Wall Street Cetak Rekor, Bursa Asia Kompak Menguat

AKURAT.CO Bursa saham Asia bergerak menguat pada perdagangan Jumat setelah indeks-indeks utama S&P 500 dan Nasdaq 100 di Wall Street kembali mencetak rekor tertinggi baru.
Penguatan pasar dipicu reli saham sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), laporan laba perusahaan Amerika Serikat yang melampaui ekspektasi, serta data konsumsi domestik AS yang masih solid di tengah tekanan inflasi energi.
Kenaikan terjadi di mayoritas pasar saham Asia, termasuk Jepang, Korea Selatan, dan Australia. Indeks MSCI Asia Pasifik bahkan berada di jalur penguatan mingguan keenam berturut-turut, menjadi reli terpanjang sejak akhir Januari tahun ini.
Baca Juga: Atasi Gonjang-ganjing Pasar Modal, Bamsoet Dukung Langkah Presiden Prabowo Benahi Bursa Saham
Di Amerika Serikat, penguatan pasar terutama didorong saham-saham teknologi berbasis AI.
Saham NVIDIA Corporation melanjutkan reli selama enam hari beruntun dan membuat kapitalisasi pasarnya mendekati USD6 triliun.
Sementara itu, saham Cerebras Systems melonjak 68% pada debut perdagangannya, sedangkan Applied Materials turut naik setelah merilis proyeksi bisnis yang dinilai positif pasar.
Indeks S&P 500 bahkan ditutup di atas level 7.500 untuk pertama kalinya dalam sejarah, menandakan optimisme investor terhadap prospek laba korporasi AS masih tetap kuat meski tensi geopolitik dan harga energi meningkat.
Data ekonomi terbaru turut memperkuat sentimen pasar. Penjualan ritel AS tercatat naik selama tiga bulan berturut-turut, menunjukkan konsumsi masyarakat Amerika masih bertahan meski harga bahan bakar dan biaya hidup meningkat.
Baca Juga: IHSG Tersungkur Seiring Terkoreksinya Bursa Saham Asia
“Penjualan ritel April mencerminkan apa yang telah kita dengar dalam konferensi telepon korporasi selama beberapa minggu terakhir: konsumen AS tetap tangguh meski harga bahan bakar melonjak,” kata analis eToro Bret Kenwell dikutip dari Bloomberg, Jumat (15/5/2026).
Dirinya menambahkan bahwa saat ini sektor teknologi menjadi motor utama penggerak pasar saham global.
“Dalam hal saham, sektor teknologi saat ini memegang kendali, bukan sektor konsumen,” ujarnya.
Data Bloomberg Intelligence menunjukkan laba perusahaan dalam indeks S&P 500 pada kuartal I 2026 diperkirakan tumbuh sekitar 27% secara tahunan. Jika terealisasi, angka tersebut akan menjadi kuartal keenam berturut-turut dengan pertumbuhan laba dua digit.
Kondisi itu dinilai berhasil meredam kekhawatiran investor terhadap lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak Brent naik sekitar 0,7% mendekati level US$106 per barel setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan gangguan distribusi energi global kembali meningkat.
Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun naik ke level 4,03%, tertinggi sejak Juni, sementara yield obligasi acuan 10 tahun berada di kisaran 4,49%. Kenaikan yield mencerminkan ekspektasi pasar bahwa suku bunga tinggi di AS masih akan bertahan lebih lama.
Sementara di Jepang, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun juga mengalami kenaikan setelah data harga produsen menunjukkan inflasi produsen mencapai level tertinggi sejak 2023.
Selain faktor ekonomi, perhatian pasar juga tertuju pada dinamika geopolitik global. Presiden AS Donald Trump menyatakan China bersedia membantu proses negosiasi dengan Iran guna meredakan konflik dan membuka kembali jalur perdagangan energi di Selat Hormuz. Namun hingga kini pemerintah China belum memberikan konfirmasi resmi terkait pernyataan tersebut.
Penguatan pasar saham global kali ini menjadi penting karena terjadi di tengah kombinasi risiko yang cukup kompleks, mulai dari harga minyak di atas US$100 per barel, ancaman inflasi energi, hingga ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan Asia Timur.
Meski demikian, investor masih melihat kuatnya kinerja perusahaan teknologi dan ketahanan konsumsi AS sebagai penopang utama pasar keuangan global dalam jangka pendek.
Clark Bellin dari Bellwether Wealth mengatakan perusahaan-perusahaan AS sejauh ini dinilai mampu beradaptasi terhadap berbagai tekanan ekonomi. Menurutnya, pasar saham juga belum menunjukkan fase euforia berlebihan.
“Saham masih terus naik di tengah kekhawatiran, dan kami berpikir belum ada euforia di pasar saat ini,” kata Bellin. “Faktanya, masih ada banyak skeptisisme, yang menunjukkan bahwa pasar bullish ini masih memiliki ruang untuk terus naik.”
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








