QRIS RI-Jepang Terhubung, BI Dorong Lonjakan Dagang Kedua Negara

AKURAT.CO Integrasi sistem pembayaran digital antara Indonesia dan Jepang resmi memasuki babak baru.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta meyakini konektivitas QRIS Indonesia dengan JPQR Jepang sejak 17 Agustus 2025 akan mendorong nilai perdagangan dan mempercepat arus transaksi digital kedua negara.
Filianingsih menyebut nilai perdagangan Indonesia dan Jepang telah mencapai 224 triliun yen sepanjang 2025. Menurut dia, integrasi sistem pembayaran lintas negara menjadi fondasi baru hubungan ekonomi RI-Jepang di tengah meningkatnya transaksi digital kawasan Asia.
Baca Juga: QRIS hingga SRBI Jadi Senjata BI Stabilkan Rupiah di Tengah Krisis
“Integrasi QRIS dengan JPQR memungkinkan transaksi merchant secara langsung dan membuat arus transaksi digital antarnegara menjadi lebih mulus,” ujar Filianingsih dalam keterangan di Jakarta, Selasa (26/5/2026).
Langkah tersebut dinilai strategis karena Jepang selama ini merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia.
Data Kementerian Perdagangan menunjukkan Jepang konsisten berada dalam 5 besar negara tujuan ekspor dan sumber impor Indonesia, terutama untuk sektor otomotif, mesin industri, elektronik, hingga energi.
Selain konektivitas pembayaran digital, Bank Indonesia juga terus mendorong implementasi skema Local Currency Transaction (LCT) antara rupiah dan yen.
Skema ini memungkinkan transaksi bilateral dilakukan menggunakan mata uang lokal tanpa harus bergantung pada dolar Amerika Serikat.
Filianingsih mengatakan penggunaan LCT dapat menekan biaya konversi valuta asing sekaligus mengurangi risiko volatilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global.
“Penggunaan mata uang lokal membuat transaksi bisnis menjadi lebih efisien dan mampu meminimalisasi risiko fluktuasi kurs,” katanya.
Senada dengan itu, Wakil Kepala Perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tokyo, Maria Renata Hutagalung menilai, kemudahan sistem pembayaran digital akan menjadi faktor penting dalam memperkuat hubungan ekonomi kedua negara.
Menurut Renata, pemanfaatan LCT RI-Jepang terus mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Jepang bahkan kini menjadi mitra LCT terbesar kedua bagi Indonesia setelah Malaysia.
“Kerja sama finansial Indonesia dan Jepang semakin kuat seiring fundamental ekonomi Indonesia yang tetap terjaga,” ujar Renata.
Di sisi investasi, sinyal positif juga datang dari pelaku usaha Jepang. Executive Vice President Japan External Trade Organization Kenichi Hirano menegaskan Jepang masih memandang Indonesia sebagai salah satu mitra ekonomi paling penting di Asia Tenggara.
Menurut Hirano, daya tarik pasar domestik Indonesia yang besar, pertumbuhan ekonomi yang stabil, serta perbaikan regulasi investasi menjadi alasan utama investor Jepang terus memperluas ekspansi bisnis di Tanah Air.
“Dengan dukungan regulasi yang semakin matang, investasi Jepang ke Indonesia diproyeksikan akan terus meningkat,” kata Hirano.
Forum IJIF 2026 juga menghasilkan sejumlah komitmen investasi baru dari perusahaan Jepang. Pongamia Co., Ltd menyatakan minat investasi di sektor energi terbarukan melalui pengembangan perkebunan tanaman pongamia untuk produksi biodiesel dan bioavtur di Indonesia.
Investasi tersebut sejalan dengan target transisi energi pemerintah yang tengah mempercepat pengembangan bahan bakar rendah emisi untuk sektor transportasi dan penerbangan.
Sementara itu, Onoda Inc. berencana membangun fasilitas perakitan gas meter ultrasonik berbasis teknologi Jepang di Indonesia. Proyek tersebut ditujukan untuk mendukung program perluasan jaringan gas rumah tangga nasional yang terus didorong pemerintah dalam beberapa tahun terakhir.
Masuknya investasi Jepang ke sektor energi hijau dan manufaktur dinilai menjadi sinyal bahwa hubungan ekonomi RI-Jepang mulai bergerak ke sektor bernilai tambah tinggi, tidak lagi hanya bertumpu pada perdagangan konvensional.
Jepang merupakan salah satu investor terbesar di Indonesia sejak era industrialisasi 1970-an. Dalam satu dekade terakhir, investasi Jepang banyak mengalir ke sektor otomotif, infrastruktur, energi, dan manufaktur.
Kini, transformasi digital melalui integrasi QRIS serta penguatan transaksi berbasis mata uang lokal dinilai membuka fase baru hubungan ekonomi kedua negara, terutama di tengah tren digitalisasi sistem pembayaran global dan upaya negara-negara Asia mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Bank Indonesia menyatakan akan terus memperluas kerja sama sistem pembayaran lintas negara dengan berbagai mitra strategis guna memperkuat ekosistem ekonomi digital nasional dan mempercepat integrasi keuangan regional Asia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal










