Akurat Logo

Sentimen Domestik Terus Bebani Rupiah, Imbas Persoalan Struktural?

Esha Tri Wahyuni | 19 Mei 2026, 15:23 WIB
Sentimen Domestik Terus Bebani Rupiah, Imbas Persoalan Struktural?
Anggota Komisi XI DPR RI, Harris Turino

AKURAT.CO Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi sorotan di tengah meningkatnya tekanan pasar keuangan global.

Namun, Komisi XI DPR RI menilai depresiasi rupiah saat ini tidak sepenuhnya dipicu faktor eksternal, melainkan juga mencerminkan masih adanya persoalan struktural dalam negeri yang memengaruhi persepsi investor.

Anggota Komisi XI DPR RI, Harris Turino mengatakan, stabilitas rupiah tidak cukup hanya dijaga melalui intervensi pasar oleh Bank Indonesia, tetapi juga membutuhkan penguatan fundamental ekonomi nasional dan peningkatan kepercayaan pelaku pasar terhadap arah kebijakan pemerintah.

Baca Juga: Rupiah Ambles Rekor Sejarah! Dolar AS Tembus Rp17.700 Hari Ini 19 Mei 2026

“Kalau tekanan terhadap rupiah masih cukup kuat, artinya kita juga perlu melihat faktor-faktor domestik yang memengaruhi persepsi pasar dan kepercayaan investor,” kata Harris dikutip dari Channel YouTube TV Parlemen, Selasa (19/5/2026).

Pernyataan tersebut muncul di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang dalam beberapa waktu terakhir bergerak melemah terhadap dolar AS.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah sempat bergerak di atas level Rp16.400 per USD pada kuartal II 2026. Tekanan terjadi seiring tingginya suku bunga Amerika Serikat, penguatan indeks dolar AS, hingga meningkatnya ketidakpastian pasar global.

Namun, Harris menilai kondisi domestik juga menjadi perhatian utama investor asing. Ia menyebut faktor seperti defisit transaksi berjalan, dinamika investasi, kondisi fiskal, hingga kepastian arah kebijakan ekonomi turut menentukan ketahanan rupiah terhadap gejolak eksternal.

Menurut dia, langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia sejauh ini sudah cukup agresif. Bank sentral diketahui melakukan intervensi di pasar valuta asing, operasi moneter, hingga menjaga likuiditas perbankan untuk meredam volatilitas rupiah.

Meski begitu, tekanan pasar dinilai menunjukkan bahwa sentimen investor terhadap ekonomi domestik masih perlu diperkuat.

“Bank Indonesia tidak bisa bekerja sendiri. Stabilitas nilai tukar juga sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi domestik dan tingkat kepercayaan terhadap kebijakan pemerintah,” ujar legislator dari daerah pemilihan Jawa Tengah IX tersebut.

Data Bank Indonesia menunjukkan cadangan devisa Indonesia per akhir April 2026 masih berada di level tinggi, yakni di atas USD140 miliar, atau setara pembiayaan lebih dari enam bulan impor.

Posisi tersebut sebenarnya menjadi bantalan penting bagi stabilitas eksternal Indonesia. Namun, pasar tetap mencermati risiko keluarnya arus modal asing dari pasar domestik akibat tingginya imbal hasil aset dolar AS.

Di sisi lain, pemerintah dan Bank Indonesia tengah berupaya menjaga stabilitas ekonomi melalui sinergi kebijakan fiskal dan moneter. Pada 2025 lalu, Bank Indonesia mempertahankan bauran kebijakan stabilisasi untuk menjaga inflasi dalam sasaran 2,5±1% dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Harris menegaskan komunikasi kebijakan yang konsisten dan kredibel menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor. Ketidakpastian arah kebijakan, menurutnya, dapat meningkatkan tekanan terhadap pasar keuangan, termasuk nilai tukar rupiah.

“Semakin tinggi keyakinan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi nasional, semakin kuat pula daya tahan rupiah terhadap gejolak eksternal,” katanya.

Sorotan DPR terhadap faktor domestik ini menjadi angle baru di tengah narasi umum yang selama ini lebih banyak mengaitkan pelemahan rupiah dengan faktor global seperti kebijakan suku bunga bank sentral AS atau tensi geopolitik internasional.

Pernyataan tersebut menandakan bahwa pasar kini juga menaruh perhatian besar terhadap kualitas kebijakan ekonomi dalam negeri.

Sebagai Informasi, tekanan rupiah bukan pertama kali terjadi. Pada krisis finansial global 2008 dan gejolak taper tantrum 2013, rupiah juga mengalami pelemahan tajam akibat kombinasi sentimen eksternal dan persoalan fundamental domestik. 

Kondisi saat ini dinilai berbeda karena Indonesia memiliki inflasi lebih terkendali, cadangan devisa lebih kuat, dan sistem perbankan yang relatif stabil. Namun, tantangan menjaga arus modal asing tetap menjadi pekerjaan besar pemerintah dan Bank Indonesia.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.