IHSG Sempat Sentuh Level 5.000-an, Mengingatkan Era COVID-19

AKURAT.CO Pasar saham Indonesia kembali membuat banyak investor deg-degan. IHSG hari ini bukan hanya bergerak di zona merah, tetapi juga sempat turun ke level 5.000-an — angka yang langsung mengingatkan publik pada masa krisis pandemi COVID-19 tahun 2020.
Bagi investor lama, level tersebut membawa trauma lama. Namun bagi generasi muda yang baru masuk dunia investasi dalam beberapa tahun terakhir, kondisi ini menjadi ujian pertama menghadapi market crash yang sesungguhnya.
Ringkasan
Berikut ringkasan kondisi pasar berdasarkan data RTI pada Jumat, 22 Mei 2026:
IHSG dibuka di level 6.065
Pukul 09.05 WIB turun ke 6.047
Sempat menyentuh level terendah 5.966
Nilai transaksi mencapai Rp1,67 triliun
Sebanyak 418 saham melemah
IHSG turun lebih dari 30% sepanjang 2026
Penurunan ini memicu kekhawatiran karena level 5.000-an identik dengan fase krisis COVID-19 tahun 2020, ketika pasar modal Indonesia mengalami tekanan ekstrem dan Bursa Efek Indonesia sempat memberlakukan trading halt.
Kenapa IHSG Turun Drastis dan Menyentuh Level 5.000-an?
Secara teknis, penurunan IHSG memang dipengaruhi tekanan jual besar-besaran. Namun secara psikologis, ada faktor yang lebih dalam: hilangnya rasa percaya diri investor.
Selama beberapa tahun terakhir, banyak investor muda mengenal pasar saham hanya dalam fase bullish. Mereka masuk ketika influencer saham bermunculan, aplikasi trading semakin mudah diakses, dan media sosial dipenuhi narasi cuan cepat.
Masalahnya, generasi investor baru ini belum pernah benar-benar mengalami bear market panjang.
Ketika indeks mulai jatuh:
investor pemula cenderung panik,
keputusan diambil berdasarkan emosi,
dan media sosial mempercepat efek ketakutan massal.
Inilah yang membedakan kondisi sekarang dengan koreksi biasa.
Jika dulu kepanikan pasar bergerak lebih lambat, kini sentimen negatif menyebar dalam hitungan menit melalui:
TikTok finansial,
grup Telegram saham,
Discord trading,
hingga komentar di platform X.
Akibatnya, tekanan jual bisa membesar bukan hanya karena faktor fundamental, tetapi juga karena efek psikologi digital.
Baca Juga: IHSG Anjlok 26,3 Persen Sejak Awal 2026, Saham Bank Besar Sudah Masuk Harga Diskon
Baca Juga: Jumlah Investor Ritel Lokal Dominan Tapi Kenapa IHSG Masih Gampang Goyang?
Mengapa Level 5.000 Memicu Trauma Pasar Saat COVID-19?
Angka dalam pasar saham sering kali punya efek psikologis yang lebih besar daripada yang terlihat.
Level 5.000-an dianggap sebagai simbol fase krisis karena pada masa pandemi COVID-19 tahun 2020, IHSG mengalami salah satu kejatuhan terdalam dalam sejarah pasar modal Indonesia.
Saat Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus COVID-19 pertama pada 2 Maret 2020, pasar mulai terguncang. Dalam waktu singkat:
IHSG jatuh tajam,
investor asing keluar besar-besaran,
dan kepanikan meluas.
Pada 9 Maret 2020, IHSG anjlok hingga 6,5% ke level 5.136. Kondisi tersebut membuat regulator mengambil langkah ekstrem berupa trading halt untuk menghentikan perdagangan sementara.
Bagi pelaku pasar lama, memori itu belum benar-benar hilang.
Karena itu, ketika IHSG kembali mendekati area serupa pada 2026, reaksi pasar menjadi lebih emosional dibanding sekadar melihat data ekonomi.
Apa Dampak IHSG Anjlok bagi Investor Ritel?
Banyak orang mengira penurunan IHSG hanya berdampak bagi investor besar. Padahal kelompok yang paling rentan justru investor ritel kelas menengah.
Terutama mereka yang:
baru mulai investasi 2–5 tahun terakhir,
menggunakan dana tabungan,
atau membeli saham saat euforia pasar sedang tinggi.
Simulasi realistis yang kini banyak terjadi
Bayangkan seorang pekerja usia 25 tahun mulai investasi pada 2023.
Ia membeli saham teknologi dan perbankan karena melihat konten “financial freedom” di media sosial. Dalam kondisi bullish, portofolionya sempat naik cepat sehingga muncul rasa percaya diri berlebihan.
Namun ketika market berbalik:
portofolio turun 30–40%,
panic selling mulai muncul,
dan keputusan investasi berubah menjadi emosional.
Di lapangan, kondisi seperti ini sangat umum terjadi.
Kesalahan terbesar investor pemula biasanya bukan membeli saham jelek, melainkan:
masuk saat euforia,
tidak memahami risiko,
dan tidak siap menghadapi volatilitas.
Baca Juga: Ekspor Tunggal Komoditas SDA Lewat BUMN Distorsi Pasar, IHSG Makin Lemas
Baca Juga: IHSG dan Rupiah Loyo, Menkeu: Fondasi Kita Bagus, Serok Bawah Sekalian!
Apakah Kondisi Sekarang Sama dengan Krisis COVID-19?
Jawabannya: tidak sepenuhnya sama, tetapi ada kemiripan psikologis.
Saat pandemi COVID-19, pasar jatuh karena ketidakpastian global yang sangat ekstrem. Dunia tidak tahu:
kapan pandemi berakhir,
bagaimana ekonomi akan bertahan,
dan seberapa besar dampaknya.
Sementara saat ini, tekanan pasar lebih banyak dipicu kombinasi:
perlambatan ekonomi,
ketidakpastian global,
sentimen investor,
dan tekanan likuiditas.
Namun ada satu kesamaan besar: rasa takut.
Pasar saham pada dasarnya bergerak berdasarkan ekspektasi masa depan. Ketika investor percaya ekonomi akan memburuk, tekanan jual biasanya muncul lebih cepat daripada perbaikan fundamental.
Karena itu, meski situasinya berbeda, pola kepanikan pasar bisa terlihat mirip.
Kenapa Investor Gen Z Lebih Rentan Panik Saat Market Crash?
Ini salah satu fenomena paling menarik di era investasi digital.
Banyak investor Gen Z masuk pasar saat kondisi ekonomi sedang relatif stabil dan teknologi trading semakin mudah. Mereka terbiasa melihat:
grafik hijau,
narasi cuan,
dan budaya flexing keuntungan investasi.
Masalah muncul ketika market memasuki fase negatif panjang.
Berbeda dengan investor lama yang pernah mengalami:
krisis 2008,
taper tantrum,
atau pandemi COVID-19,
banyak investor muda belum punya pengalaman menghadapi tekanan psikologis market crash.
Akibatnya:
toleransi risiko rendah,
keputusan impulsif meningkat,
dan panic selling lebih mudah terjadi.
Paradoksnya, akses informasi yang semakin cepat justru membuat banyak investor lebih emosional.
Mereka terus memantau pergerakan harga setiap menit, sehingga tekanan mental ikut meningkat.
Market Modern Kini Lebih Dipengaruhi Sentimen Digital
Ada perubahan besar yang sering tidak disadari.
Dulu, pasar saham lebih banyak dipengaruhi laporan ekonomi dan berita institusi besar. Sekarang, sentimen digital punya pengaruh yang jauh lebih besar.
Satu unggahan viral tentang “IHSG crash” bisa:
memicu kepanikan,
memperbesar tekanan jual,
dan menciptakan efek domino.
Ini membuat market modern menjadi lebih cepat bereaksi, tetapi juga lebih mudah overreact.
Fenomena ini terlihat jelas pada investor ritel Indonesia yang sangat aktif di media sosial. Banyak keputusan investasi kini tidak lagi berbasis analisis fundamental, melainkan:
fear of missing out (FOMO),
fear uncertainty doubt (FUD),
dan tekanan sosial digital.
Karena itu, penurunan IHSG saat ini bukan hanya cerita ekonomi, tetapi juga cerita tentang perilaku manusia di era algoritma.
Apa yang Biasanya Terjadi Setelah IHSG Turun Tajam?
Dalam sejarah pasar modal, fase kepanikan biasanya diikuti dua kemungkinan:
market terus turun karena sentimen memburuk,
atau mulai stabil ketika investor merasa harga sudah terlalu murah.
Namun yang menarik, investor ritel sering melakukan kesalahan klasik:
membeli saat semua orang optimistis,
lalu menjual saat ketakutan mencapai puncak.
Padahal dalam banyak kasus, momentum terbaik pasar justru muncul ketika sentimen sedang sangat negatif.
Meski demikian, bukan berarti semua penurunan harus dianggap peluang. Investor tetap perlu:
memahami profil risiko,
menjaga likuiditas,
dan tidak mengambil keputusan berdasarkan kepanikan sesaat.
Kenapa Penurunan IHSG Penting bagi Ekonomi Kelas Menengah?
Pasar saham hari ini punya hubungan jauh lebih dekat dengan kehidupan masyarakat dibanding satu dekade lalu.
Kini semakin banyak:
pekerja muda berinvestasi,
karyawan startup memiliki saham,
dan kelas menengah menyimpan dana di reksa dana atau pasar modal.
Artinya, ketika IHSG turun tajam:
rasa aman finansial ikut terganggu,
konsumsi masyarakat bisa melemah,
dan tekanan psikologis meningkat.
Efeknya tidak selalu langsung terlihat, tetapi sentimennya bisa memengaruhi gaya hidup dan keputusan ekonomi masyarakat urban.
Penutup: IHSG Turun Bukan Sekadar Angka Merah di Layar
Turunnya IHSG ke level 5.000-an menjadi pengingat bahwa pasar saham selalu bergerak dalam siklus. Euforia bisa berubah menjadi kepanikan dalam waktu singkat.
Namun di balik angka merah itu, ada cerita yang lebih besar:
tentang psikologi manusia,
budaya investasi digital,
dan generasi baru investor yang sedang belajar menghadapi realitas pasar.
Apakah kondisi ini akan menjadi krisis besar berikutnya? Belum tentu.
Tetapi satu hal yang jelas, pasar modern kini bergerak bukan hanya karena ekonomi, melainkan juga karena emosi kolektif yang dipercepat algoritma dan media sosial.
Pantau terus perkembangan IHSG dan dinamika pasar modal Indonesia untuk memahami bagaimana perubahan sentimen global dapat memengaruhi kehidupan finansial sehari-hari.
Baca Juga: IHSG Merosot Tajam di Tengah Kontroversi Tata Kelola Ekspor
Baca Juga: Petinggi OJK Akui Rebalancing Indeks MSCI Terus Tekan IHSG
FAQ
Apa penyebab IHSG hari ini turun drastis?
IHSG turun drastis karena kombinasi tekanan jual investor, sentimen ekonomi global, dan kepanikan pasar yang semakin cepat menyebar lewat media sosial. Selain faktor fundamental seperti perlambatan ekonomi dan arus dana asing keluar, banyak investor ritel juga melakukan panic selling setelah melihat IHSG menyentuh level psikologis 5.000-an. Kondisi ini membuat tekanan di pasar saham Indonesia semakin besar dalam waktu singkat.
Kenapa level 5.000 pada IHSG dianggap menakutkan?
Level 5.000 dianggap sensitif karena identik dengan masa krisis pandemi COVID-19 tahun 2020 ketika pasar modal Indonesia mengalami kejatuhan tajam. Saat itu IHSG anjlok drastis hingga memicu trading halt oleh Bursa Efek Indonesia. Karena memiliki nilai historis dan emosional, banyak investor langsung mengaitkan penurunan ke area 5.000 dengan potensi krisis ekonomi atau market crash yang lebih besar.
Apakah IHSG turun berarti ekonomi Indonesia sedang krisis?
IHSG melemah belum tentu berarti Indonesia langsung masuk krisis ekonomi, tetapi kondisi ini menunjukkan adanya kekhawatiran investor terhadap situasi ekonomi dan pasar global. Pasar saham biasanya bereaksi lebih cepat dibanding ekonomi riil karena investor membeli berdasarkan ekspektasi masa depan. Jika tekanan berlangsung lama, dampaknya bisa memengaruhi konsumsi masyarakat, investasi bisnis, hingga kepercayaan kelas menengah terhadap kondisi ekonomi nasional.
Apa dampak IHSG anjlok bagi investor ritel?
Penurunan IHSG paling terasa bagi investor ritel yang baru masuk pasar dalam beberapa tahun terakhir, terutama generasi muda yang belum pernah mengalami bear market panjang. Banyak investor pemula membeli saham saat kondisi bullish dan belum siap menghadapi volatilitas besar. Ketika market merah, portofolio bisa turun puluhan persen sehingga memicu stres finansial, panic selling, hingga keputusan investasi emosional yang justru memperbesar kerugian.
Apakah kondisi IHSG sekarang sama seperti saat COVID-19?
Situasi saat ini memiliki kemiripan psikologis dengan era COVID-19 karena sama-sama memicu ketakutan investor, tetapi penyebab fundamentalnya berbeda. Saat pandemi, pasar jatuh akibat ketidakpastian kesehatan global dan aktivitas ekonomi yang berhenti mendadak. Sementara pelemahan IHSG sekarang lebih dipengaruhi sentimen ekonomi, tekanan global, dan perubahan perilaku investor digital yang sangat reaktif terhadap informasi di media sosial.
Kenapa investor Gen Z lebih mudah panik saat saham turun?
Banyak investor Gen Z mulai berinvestasi ketika pasar sedang naik dan konten finansial di media sosial dipenuhi narasi cuan cepat. Akibatnya, sebagian investor muda belum terbiasa menghadapi market crash atau koreksi tajam. Ketika IHSG merah dan portofolio turun besar, mereka cenderung terlalu sering memantau aplikasi trading sehingga tekanan psikologis meningkat dan keputusan investasi menjadi impulsif.
Apa itu trading halt dan kenapa pernah diterapkan saat IHSG jatuh?
Trading halt adalah penghentian sementara perdagangan saham yang dilakukan regulator pasar modal ketika penurunan indeks dianggap terlalu ekstrem. Kebijakan ini pernah diterapkan oleh Bursa Efek Indonesia pada masa pandemi COVID-19 tahun 2020 untuk meredam kepanikan pasar dan memberi waktu investor mencerna situasi. Tujuannya bukan menghentikan penurunan secara permanen, tetapi menjaga stabilitas pasar agar tekanan jual tidak semakin tidak terkendali.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







