Kurs Dolar AS ke Rupiah Hari Ini 27 Mei 2026, Rupiah Ambles Tembus Rp17.800

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan pelemahan yang cukup mendalam pada perdagangan hari ini, Rabu (27/5/2026).
Pergerakan nilai tukar valuta asing (valas) pertengahan pekan ini menjadi sorotan tajam bagi para pelaku usaha, investor, maupun masyarakat luas. Rupiah yang terus terdepresiasi (melemah) memicu kekhawatiran baru terhadap potensi kenaikan biaya operasional industri dan harga barang-barang impor di pasar domestik.
Berikut ulasan mendalam mengenai rincian kurs dolar AS ke rupiah hari ini, Rabu (27/5/2026), baik di pasar spot maupun di sejumlah bank besar nasional.
Rincian Kurs USD ke IDR di Pasar Spot dan Bank Besar
Pada pembukaan pasar spot perdagangan Rabu (27/5/2026), rupiah langsung merosot 37,50 poin atau sekitar 0,21 persen ke level Rp17.833 per dolar AS. Posisi ini melanjutkan tren negatif dari hari sebelumnya, di mana mata uang domestik juga telah ditutup melemah di kisaran Rp17.788.
Bagi Anda yang perlu melakukan transaksi remitansi, penukaran valas, atau pembayaran internasional, berikut adalah rincian kurs jual dan beli dolar AS di beberapa perbankan utama Indonesia per hari ini:
Perbankan | Kurs Jual (Bank Menjual USD) | Kurs Beli (Bank Membeli USD) |
BCA (e-rate) | Rp17.850 | Rp17.730 |
Bank Mandiri (TT Counter) | Rp17.835 | Rp17.535 |
BNI | Rp17.835 | Rp17.535 |
BRI | Rp17.890 | Rp17.698 |
Catatan: Nilai kurs di atas dapat berubah sewaktu-waktu tergantung fluktuasi pasar live saat transaksi dilakukan di kantor cabang atau aplikasi banking.
Faktor Utama Penyebab Amblesnya Rupiah
Mengapa nilai tukar rupiah bisa tertekan sedalam ini terhadap dolar AS? Sejumlah pengamat dan analis pasar uang menyoroti dua faktor utama:
===•=
1. Sentimen Global dan Sikap Hawkish Bank Sentral
Indeks dolar AS (DXY) terpantau masih bertahan di level yang cukup kuat, yakni di kisaran 99.136. Di sisi lain, ketegangan geopolitik global dan fluktuasi mata uang regional seperti yen Jepang yang mendekati batas intervensi turut menyeret mata uang negara berkembang ke zona merah.
Sikap antisipatif terhadap guncangan harga komoditas global membuat aset safe haven seperti dolar AS lebih diburu oleh investor global.
2. Siklus Repatriasi Dividen dan Libur Pendek Domestik
Dari dalam negeri, bulan Mei selalu identik dengan tingginya permintaan valas oleh perusahaan asing guna keperluan repatriasi dividen (pengiriman keuntungan ke luar negeri).
Beban ini diperberat oleh kondisi pekan perdagangan domestik yang sangat pendek karena bertepatan dengan libur Hari Raya Idul Adha.
Minimnya volume perdagangan menjelang libur membuat likuiditas pasar menipis, sehingga fluktuasi harga menjadi lebih sensitif dan mudah terdorong ke arah pelemahan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








