Saham Teknologi Wall Street Ambruk Buntut Ketegangan AS-China
Hefriday | 17 April 2025, 08:35 WIB

AKURAT.CO Ketegangan antara Amerika Serikat dan China kembali memicu gejolak di pasar keuangan global.
Pada perdagangan Rabu (16/4/2025) waktu New York, bursa saham Wall Street dibuka melemah signifikan, dipimpin penurunan tajam sektor teknologi.
Dikutip dari laman Investing, Kamis (17/4/2025), kabar buruk datang dari Nvidia, perusahaan raksasa produsen chip AI, yang mengumumkan potensi kerugian besar akibat pembatasan ekspor terbaru dari pemerintah AS ke China.
Indeks Nasdaq Composite menjadi yang paling terpukul, anjlok 295 poin atau sekitar 1,7%. Indeks S&P 500 juga terkoreksi 0,9%, sementara Dow Jones Industrial Average turun 0,3%.
Koreksi ini mencerminkan tekanan yang cukup kuat dari pelaku pasar terhadap ketidakpastian kebijakan perdagangan yang kembali mencuat.
Saham Nvidia (NVDA) anjlok lebih dari 6% usai perusahaan menyampaikan bahwa mereka berpotensi kehilangan pendapatan sekitar USD5,5 miliar.
Kerugian ini timbul akibat pembatasan baru yang diberlakukan oleh Departemen Perdagangan AS terhadap ekspor chip H20 ke China, sebuah pasar utama bagi pertumbuhan bisnis AI Nvidia.
"Pembatasan ini berdampak signifikan bagi kami, terutama mengingat pentingnya pasar China dalam penyerapan teknologi AI," tulis Nvidia dalam pernyataan resminya, dikutip Kamis (17/4/2025).
Pernyataan ini dengan cepat menyebar ke pasar dan mengguncang kepercayaan investor, tidak hanya terhadap Nvidia, tetapi juga emiten semikonduktor lainnya.
Efek domino langsung terasa. Saham Intel (INTC), Advanced Micro Devices (AMD), Broadcom (AVGO), dan Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) turut terseret ke zona merah.
Bahkan saham TSMC, yang merupakan pemasok utama Nvidia, mengalami tekanan tajam di pasar Asia sebelumnya.
Penurunan ini menunjukkan betapa sensitifnya sektor teknologi terhadap dinamika geopolitik, terutama yang melibatkan dua kekuatan ekonomi terbesar dunia.
Ketergantungan tinggi pada pasar China menjadikan ekspor chip sebagai titik rawan dalam strategi ekspansi teknologi global.
Pemerintahan Presiden Joe Biden memang sejak awal berusaha menyeimbangkan persaingan dengan China, terutama dalam bidang teknologi tinggi seperti kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor.
Namun, kebijakan pembatasan ekspor kali ini justru mengirimkan sinyal negatif ke pasar bahwa ketegangan belum mereda, bahkan cenderung meningkat.
Keputusan tersebut disebut-sebut sebagai upaya menekan perkembangan teknologi militer China yang berpotensi memanfaatkan chip AI buatan AS.
Namun di sisi lain, pelaku pasar menilai langkah ini belum sepenuhnya mempertimbangkan dampaknya terhadap industri dalam negeri.
Kebijakan pembatasan ekspor semikonduktor dapat menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, hal ini bisa memperkuat posisi strategis AS dalam rantai pasok teknologi global.
Namun di sisi lain, ketergantungan perusahaan-perusahaan AS terhadap pendapatan dari China justru memperbesar risiko keuangan jika hubungan dagang memburuk.
Nvidia bukan satu-satunya perusahaan yang terdampak. Beberapa analis memperkirakan potensi revisi proyeksi pendapatan dari sektor chip dalam kuartal kedua 2025, menyusul potensi penurunan permintaan dari Asia Timur, khususnya China.
Ironisnya, pelemahan pasar terjadi di tengah rilis data ekonomi yang justru menggembirakan. Penjualan ritel AS pada Maret 2025 melonjak sebesar 1,4%, jauh melampaui ekspektasi dan kenaikan 0,2% pada Februari sebelumnya.
Kenaikan ini didorong terutama oleh lonjakan pembelian kendaraan bermotor. Namun, lonjakan konsumsi ini disinyalir bukan sepenuhnya mencerminkan optimisme ekonomi.
Beberapa ekonom mencatat bahwa kekhawatiran konsumen terhadap potensi kenaikan harga akibat tarif impor turut memicu pembelian besar-besaran.
Di tengah ketegangan perdagangan, pelaku pasar juga mencermati sikap bank sentral AS, Federal Reserve.
Gubernur The Fed, Jerome Powell, dijadwalkan menyampaikan pidato penting dalam beberapa hari mendatang.
Sebelumnya, Powell menyatakan The Fed masih dalam posisi “wait and see” dalam merespons dinamika ekonomi global, termasuk implikasi kebijakan perdagangan terhadap inflasi dan pertumbuhan.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa The Fed belum akan tergesa-gesa dalam mengubah arah suku bunga, tetapi tetap membuka ruang untuk penyesuaian bila situasi memburuk.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








