Bitcoin Anjlok 9 Persen dalam Tiga Hari, Apakah Akan Turun ke US$65.000 atau Mulai Rebound?

AKURAT.CO Awal Juni 2026 menjadi periode yang tidak nyaman bagi banyak investor kripto. Dalam waktu hanya tiga hari, Bitcoin kehilangan lebih dari 9% nilainya dan jatuh ke area US$66.800. Penurunan ini tidak hanya menghapus keuntungan jangka pendek sebagian investor, tetapi juga memicu gelombang likuidasi besar-besaran di pasar aset digital.
Ketika harga bergerak turun begitu cepat, pertanyaan yang langsung muncul adalah: apakah ini hanya koreksi sementara atau awal dari penurunan yang lebih dalam menuju level US$65.000 bahkan lebih rendah?
Menurut analisis Ajaib yang menggunakan data per 3 Juni 2026 pukul 08.00 WIB, tekanan terhadap pasar kripto saat ini berasal dari kombinasi faktor geopolitik, kebijakan moneter Amerika Serikat, dan perubahan sentimen investor institusional.
Ringkasan
Berikut faktor utama yang menyebabkan Bitcoin anjlok:
Konflik geopolitik setelah Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan rudal terhadap pangkalan militer AS di Kuwait.
Meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve.
Arus keluar dana dari ETF Bitcoin Spot mencapai US$2,1 miliar dalam 10 hari perdagangan terakhir.
Likuidasi posisi kripto senilai sekitar US$1,5 miliar yang mempercepat tekanan jual.
Hal yang perlu dipantau investor:
Apakah Bitcoin mampu bertahan di atas level US$65.000.
Keputusan dan pernyataan terbaru dari Federal Reserve.
Arus dana ETF Bitcoin Spot dalam beberapa hari ke depan.
Perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah.
Mengapa Bitcoin Anjlok Lebih dari 9% dalam Tiga Hari?
Penurunan Bitcoin kali ini bukan sekadar akibat aksi ambil untung biasa. Pasar sedang menghadapi kombinasi tekanan yang jarang terjadi secara bersamaan.
Salah satu pemicunya adalah meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Iran mengklaim bertanggung jawab atas peluncuran rudal yang menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait. Konflik semacam ini biasanya memicu fenomena yang dikenal sebagai risk-off sentiment, yaitu kondisi ketika investor mengurangi eksposur pada aset berisiko.
Bitcoin, meskipun sering disebut sebagai aset alternatif, masih dipandang sebagai instrumen berisiko tinggi oleh sebagian besar investor global. Ketika ketidakpastian meningkat, dana cenderung berpindah ke aset yang dianggap lebih aman.
Panji Yudha, Financial Expert Ajaib, menjelaskan bahwa tekanan geopolitik datang bersamaan dengan sentimen negatif dari kebijakan moneter Amerika Serikat.
"Pasar aset kripto mengalami turbulensi hebat di awal Juni seiring memanasnya konflik geopolitik dan memburuknya sentimen makro," ujar Panji Yudha melalui hasil riset yang diterima AKURAT.CO, Kamis, 4 Juni 2026.
Kondisi tersebut membuat Bitcoin turun ke area US$66.800 dan mencatatkan koreksi lebih dari 9% sejak awal Juni.
Mengapa Investor Institusi Mulai Menarik Dana dari ETF Bitcoin?
Salah satu data yang paling menarik perhatian bukanlah penurunan harga Bitcoin itu sendiri, melainkan arus keluar dana dari ETF Bitcoin Spot.
Dalam 10 hari perdagangan terakhir, ETF Bitcoin Spot mencatatkan net outflow sebesar US$2,1 miliar. Ini menjadi salah satu periode penebusan terbesar sejak produk ETF Bitcoin diluncurkan.
Banyak investor ritel sering kali hanya fokus pada grafik harga. Padahal, arus dana ETF justru sering memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai perilaku investor institusional.
Ketika investor besar menarik dana dari ETF, itu berarti terjadi pengurangan eksposur terhadap Bitcoin dalam skala yang lebih besar dibandingkan aktivitas investor individu.
Di sinilah muncul insight yang sering terlewat.
Penurunan harga dapat dipicu oleh emosi sesaat, tetapi outflow ETF mencerminkan keputusan investasi yang lebih terukur.
Karena itu, arus keluar dana sebesar US$2,1 miliar menjadi sinyal yang tidak bisa diabaikan.
Panji Yudha menyebut bahwa tekanan jual kali ini berjalan seiring dengan eksodus dana dari Wall Street.
"ETF Bitcoin Spot mencatatkan net outflow sebesar US$2,1 miliar dalam 10 hari perdagangan terakhir, menjadi salah satu rentetan penebusan terburuk sejak peluncurannya," kata Panji.
Seberapa Penting Level US$65.000 bagi Bitcoin?
Saat ini perhatian pasar tertuju pada satu angka: US$65.000.
Bagi sebagian orang, angka tersebut mungkin hanya terlihat sebagai level harga biasa. Namun dalam dunia trading, level tertentu memiliki makna psikologis yang besar.
Mengapa US$65.000 penting?
Karena level tersebut berpotensi menjadi area pertahanan terakhir sebelum pasar memasuki fase koreksi yang lebih dalam.
Jika Bitcoin mampu bertahan di atas area tersebut, kepercayaan investor bisa mulai pulih dan membuka peluang rebound.
Sebaliknya, jika level itu ditembus dengan volume jual yang besar, pasar berpotensi mencari titik keseimbangan baru yang lebih rendah.
Menariknya, banyak trader profesional tidak hanya memperhatikan harga saat ini, tetapi juga reaksi pasar ketika mendekati area support penting.
Dengan kata lain, yang lebih penting bukan hanya apakah Bitcoin menyentuh US$65.000, melainkan bagaimana perilaku pembeli dan penjual ketika harga berada di area tersebut.
Baca Juga: OJK Rombak Pimpinan, Pengawasan Kripto dan Bursa Karbon Diperkuat
Baca Juga: Jelang Kick-off Piala Dunia 2026, Kripto Sepak Bola Makin Bergairah
Apakah Bitcoin Berpotensi Rebound?
Jawabannya: ya, tetapi masih ada sejumlah syarat yang harus terpenuhi.
Saat ini terdapat dua kekuatan yang saling berlawanan.
Di satu sisi, sentimen makro dan geopolitik masih menekan pasar. Di sisi lain, beberapa perkembangan positif di ekosistem kripto menunjukkan bahwa aktivitas fundamental belum sepenuhnya melemah.
Contohnya, Avalanche (AVAX) mencatatkan lonjakan aktivitas on-chain hingga 761% setelah FIFA merilis koleksi digital Right-to-Ticket (RTT) untuk Piala Dunia 2026 di jaringan tersebut.
Selain itu, MoneyGram meluncurkan stablecoin MGUSD di ekosistem Stellar (XLM), sementara muncul spekulasi bahwa Grayscale akan segera menghadirkan ETF berbasis Hyperliquid (HYPE).
Perkembangan seperti ini menunjukkan bahwa inovasi dan adopsi di sektor aset digital masih terus berlangsung meskipun harga sedang terkoreksi.
Ini menjadi paradoks yang menarik.
Harga dan fundamental tidak selalu bergerak searah dalam jangka pendek.
Sering kali pasar jatuh bukan karena teknologi memburuk, tetapi karena investor sedang mengurangi risiko akibat faktor eksternal.
Simulasi: Apa yang Biasanya Terjadi pada Investor Saat Bitcoin Turun Tajam?
Bayangkan ada dua investor.
Investor pertama membeli Bitcoin di area US$73.000 beberapa minggu lalu.
Investor kedua membeli Bitcoin saat harga masih berada di sekitar US$50.000.
Ketika Bitcoin turun ke US$66.800, keduanya menghadapi situasi yang berbeda.
Investor pertama melihat portofolionya berada dalam posisi rugi. Dalam kondisi seperti ini, tekanan psikologis biasanya lebih besar dan risiko panic selling meningkat.
Sebaliknya, investor kedua masih berada dalam posisi untung. Koreksi harga mungkin dianggap sebagai volatilitas normal yang tidak mengubah strategi jangka panjang.
Inilah alasan mengapa koreksi pasar sering memicu reaksi yang berbeda-beda.
Di lapangan, fase seperti ini biasanya menghasilkan dua kelompok investor:
Investor yang menjual karena takut kerugian semakin besar.
Investor yang mulai melakukan akumulasi bertahap di area harga yang dianggap menarik.
Apa Dampaknya bagi Investor Indonesia?
Bagi investor Indonesia, penurunan Bitcoin tidak hanya berdampak pada portofolio kripto.
Kondisi global yang memicu pelemahan Bitcoin juga dapat memengaruhi pasar keuangan lainnya, termasuk saham teknologi dan aset berisiko lain.
Investor pemula perlu memahami bahwa volatilitas seperti ini merupakan bagian normal dari siklus pasar kripto.
Kesalahan yang sering terjadi adalah mengambil keputusan hanya berdasarkan pergerakan harga harian tanpa memahami faktor yang sedang menggerakkan pasar.
Saat ini fokus utama bukan sekadar melihat apakah Bitcoin turun atau naik dalam satu hari, melainkan memahami perubahan sentimen global yang menjadi penyebabnya.
Bitcoin Sedang Diuji oleh Ketidakpastian Global
Penurunan Bitcoin lebih dari 9% dalam tiga hari menunjukkan bahwa pasar sedang menghadapi tekanan yang serius. Konflik geopolitik, meningkatnya kekhawatiran terhadap kebijakan Federal Reserve, dan arus keluar dana ETF menciptakan kombinasi sentimen negatif yang sulit diabaikan.
Namun di balik koreksi tersebut, aktivitas dan inovasi di sektor kripto masih terus berjalan. Ini menunjukkan bahwa penurunan harga belum tentu mencerminkan melemahnya fundamental industri secara keseluruhan.
Pertanyaan terbesar saat ini bukan hanya apakah Bitcoin akan turun ke US$65.000 atau mulai rebound. Yang lebih penting adalah apakah kepercayaan investor mampu pulih di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Pantau terus perkembangan pasar kripto, kebijakan moneter Amerika Serikat, serta arus dana institusional karena faktor-faktor tersebut kemungkinan besar akan menentukan arah Bitcoin dalam beberapa pekan ke depan.
Baca Juga: Harga Bitcoin Mulai Lesu, 3 Altcoin Ini Jadi Sorotan Jelang Juni 2026
FAQ
1. Kenapa Bitcoin turun lebih dari 9% dalam tiga hari?
Bitcoin turun lebih dari 9% dalam tiga hari akibat kombinasi sentimen negatif dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kekhawatiran pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed), serta arus keluar dana dari ETF Bitcoin Spot. Faktor-faktor tersebut memicu aksi jual besar-besaran dan likuidasi posisi leverage di pasar kripto sehingga tekanan terhadap harga Bitcoin semakin kuat.
2. Apakah Bitcoin akan turun ke US$65.000?
Level US$65.000 saat ini menjadi area support psikologis yang penting bagi pasar. Jika tekanan jual masih berlanjut dan sentimen global memburuk, Bitcoin berpotensi menguji level tersebut. Namun jika muncul minat beli dari investor institusi atau sentimen positif dari pasar keuangan global, harga Bitcoin juga berpeluang bertahan dan memulai fase rebound dari area tersebut.
3. Apa penyebab utama investor institusi menjual Bitcoin?
Salah satu indikator yang menunjukkan berkurangnya minat investor institusi adalah meningkatnya outflow ETF Bitcoin Spot. Ketika ketidakpastian ekonomi global meningkat, investor besar biasanya mengurangi eksposur terhadap aset berisiko seperti kripto dan mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman. Karena itu, arus keluar dana ETF sering dianggap sebagai cerminan perubahan sentimen investor profesional terhadap pasar Bitcoin.
4. Apakah saat Bitcoin turun merupakan waktu yang tepat untuk membeli?
Tidak ada jawaban yang berlaku untuk semua investor karena keputusan membeli Bitcoin bergantung pada profil risiko, tujuan investasi, dan strategi masing-masing. Sebagian investor melihat koreksi harga sebagai peluang akumulasi, sementara yang lain memilih menunggu konfirmasi arah pasar. Yang terpenting adalah memahami penyebab penurunan harga dan menghindari keputusan investasi yang hanya didasarkan pada emosi sesaat.
5. Bagaimana dampak konflik geopolitik terhadap harga Bitcoin?
Konflik geopolitik dapat meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan global sehingga investor cenderung mengurangi kepemilikan aset berisiko. Dalam kondisi seperti ini, harga Bitcoin dan aset kripto lainnya sering mengalami tekanan karena banyak pelaku pasar memilih menyimpan dana dalam bentuk aset yang dianggap lebih stabil. Semakin tinggi eskalasi konflik, semakin besar pula potensi volatilitas di pasar kripto.
6. Apa arti outflow ETF Bitcoin bagi pasar kripto?
Outflow ETF Bitcoin berarti lebih banyak dana yang keluar dibandingkan dana yang masuk ke produk investasi tersebut. Kondisi ini penting karena ETF menjadi salah satu jalur utama investasi institusional ke Bitcoin. Jika arus keluar terus berlanjut, pasar dapat menafsirkan bahwa investor besar sedang mengurangi eksposur terhadap aset digital, yang berpotensi memberikan tekanan tambahan pada harga Bitcoin.
7. Apakah Bitcoin masih berpotensi rebound pada Juni 2026?
Peluang rebound Bitcoin masih terbuka selama harga mampu bertahan di area support penting dan sentimen pasar mulai membaik. Investor perlu memantau perkembangan kebijakan The Fed, arus dana ETF Bitcoin, serta kondisi geopolitik global. Jika tekanan makro mereda dan minat beli kembali meningkat, Bitcoin berpotensi memulihkan sebagian koreksi yang terjadi pada awal Juni 2026.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








