi. Sebagian investor mulai mengurangi eksposur pada aset yang lebih spekulatif dan memilih aset yang lebih likuid atau stabil, seperti Bitcoin, Ethereum, stablecoin, hingga aset berbasis emas,” ujar Calvin dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (11/5/2026).

Fenomena tersebut berbeda dibanding siklus koreksi kripto sebelumnya. Pada fase bearish 2022 misalnya, pelemahan harga diikuti penurunan minat investor ritel. Kini, investor masih bertahan meski aktivitas perdagangan menurun.

Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, menilai penurunan transaksi saat ini lebih disebabkan normalisasi pasar pasca reli besar Bitcoin setelah momentum halving 2024.

“Ini tentunya menjadi high base effect, bukan pelemahan fundamental,” kata Adi.

Baca Juga: Transaksi Kripto RI Capai Rp22,24 Triliun di Kuartal I-2026

OJK mencatat kapitalisasi pasar kripto global turun sekitar 45% dari posisi tertinggi USD4,2 triliun pada Oktober 2025 menjadi sekitar USD2,3 triliun pada Maret 2026. Tekanan itu dipengaruhi tingginya suku bunga global, ketidakpastian arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat atau The Fed, serta tensi geopolitik internasional.

Meski demikian, total transaksi aset kripto Indonesia sepanjang Januari hingga Maret 2026 masih mencapai Rp75,83 triliun. Angka tersebut menunjukkan aktivitas perdagangan tetap besar di tengah fase konsolidasi pasar.

Calvin menyebut investor kini cenderung mengutamakan aset dengan risiko lebih rendah. Bitcoin bahkan kembali menjadi acuan utama pasar setelah sempat menembus level psikologis US$80.000 pada awal Mei 2026.

“Ketika BTC mampu bertahan di atas level penting seperti kisaran USS78.000 hingga USD80.000, kepercayaan investor biasanya mulai membaik,” ujar Calvin.

Namun pemulihan pasar dinilai masih berlangsung selektif. Investor disebut tetap mencermati data inflasi global, arah suku bunga The Fed, hingga perkembangan geopolitik sebelum kembali agresif masuk ke aset berisiko.

Di sisi lain, industri kripto domestik kini juga menghadapi persaingan regulasi dan pajak. Tokocrypto menilai kebijakan pajak kripto yang lebih kompetitif dapat membantu meningkatkan aktivitas perdagangan di platform resmi dalam negeri.

“Pajak yang lebih kompetitif akan membantu meningkatkan daya tarik transaksi melalui exchange resmi di dalam negeri,” kata Calvin.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.