AS-Iran Dekati Fase Damai, Saham AS Reli Tajam Bitcoin Terkapar

AKURAT.CO Wall Street mencatat lonjakan nilai pasar sekitar USD350 miliar atau setara lebih dari Rp5.700 triliun hanya dalam waktu 15 menit setelah muncul laporan mengenai draft kesepakatan gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran.
Di sisi lain, Bitcoin (BTC) justru bergerak berlawanan dengan turun lebih dari 3% dalam perdagangan harian.
Mengutip hasil laporan Axios, menyebut negosiator AS yang dipimpin Utusan Khusus, Steve Witkoff dan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi telah menyepakati nota kesepahaman perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari.
Baca Juga: Leverage Bitcoin Memanas, Pasar Kripto Dibayangi Koreksi Tajam
Kesepakatan tersebut masih menunggu persetujuan akhir dari Presiden AS Donald Trump dan pemimpin tertinggi Iran.
Kabar tersebut langsung memicu reli besar di pasar saham Amerika Serikat. Indeks S&P 500 dan Nasdaq melonjak ke level tertinggi baru dalam hitungan menit setelah laporan dipublikasikan.
Analis pasar keuangan, Bull Theory menyebut respons investor sangat agresif terhadap prospek meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah.
“USD350 miliar telah masuk ke pasar saham AS hanya dalam 15 menit setelah Axios melaporkan kesepakatan AS-Iran sudah selesai dan hanya menunggu persetujuan akhir Trump,” tulis Bull Theory dalam analisanya dikutip Jumat (29/5/2026).
Dalam draft kesepakatan itu, Iran disebut sepakat untuk tidak melanjutkan pengembangan senjata nuklir dan memprioritaskan pemusnahan cadangan uranium berkadar pengayaan tinggi selama 60 hari pertama.
Sebagai imbalannya, Washington akan mulai membahas pelonggaran sanksi ekonomi dan pelepasan dana Iran yang selama ini dibekukan.
Kerangka kerja tersebut juga mencakup pembukaan kembali jalur perdagangan laut secara bertahap dan kewajiban Teheran membersihkan ranjau di Selat Hormuz dalam waktu 30 hari.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis perdagangan energi global. Berdasarkan data Administrasi Informasi Energi AS (EIA), sekitar 20% pasokan minyak dunia melintasi wilayah tersebut setiap hari.
Karena itu, setiap perkembangan geopolitik di kawasan tersebut langsung memengaruhi sentimen pasar global.
Meski demikian, pemerintah AS menegaskan seluruh sanksi dan blokade laut terhadap Iran masih tetap berlaku sampai kesepakatan resmi benar-benar ditandatangani.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent mengatakan Washington belum akan melonggarkan tekanan ekonomi terhadap Iran dalam waktu dekat.
Baca Juga: Investor Kripto RI Terus Bertambah Jelang Bitcoin Pizza Day 2026
“Kami masih menunggu persetujuan final dari kesepakatan ini,” kata Bessent.
Ia juga memperingatkan negara maupun pihak yang membantu pungutan tol di Selat Hormuz akan menjadi target sanksi Treasury AS.
“Oman khususnya harus tahu bahwa Treasury AS akan menargetkan secara agresif pihak mana pun yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam memfasilitasi pungutan tol di Selat Hormuz,” ujar Bessent.
Selain itu, Treasury AS disebut telah memblokir hak pendaratan dan pengisian bahan bakar untuk dua maskapai penerbangan Iran sebagai bagian dari tekanan ekonomi yang masih berjalan.
Di tengah reli pasar saham global, Bitcoin justru mengalami tekanan tajam. Berdasarkan data TradingView, BTC turun hingga di bawah level USD73.000 dan diperdagangkan di kisaran USD72.890 atau melemah hampir 5% dalam 24 jam terakhir.
Pergerakan tersebut memperlihatkan adanya perubahan pola perilaku investor terhadap aset kripto. Ketika ketegangan geopolitik mereda, investor cenderung kembali masuk ke aset berisiko seperti saham teknologi dan meninggalkan Bitcoin.
Fenomena ini memperkuat kritik lama terhadap narasi Bitcoin sebagai aset lindung nilai atau safe haven. Miliarder AS Mark Cuban mengaku telah menjual sebagian besar kepemilikan Bitcoin miliknya karena menilai aset kripto kini lebih diperdagangkan sebagai instrumen spekulatif.
“Jika mengikuti logika lindung nilai, seharusnya BTC mencetak rekor baru. Tapi kini Bitcoin diperdagangkan seperti aset spekulatif berisiko. Bukan itu tujuan awal BTC diciptakan,” kata Cuban.
Perdebatan mengenai fungsi Bitcoin kembali menguat sepanjang 2026. Saat harga emas dunia mendekati level USD5.000 per troy ounce akibat tensi geopolitik global, performa Bitcoin justru tertinggal.
Namun, CEO Blockstream Adam Back menilai Bitcoin masih menunjukkan daya tahan relatif kuat dibanding fase eskalasi konflik sebelumnya.
“BTC sebenarnya masih naik sekitar 25 persen dari titik terendah sebelumnya selama periode eskalasi Iran,” ujar Adam Back.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








