Akurat Logo

BRI Buyback Saham Rp500 Miliar, Sinyal Kuatnya Fundamental di Tengah Fluktuasi Pasar

Yosi Winosa | 12 Juni 2026, 15:41 WIB
BRI Buyback Saham Rp500 Miliar, Sinyal Kuatnya Fundamental di Tengah Fluktuasi Pasar
Saham BBRI menguat

AKURAT.CO Di tengah pasar modal yang masih berfluktuasi, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mengambil langkah yang biasanya sangat diperhatikan investor: membeli kembali (buyback) sahamnya sendiri hingga maksimal Rp500 miliar.

Dalam keterbukaan informasi yang diunggah manajemen di BEI, Jumat (12/6/2026), disebutkan langkah ini menjadi bagian dari kebijakan yang difasilitasi regulator untuk menjaga stabilitas pasar di tengah kondisi volatilitas tinggi.

Bagi investor, buyback sering dibaca bukan sekadar aksi korporasi teknis—tetapi juga sinyal kepercayaan manajemen terhadap fundamental perusahaan.

Kenapa Buyback BRI Menarik Diperhatikan?

BRI menegaskan buyback dilakukan menggunakan kas internal perusahaan, tanpa mengganggu struktur modal maupun operasional bisnis.

Perseroan juga menyatakan pelaksanaan buyback tidak akan membuat kekayaan bersih turun di bawah batas regulasi dan tidak berdampak signifikan terhadap pendapatan maupun biaya operasional.

“Kami menilai valuasi BBRI saat ini masih berada di bawah nilai wajarnya atau belum sepenuhnya merefleksikan kinerja dan potensi bisnis perseroan,” ujar Corporate Secretary BRI, Dhanny.

Baca Juga: Buyback hingga Restrukturisasi Saham Negara Masuk Agenda, Telkom Gelar RUPST pada 8 Juni

Periode pelaksanaan direncanakan berlangsung mulai 12 Juni hingga 11 September 2026, melalui Bursa Efek dan dapat dilakukan bertahap maupun sekaligus.

Di tengah sentimen pasar yang sensitif, keputusan ini memberi dua pesan penting:

  • BRI memiliki ruang likuiditas untuk melakukan aksi korporasi.

  • Manajemen melihat valuasi saham masih layak untuk diakumulasi.

Dampak ke Kinerja: Kecil di Neraca, Positif ke Laba per Saham

Dalam simulasi proforma yang disampaikan perusahaan menggunakan posisi keuangan per 31 Maret 2026, dampak buyback terhadap indikator utama relatif terbatas.

Beberapa poin penting:

  • Total aset diproyeksikan turun dari Rp2.249,8 triliun menjadi Rp2.249,3 triliun.

  • Ekuitas turun dari Rp345,1 triliun menjadi Rp344,6 triliun.

  • Laba bersih tetap Rp15,63 triliun.

  • Laba per saham (EPS) naik tipis dari Rp103,83 menjadi Rp103,95.

  • CAR turun sangat kecil dari 22,90% menjadi 22,86%.

  • ROE justru naik tipis dari 18,36% menjadi 18,37%.

Kenaikan EPS memang tidak besar, tetapi dalam perspektif pasar, buyback sering dipandang sebagai langkah yang membantu menopang nilai pemegang saham ketika volatilitas meningkat.

Bukan untuk Disimpan, Saham Buyback Akan Dipakai untuk Program Insentif

Menariknya, saham hasil buyback tidak direncanakan untuk dibatalkan. BRI menyatakan saham tersebut akan digunakan untuk program kepemilikan saham bagi pekerja serta Direksi dan Dewan Komisaris, yang pelaksanaannya tetap memerlukan persetujuan RUPS.

Yang Perlu Dicermati Investor

Buyback bukan jaminan harga saham langsung naik. Namun ketika perusahaan sebesar BRI memilih mengalokasikan hingga setengah triliun rupiah untuk membeli sahamnya sendiri di tengah pasar yang bergejolak, pasar biasanya menangkap satu pesan utama:

manajemen menilai fondasi bisnis tetap kuat dan memilih bertindak saat sentimen sedang tidak pasti.

Untuk investor jangka panjang, sinyal seperti ini sering menjadi salah satu indikator yang layak masuk radar pemantauan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.