IHSG Rupiah Kompak Memerah, Ini Sebabnya

AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup memerah hampir 5%, tepatnya 4,94% (305,94 poin) ke 5.889,48 pada penutupan perdagangan sesi I Rabu (3/6/2026).
Sementara itu, rupiah juga terpantau memerah 99 poin (0,56%) ke level Rp17.938, berdasarkan data dari Bloomberg.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menilai sentimen rupiah dan IHSG saling bertaut. Ia menilai pemelamahan rupiah, selain juga penyusutan surplus neraca perdagangan menjadi penahan laju IHSG.
Baca Juga: Rupiah Melemah di Tengah Penguatan Data Ekonomi, Investor Fokus ke Risiko GLobal
Seperti diketahui, pada April 2026, surplus dagang menyusut ke USD89,1 juta dari sebelumnya USD3,32 miliar pada Maret 2026, menjadi yang terendah dalam 6 tahun.
"Di sisi lain, para pelaku pasar mulai mencermati dan bersiap menghadapi volatilitas baru dari sentimen rebalancing indeks FTSE Russell yang dijadwalkan efektif pada 22 Juni mendatang," ujar Nafan kepada Akurat.co, Rabu (3/6/2026).
Dari global, adapun ketegangan antara Washington dan Teheran meningkat dalam beberapa pekan terakhir serta operasi militer Israel di Lebanon, mengancam gencatan senjata diantara berbagai pihak yang bertikai tersebut.
"Perilisan US Nonfarm Payrolls per Mei pada akhir pekan ini juga dinantikan karena akan mempengaruhi ekspektasi arah suku bunga The Fed ke depannya," imbuh Nafan.
Senada, Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi juga menilai penyempitan surplus dagang dan inflasi turut menekan laju rupiah dan IHSG.
Pada Mei 2026, terjadi inflasi year on year (y-on-y) sebesar 3,08 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,40, dan 0,28% secara bulanan. Meski masih dalam kisaran BI dan pemerintah, angkanya dalam tren kenaikan.
"Penyebabnya inflasi tinggi dan surflus perdagangan April yang menyempit," ujar Ibrahim kepada Akurat.co.
Sementara riset Stockbit menunjukkan pasar juga tengah mencermati pengumuman MSCI Market Accessibility Review pada Juni 2026 sebagai katalis substansial.
Ada dua hal yang menjadi fokus utama, apakah pembekuan FIF/NOS, penambahan ke IMI, dan migrasi size–segment ke atas akan dicabut untuk review selanjutnya (Agustus 2026).
Kemudian soal penegasan atau sinyal lebih lanjut bahwa risiko downgrade Indonesia ke frontier market sudah tidak menjadi ancaman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







