Akurat Logo

Ekonom: Fundamental RI Masih Kuat di Tengah Gejolak Global

Andi Syafriadi | 20 Juni 2026, 03:05 WIB
Ekonom: Fundamental RI Masih Kuat di Tengah Gejolak Global
ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi

AKURAT.CO Di tengah ketidakpastian global dan volatilitas pasar keuangan, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih menjadi faktor utama yang menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan pasar masih melihat kondisi domestik berada dalam posisi yang relatif kuat.

Penilaian tersebut tercermin dari sejumlah indikator makroekonomi yang menunjukkan kinerja positif sepanjang awal 2026.

Baca Juga: Lima Agenda Besar Pasar Keuangan Menunggu, IHSG Berpotensi Sideways

“Pasar melihat fundamental domestik masih cukup kuat,” ujar Josua di Jakarta.

Salah satu indikator yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 yang mencapai 5,61%.

Angka tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi domestik tetap terjaga di tengah tekanan eksternal.

Selain itu, lanjut Josua, inflasi juga dinilai masih terkendali. Pada Mei 2026, tingkat inflasi tercatat sebesar 3,08%, berada dalam kisaran yang masih dapat dikelola dan mendukung stabilitas daya beli masyarakat.

Oleh sebab itu menurut Josua, kombinasi pertumbuhan ekonomi yang solid dan inflasi yang terkendali menjadi modal penting dalam menjaga persepsi positif investor terhadap Indonesia.

Sedangkan dari sisi fiskal, pemerintah juga dinilai masih memiliki ruang pembiayaan yang memadai.

Hingga 31 Mei 2026, realisasi pembiayaan APBN mencapai Rp379,4 triliun atau 55,1% dari target tahun berjalan.

Baca Juga: Apa yang Mendorong Volatilitas di Pasar Keuangan Global?

Sementara itu, realisasi pembiayaan utang mencapai Rp386 triliun atau 46,4% dari target Rp832,2 triliun.

“Artinya pemerintah tidak sedang berada dalam kondisi kesulitan pembiayaan jangka pendek,” kata Josua.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tantangan berikutnya adalah menjaga agar kebutuhan pembiayaan hingga akhir tahun dapat dipenuhi dengan biaya yang efisien tanpa meningkatkan risiko fiskal.

Karena itu, tambah Josua, pemerintah perlu menjaga konsistensi kebijakan ekonomi, memperkuat komunikasi dengan pelaku pasar, serta mempertahankan disiplin fiskal agar kepercayaan investor tetap terjaga.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.