Akurat Logo

Rupiah Ambles Rekor Sejarah! Dolar AS Tembus Rp17.700 Hari Ini 19 Mei 2026

Titania Isnaenin | 19 Mei 2026, 11:35 WIB
Rupiah Ambles Rekor Sejarah! Dolar AS Tembus Rp17.700 Hari Ini 19 Mei 2026
Kurs dolar hari ini, Selasa (19/5/2026). (Ilustrasi)

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mencatatkan rapor merah pada perdagangan hari ini, Selasa (19/5/2026), dengan menembus level psikologis baru di angka Rp17.700 per dolar AS.

Berdasarkan data pasar spot Bloomberg pada pagi hari ini, mata uang Garuda bahkan sempat merosot hingga menyentuh kisaran Rp17.712 sampai Rp17.717 per dolar AS, yang menandakan pelemahan sekitar 0,28% dibandingkan penutupan hari sebelumnya.

Bagi para pelaku usaha, investor, dan masyarakat luas, ambruknya nilai tukar rupiah ke rekor terendah sepanjang sejarah ini memerlukan perhatian serius terkait dampaknya terhadap stabilitas ekonomi domestik.

Kronologi Rupiah Ambles ke Level Rp17.700

Tekanan terhadap mata uang rupiah sebenarnya sudah terlihat sejak pembukaan perdagangan awal pekan.

Pada perdagangan Selasa pagi ini, rupiah langsung dibuka layu dan bergerak melemah ke angka Rp17.685 sebelum akhirnya terseret lebih dalam hingga melampaui batas Rp17.700 per dolar AS.

Pelemahan ini tidak hanya terjadi di pasar spot, melainkan juga tercermin langsung pada papan kurs yang dipatok oleh sejumlah bank besar nasional.

Beberapa bank umum bahkan telah menyesuaikan kurs jual dolar AS mereka hingga mendekati atau melewati ambang batas tersebut demi memitigasi risiko volatilitas valuta asing yang kian liar.

Faktor Utama Penyebab Keperkasaan Dolar AS

Para analis pasar uang menilai bahwa kejatuhan rupiah kali ini dipicu oleh kombinasi "badai sempurna" yang datang dari faktor eksternal (global) maupun internal (domestik):

  1. Ketegangan Geopolitik Global: Situasi geopolitik global di kawasan Timur Tengah yang kembali memanas terutama di sekitar jalur perdagangan Selat Hormuz, memicu kekhawatiran besar di pasar finansial. Investor global cenderung menarik modal mereka dari negara berkembang (capital outflow) dan mengalokasikannya ke aset aman (safe haven) seperti dolar AS.

  2. Tingginya Suku Bunga dan Yield Obligasi AS: Indeks dolar AS (DXY) terus menunjukkan keperkasaannya karena didorong oleh ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lama di Amerika Serikat serta lonjakan tingkat pengembalian (yield) obligasi pemerintah AS.

  3. Beban Impor Energi: Ketidakpastian global ikut menyeret fluktuasi harga minyak mentah dunia. Bagi Indonesia yang berstatus sebagai net-importir minyak, kenaikan harga komoditas energi ini otomatis membengkakkan kebutuhan pasokan dolar AS untuk membiayai impor, sehingga menekan stabilitas rupiah.

Cek Kurs Dolar AS di Bank Besar Indonesia Hari Ini

Bagi Anda yang perlu melakukan transaksi valas, baik untuk keperluan bisnis impor, pendidikan, maupun investasi, berikut adalah rincian referensi kurs jual dan kurs beli Dolar AS (USD) terhadap Rupiah (IDR) di beberapa bank besar nasional per Selasa siang (19/5/2026):

Nama Bank

Kurs Beli (Rp)

Kurs Jual (Rp)

Bank Central Asia (BCA)

17.700

17.720

Bank Rakyat Indonesia (BRI)

17.695

17.735

Bank Mandiri

17.670

17.700

Bank Negara Indonesia (BNI)

17.635

17.665

Nilai kurs di atas dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti fluktuasi real-time perdagangan valuta asing di pasar internasional maupun kebijakan internal masing-masing perbankan.

Dampak Nyata bagi Masyarakat dan Pelaku Usaha

Melambungnya harga dolar hingga menjebol Rp17.700 tentu bukan sekadar angka di atas kertas. Dampak ekonominya diproyeksikan akan segera merembet ke sektor riil dalam waktu dekat:

  1. Kenaikan Harga Barang Impor (Mekanisme Pass-Through): Sektor industri yang mengandalkan bahan baku impor seperti produk elektronik, farmasi, otomotif, hingga makanan olahan akan mengalami pembengkakan biaya produksi. Hal ini berpotensi memicu kenaikan harga jual di tingkat konsumen.

  2. Tekanan pada Pelaku UMKM: Para pelaku usaha kecil yang memproduksi barang dengan komponen impor harus memutar otak agar margin keuntungan mereka tidak tergerus habis, atau terpaksa menaikkan harga jual yang berisiko menurunkan daya beli masyarakat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.