Akurat Logo

Pembiayaan Berkelanjutan Bank DBS Indonesia Capai Rp15,6 Triliun pada 2025, Setara 19,1 Persen dari Total Kredit

Idham Nur Indrajaya | 8 Juni 2026, 15:14 WIB
Pembiayaan Berkelanjutan Bank DBS Indonesia Capai Rp15,6 Triliun pada 2025, Setara 19,1 Persen dari Total Kredit
Pembiayaan Berkelanjutan Bank DBS Indonesia mencapai Rp15,6 triliun pada 2025, setara 19,1% total kredit dan dorong ekonomi hijau. dok. DBS

AKURAT.CO Di tengah perubahan iklim, transformasi ekonomi, dan meningkatnya tuntutan terhadap praktik bisnis yang bertanggung jawab, perbankan menghadapi tantangan baru. Kini, keberhasilan bank tidak hanya diukur dari besarnya laba, tetapi juga dari kontribusinya terhadap pembangunan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Salah satu indikator yang menunjukkan perubahan tersebut terlihat dari pencapaian Bank DBS Indonesia sepanjang 2025.

Ringkasan

Dikutip dari Laporan Tahunan dan Keberlanjutan Bank DBS Indonesia 2025:

  • Portofolio pembiayaan untuk kegiatan bisnis berkelanjutan mencapai Rp15,6 triliun.

  • Angka tersebut meningkat dari Rp14,1 triliun pada 2024.

  • Porsi pembiayaan berkelanjutan mencapai 19,1% dari total penyaluran kredit.

  • Bank DBS Indonesia membukukan laba bersih Rp1,72 triliun, tumbuh sekitar 15,8% dibandingkan tahun sebelumnya.

Pencapaian ini menunjukkan bahwa pembiayaan berkelanjutan tidak lagi menjadi program pelengkap, melainkan telah menjadi bagian penting dari strategi bisnis perbankan modern.

Mengapa Pembiayaan Berkelanjutan Bank DBS Indonesia Tumbuh pada 2025?

Kenaikan portofolio sustainability financing dari Rp14,1 triliun menjadi Rp15,6 triliun mungkin terlihat sederhana jika hanya dilihat dari nominalnya. Namun dari perspektif industri perbankan, pertumbuhan tersebut mencerminkan perubahan mendasar dalam arah penyaluran kredit.

Bank kini semakin selektif dalam menentukan sektor yang menerima pembiayaan. Fokus tidak lagi hanya pada potensi keuntungan finansial jangka pendek, tetapi juga pada dampak sosial dan lingkungan yang dihasilkan.

Presiden Direktur PT Bank DBS Indonesia, Lim Chu Chong, menegaskan bahwa keberlanjutan telah menjadi bagian integral dari pengambilan keputusan bisnis perusahaan.

“Dalam menjalankan bisnis, Bank DBS Indonesia tidak hanya berfokus pada pertumbuhan, tetapi juga pada dampak positif untuk masa depan. Kami menjaga keseimbangan antara kinerja ekonomi, sosial, lingkungan, dan tata kelola (ESG) yang terintegrasi dalam setiap keputusan bisnis,” ujar Lim Chu Chong melalui keterangan tertulis yang diterima AKURAT.CO, Senin, 8 Juni 2026.

Menurutnya, pencapaian tersebut menjadi tonggak penting dalam memperkuat pembiayaan Kategori Keuangan Usaha Berkelanjutan (KKUB) sekaligus mencerminkan komitmen perusahaan terhadap kesejahteraan nasabah dan masyarakat.

Pertumbuhan pembiayaan berkelanjutan juga sejalan dengan implementasi POJK Nomor 51/POJK.03/2017 yang mendorong lembaga jasa keuangan untuk mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dalam aktivitas bisnisnya.

Apa Arti Portofolio Rp15,6 Triliun bagi Industri Perbankan Nasional?

Angka Rp15,6 triliun tidak hanya penting bagi Bank DBS Indonesia, tetapi juga menjadi sinyal mengenai arah perkembangan industri perbankan nasional.

Jika hampir seperlima dari total kredit telah masuk kategori pembiayaan berkelanjutan, maka hal ini menunjukkan bahwa pasar mulai memberikan nilai ekonomi nyata terhadap proyek-proyek yang mendukung transisi menuju ekonomi hijau.

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak pihak menganggap ESG hanya sebagai tren atau kewajiban regulasi. Namun data terbaru menunjukkan sesuatu yang berbeda.

Keberlanjutan kini mulai menjadi bagian dari strategi pertumbuhan.

Ini penting karena risiko bisnis masa depan semakin banyak dipengaruhi oleh faktor non-keuangan seperti perubahan iklim, ketahanan rantai pasok, efisiensi energi, dan tata kelola perusahaan.

Bank yang lebih cepat beradaptasi terhadap perubahan tersebut berpotensi memiliki portofolio yang lebih tahan terhadap gejolak ekonomi jangka panjang.

Dengan kata lain, pembiayaan berkelanjutan bukan hanya tentang menyelamatkan lingkungan, tetapi juga tentang mengelola risiko bisnis secara lebih cerdas.

Bagaimana Sustainability Financing Mendukung Ekonomi Hijau Indonesia?

Sustainability financing memiliki peran penting dalam mempercepat pembangunan ekonomi hijau.

Pendanaan yang disalurkan ke sektor-sektor berkelanjutan memungkinkan pelaku usaha mengembangkan model bisnis yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan memiliki dampak sosial positif.

Bank DBS Indonesia menerjemahkan komitmen tersebut melalui berbagai produk dan layanan, termasuk:

  • Spark Savings (sebelumnya Green Savings)

  • Reksa dana tematik ESG

  • Obligasi hijau

  • Pembiayaan usaha berkelanjutan

Keberadaan instrumen tersebut membantu memperluas akses masyarakat terhadap produk keuangan yang mendukung pembangunan berkelanjutan.

Simulasi Nyata: Bagaimana Dampaknya bagi Pelaku Usaha?

Bayangkan sebuah usaha pengolahan hasil pertanian di Flores yang ingin meningkatkan kapasitas produksinya.

Dalam skema pembiayaan konvensional, fokus utama biasanya hanya pada kemampuan membayar pinjaman.

Namun dalam pendekatan sustainability financing, pelaku usaha juga didorong menerapkan praktik yang lebih efisien, seperti penggunaan energi yang lebih hemat, pengelolaan limbah yang lebih baik, hingga peningkatan kesejahteraan pekerja.

Hasil akhirnya bukan hanya peningkatan pendapatan perusahaan, tetapi juga manfaat yang dirasakan masyarakat sekitar.

Mengapa Kinerja Keuangan dan ESG Kini Semakin Sulit Dipisahkan?

Salah satu temuan menarik dari laporan DBS Indonesia adalah pertumbuhan kinerja keuangan yang berjalan seiring dengan penguatan agenda keberlanjutan.

Sepanjang 2025:

  • Pendapatan bunga bersih naik menjadi Rp6,13 triliun.

  • Laba bersih tumbuh menjadi Rp1,72 triliun.

  • Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 22,22%.

Kondisi ini menunjukkan bahwa fokus pada ESG tidak menghambat profitabilitas.

Sebaliknya, keberlanjutan justru dapat menjadi sumber pertumbuhan baru.

Selama bertahun-tahun, terdapat asumsi bahwa perusahaan harus memilih antara keuntungan atau dampak sosial. Namun pengalaman banyak institusi keuangan global menunjukkan bahwa kedua hal tersebut dapat berjalan bersamaan.

Paradoks ESG di Industri Perbankan

Inilah paradoks yang menarik.

Dahulu ESG sering dianggap sebagai beban tambahan karena membutuhkan investasi, pelaporan, dan pengawasan yang lebih kompleks.

Kini situasinya berubah.

Investor global semakin memperhatikan aspek keberlanjutan dalam pengambilan keputusan investasi. Nasabah korporasi juga mulai menuntut akses pembiayaan yang selaras dengan target transisi energi dan keberlanjutan.

Akibatnya, bank yang lebih cepat membangun ekosistem ESG justru memperoleh peluang pertumbuhan yang lebih besar.

Dengan kata lain, ESG telah berevolusi dari sekadar kewajiban menjadi keunggulan kompetitif.

Baca Juga: Dorong Ekonomi Hijau dan Inklusif, Sustainable Loans BRI Tembus Rp811,9 Triliun per Desember 2025

Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Siap Salurkan Sustainable Aviation Fuel, Dukung Penerbangan Rendah Emisi

Bagaimana Dampak Pembiayaan Berkelanjutan terhadap UMKM dan Masyarakat?

Dampak keberlanjutan tidak hanya terlihat pada laporan keuangan perusahaan.

Secara kumulatif, Bank DBS Indonesia telah menyalurkan lebih dari Rp3,8 triliun kepada individu berpenghasilan rendah melalui berbagai mitra ekosistem pembiayaan.

Selain itu, perusahaan juga menyalurkan pinjaman modal kerja beredar sebesar Rp70 miliar untuk mendukung UMKM.

Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) mencapai 6,97%, melampaui target internal perusahaan.

Simulasi Lapangan: UMKM dan Akses Modal

Salah satu tantangan terbesar UMKM di Indonesia adalah akses pembiayaan.

Dalam praktiknya, banyak pelaku usaha kecil memiliki produk yang kompetitif tetapi kesulitan memperoleh modal karena keterbatasan agunan atau rekam jejak kredit.

Melalui ekosistem pembiayaan yang lebih inklusif, peluang UMKM untuk berkembang menjadi lebih besar.

Ketika sebuah UMKM memperoleh tambahan modal kerja, dampaknya sering kali meluas ke penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan keluarga, hingga penguatan ekonomi lokal.

Apa Strategi DBS Indonesia dalam Memperkuat Keuangan Berkelanjutan?

Bank DBS Indonesia menjalankan strategi keberlanjutan melalui tiga pilar utama:

  1. Perbankan Bertanggung Jawab.

  2. Praktik Bisnis Bertanggung Jawab.

  3. Dampak Melampaui Perbankan.

Implementasi strategi tersebut terlihat dari berbagai program sosial dan lingkungan yang dijalankan perusahaan.

Melalui DBS Foundation, lebih dari SGD18,2 juta telah disalurkan untuk mendukung organisasi nirlaba dan bisnis berdampak sejak 2024.

Selain itu, DBS Foundation mengalokasikan hibah sebesar SGD850.000 kepada lima organisasi dan wirausaha sosial di Indonesia, yakni DoctorTool, Nazava Water Filters, Parongpong RAW Lab, Sosial Business Indonesia, dan KONEKIN.

Program FEAST! di Flores juga memberdayakan puluhan kader desa melalui pelatihan pertanian cerdas iklim, literasi keuangan, serta diversifikasi pangan.

Sementara program Food Rescue Warrior bersama FoodCycle Indonesia telah menyediakan lebih dari 744.500 porsi makanan dan mengalihkan lebih dari 425.600 kilogram limbah makanan dari rantai pasok.

Komitmen tersebut turut mengantarkan Bank DBS Indonesia meraih berbagai penghargaan internasional, termasuk World’s Best Bank for Corporate Responsibility 2025 dari Euromoney dan Best Bank for Sustainable Finance dari Global Finance.

Masa Depan Pembiayaan Berkelanjutan di Indonesia

Pertumbuhan pembiayaan berkelanjutan Bank DBS Indonesia menjadi sinyal bahwa industri perbankan sedang bergerak menuju fase baru.

Ke depan, persaingan antarbank kemungkinan tidak hanya ditentukan oleh besarnya aset atau laba, tetapi juga oleh kemampuan mereka mendukung transformasi ekonomi yang lebih hijau dan inklusif.

Ketika hampir 20% portofolio kredit telah masuk kategori berkelanjutan, muncul pertanyaan yang semakin relevan: apakah sustainability financing akan menjadi standar baru dalam industri perbankan Indonesia?

Jika tren regulasi, investasi global, dan preferensi konsumen terus bergerak ke arah yang sama, jawabannya tampaknya semakin mendekati "ya".

Seperti yang disampaikan Lim Chu Chong, perusahaan optimistis dapat terus menjadi mitra tepercaya bagi nasabah, karyawan, dan masyarakat luas sembari menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.

Pada akhirnya, keberhasilan pembiayaan berkelanjutan bukan sekadar soal besarnya angka kredit yang disalurkan. Yang lebih penting adalah bagaimana dana tersebut mampu menciptakan dampak nyata bagi ekonomi, lingkungan, dan kehidupan masyarakat Indonesia di masa depan.

Pantau terus perkembangan tren keuangan berkelanjutan dan transformasi industri perbankan Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.

Baca Juga: Dirjen Pajak: PP 20/2026 Agar UMKM Naik Kelas

Baca Juga: Revisi POJK Keuangan Berkelanjutan Perlu Perkuat Perlindungan HAM dan Cegah Greenwashing

FAQ

1. Apa itu pembiayaan berkelanjutan yang dijalankan Bank DBS Indonesia?

Pembiayaan berkelanjutan adalah penyaluran dana atau kredit kepada sektor usaha dan proyek yang memberikan dampak positif terhadap lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). Dalam praktiknya, Bank DBS Indonesia mengarahkan sebagian portofolio pembiayaannya untuk mendukung ekonomi hijau, inklusi keuangan, usaha berkelanjutan, serta berbagai inisiatif yang selaras dengan prinsip keuangan berkelanjutan yang ditetapkan regulator. Pendekatan ini bertujuan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tetap memperhatikan keberlanjutan jangka panjang.

2. Mengapa portofolio pembiayaan berkelanjutan sebesar Rp15,6 triliun dianggap penting?

Nilai pembiayaan berkelanjutan sebesar Rp15,6 triliun menjadi indikator bahwa sustainability financing semakin menjadi bagian utama strategi bisnis perbankan. Angka tersebut setara dengan 19,1% dari total kredit Bank DBS Indonesia, menunjukkan bahwa pendanaan berbasis ESG tidak lagi bersifat pelengkap. Bagi industri keuangan, pencapaian ini menandakan meningkatnya permintaan terhadap proyek dan bisnis yang mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon serta pembangunan yang lebih inklusif.

3. Bagaimana pembiayaan berkelanjutan dapat mendukung ekonomi hijau Indonesia?

Pembiayaan berkelanjutan membantu mempercepat pengembangan sektor-sektor yang berkontribusi terhadap ekonomi hijau, seperti energi bersih, pengelolaan sumber daya yang efisien, pertanian berkelanjutan, dan usaha yang memiliki dampak sosial positif. Melalui akses pendanaan yang lebih luas, pelaku usaha dapat berinvestasi pada teknologi ramah lingkungan, meningkatkan efisiensi operasional, serta menciptakan model bisnis yang lebih tahan terhadap risiko perubahan iklim dan dinamika ekonomi global.

4. Apa hubungan antara ESG dan kinerja keuangan bank?

ESG dan kinerja keuangan kini semakin saling berkaitan karena faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola memengaruhi kualitas portofolio bisnis jangka panjang. Bank yang mampu mengelola risiko ESG dengan baik cenderung memiliki daya tahan lebih tinggi terhadap gejolak ekonomi dan perubahan regulasi. Hal ini terlihat dari Bank DBS Indonesia yang tetap membukukan pertumbuhan laba bersih menjadi Rp1,72 triliun pada 2025 sambil terus memperluas portofolio pembiayaan berkelanjutannya.

5. Bagaimana dampak pembiayaan berkelanjutan bagi UMKM dan masyarakat?

Dampak pembiayaan berkelanjutan tidak hanya dirasakan perusahaan besar, tetapi juga UMKM dan masyarakat berpenghasilan rendah. Bank DBS Indonesia tercatat telah menyalurkan lebih dari Rp3,8 triliun kepada individu berpenghasilan rendah melalui mitra pembiayaan terpercaya serta menyediakan dukungan modal kerja bagi UMKM. Akses pendanaan yang lebih inklusif membantu pelaku usaha mengembangkan bisnis, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat perekonomian daerah secara berkelanjutan.

6. Mengapa semakin banyak bank fokus pada sustainability financing?

Perbankan global mulai melihat sustainability financing sebagai peluang pertumbuhan sekaligus strategi mitigasi risiko. Selain didorong regulasi dan tuntutan investor, pembiayaan berbasis keberlanjutan juga dianggap mampu menghasilkan portofolio yang lebih berkualitas dalam jangka panjang. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap perubahan iklim dan tanggung jawab sosial perusahaan, bank yang aktif mengembangkan keuangan berkelanjutan berpotensi memperoleh keunggulan kompetitif di masa depan.

7. Apa saja program keberlanjutan yang dijalankan Bank DBS Indonesia selain pembiayaan?

Selain memperluas pembiayaan berkelanjutan, Bank DBS Indonesia menjalankan berbagai program sosial dan lingkungan melalui DBS Foundation. Inisiatif tersebut mencakup dukungan kepada wirausaha sosial, peningkatan inklusi keuangan, penguatan ketahanan pangan, program pengurangan limbah makanan, hingga pelatihan keterampilan digital bagi pelajar dan mahasiswa. Langkah ini menunjukkan bahwa strategi keberlanjutan perusahaan tidak hanya berfokus pada aktivitas perbankan, tetapi juga pada penciptaan dampak sosial yang lebih luas bagi masyarakat Indonesia.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.