Akurat Logo

Apa Penyebab Pasar Indonesia Masih Volatil meski Gejolak Timur Tengah Mereda? Ini Penjelasan Mirae Asset

Idham Nur Indrajaya | 30 Juni 2026, 17:08 WIB
Apa Penyebab Pasar Indonesia Masih Volatil meski Gejolak Timur Tengah Mereda? Ini Penjelasan Mirae Asset
Penyebab pasar Indonesia masih volatil meski gejolak Timur Tengah mereda dipengaruhi suku bunga The Fed, rupiah, dan sentimen investor. Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah sempat memunculkan harapan bahwa pasar keuangan global, termasuk Indonesia, akan kembali stabil. Namun kenyataannya, pasar Indonesia masih bergerak fluktuatif dan investor tetap menghadapi ketidakpastian. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Jawaban singkatnya, volatilitas pasar Indonesia saat ini bukan lagi semata dipengaruhi konflik geopolitik, melainkan kombinasi beberapa faktor yang saling berkaitan, yaitu:

  • Ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) hingga akhir tahun.

  • Kondisi moneter global yang masih ketat.

  • Kekhawatiran terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.

  • Meningkatnya perhatian terhadap potensi twin deficit Indonesia.

  • Kepercayaan investor terhadap arah kebijakan ekonomi domestik.

Pandangan tersebut disampaikan dalam Media Day PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia bertajuk Fear vs Fundamentals: Where Is Indonesia Really Headed?, yang membahas perkembangan pasar, prospek ekonomi, hingga strategi investasi di tengah dinamika global.

Mengapa Pasar Indonesia Masih Volatil meski Konflik Timur Tengah Mulai Mereda?

Dalam beberapa pekan terakhir, tensi geopolitik di Timur Tengah menunjukkan tanda-tanda mereda. Secara teori, kondisi tersebut seharusnya menjadi sentimen positif bagi pasar karena risiko gangguan terhadap perdagangan global maupun harga energi berkurang.

Namun, pasar keuangan modern tidak hanya bereaksi terhadap satu peristiwa. Ketika satu sumber risiko mereda, perhatian investor segera beralih pada faktor lain yang dinilai lebih menentukan arah ekonomi ke depan.

Inilah yang saat ini terjadi.

Menurut Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, fokus investor global kini bergeser dari konflik geopolitik menuju arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

"Meredanya risiko geopolitik memberikan sentimen positif bagi pasar. Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed hingga akhir tahun membuat kondisi moneter global masih cenderung ketat sehingga volatilitas pasar diperkirakan tetap tinggi," ujar Rully dalam acara Media Day by Mirae Asset Sekuritas di Jakarta, Selasa, 30 Juni 2026.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pasar saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh ekspektasi terhadap masa depan dibandingkan kondisi yang sedang berlangsung. Dengan kata lain, investor tidak hanya melihat apa yang terjadi hari ini, tetapi juga mencoba mengantisipasi kebijakan ekonomi beberapa bulan mendatang.

Mengapa Kebijakan The Fed Sangat Berpengaruh terhadap Pasar Indonesia?

Salah satu faktor utama yang masih membayangi pasar adalah kemungkinan kenaikan Federal Funds Rate (FFR).

Saat ini FFR berada di level 3,75% dan diperkirakan masih berpotensi naik masing-masing 25 basis poin pada September dan Desember, sehingga mencapai 4,25% pada akhir tahun.

Bagi sebagian masyarakat, perubahan suku bunga di Amerika Serikat mungkin terdengar jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, dampaknya sangat besar terhadap pasar keuangan global.

Ketika suku bunga AS meningkat, aset berdenominasi dolar menjadi lebih menarik karena menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi dengan risiko relatif rendah. Kondisi ini mendorong sebagian investor global memindahkan dananya dari negara berkembang ke Amerika Serikat.

Akibatnya, pasar negara berkembang seperti Indonesia dapat mengalami:

  • arus modal keluar (capital outflow);

  • pelemahan nilai tukar rupiah;

  • tekanan pada pasar saham dan obligasi;

  • meningkatnya volatilitas harga aset.

Inilah sebabnya, meski konflik geopolitik mulai mereda, pasar belum sepenuhnya tenang.

Fundamental Ekonomi Indonesia Masih Baik, Tetapi Investor Tetap Berhati-hati

Di sisi lain, kondisi fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih relatif kuat.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 diperkirakan berada di kisaran 5,0%, hanya sedikit lebih rendah dibanding proyeksi sebelumnya sebesar 5,1%.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi global justru direvisi turun dari 3,3% menjadi 3,1%.

Sekilas, angka tersebut menunjukkan Indonesia masih memiliki daya tahan yang cukup baik dibanding perlambatan ekonomi dunia.

Namun pasar tidak hanya melihat angka pertumbuhan.

Investor juga mencermati berbagai indikator lain, termasuk kesehatan fiskal pemerintah, stabilitas nilai tukar, serta kemampuan Indonesia menjaga kepercayaan pasar internasional.

Rully menjelaskan bahwa perhatian investor kini mulai mengarah pada potensi twin deficit setelah neraca transaksi berjalan dan neraca finansial sama-sama melemah pada kuartal I 2026.

"Ke depan, pemulihan pasar Indonesia akan sangat ditentukan oleh kepercayaan investor terhadap kebijakan domestik. Karena itu, investor perlu tetap berfokus pada fundamental dan lebih selektif dalam menentukan strategi investasinya," kata Rully.

Pernyataan ini mengandung pesan penting: kepercayaan merupakan aset yang tidak kalah penting dibanding indikator ekonomi. Pasar dapat bereaksi positif terhadap kebijakan yang dianggap konsisten dan kredibel, meskipun tantangan global masih ada.

Mengapa Pasar Tidak Selalu Bergerak Sesuai Berita Positif?

Banyak investor pemula beranggapan bahwa kabar baik otomatis membuat harga saham naik.

Padahal, mekanisme pasar jauh lebih kompleks.

Bayangkan seorang investor yang mendengar konflik Timur Tengah mulai mereda. Ia memperkirakan IHSG akan menguat dan memutuskan membeli saham. Namun, pada saat yang sama muncul sinyal bahwa The Fed kemungkinan kembali menaikkan suku bunga.

Investor global kemudian memilih mengalihkan sebagian dananya ke aset dolar AS yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Akibatnya, tekanan jual di pasar negara berkembang masih terjadi meski risiko geopolitik menurun.

Ilustrasi ini menunjukkan bahwa pasar sering kali bergerak berdasarkan ekspektasi terhadap kondisi enam hingga dua belas bulan ke depan, bukan semata-mata dipengaruhi oleh berita yang sedang menjadi perhatian publik.

Inilah salah satu alasan mengapa volatilitas pasar masih bertahan meski salah satu sumber risiko mulai mereda.

Baca Juga: Lima Agenda Besar Pasar Keuangan Menunggu, IHSG Berpotensi Sideways

Baca Juga: Perbedaan Saham, Reksa Dana, dan ETF, Mana yang Cocok untuk Investor Pemula?

Di Tengah Volatilitas, Sektor Poultry Dinilai Menarik

Meski kondisi pasar masih bergejolak, bukan berarti seluruh sektor kehilangan prospek.

Senior Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andreas Kristo Saragih menilai sektor poultry justru memasuki fase yang lebih menarik.

Alasannya cukup jelas. Konsumsi daging ayam di Indonesia baru sekitar 8,6 kilogram per kapita, jauh di bawah Malaysia yang mencapai 32,9 kilogram maupun Vietnam 16,7 kilogram. Artinya, ruang pertumbuhan konsumsi domestik masih terbuka lebar.

Selain itu, prospek sektor ini juga didukung oleh program Makan Bergizi Gratis (MBG), pengendalian pasokan melalui penurunan kuota impor grand parent stock (GPS), serta implementasi program culling.

"Kami melihat sektor poultry memasuki fase yang lebih menarik dibandingkan beberapa tahun terakhir. Dengan pasokan yang lebih terkendali dan permintaan yang terus bertumbuh, profitabilitas industri berpotensi meningkat sehingga membuka peluang investasi yang menarik bagi investor," ujar Andreas.

Analisis tersebut menunjukkan bahwa di tengah volatilitas pasar secara keseluruhan, peluang investasi masih dapat ditemukan apabila investor fokus pada sektor yang memiliki fundamental kuat.

Strategi Apa yang Sebaiknya Dilakukan Investor?

Volatilitas sering kali memicu keputusan emosional, seperti menjual aset ketika harga turun atau membeli saat harga sedang naik tinggi.

Padahal, strategi tersebut justru berpotensi meningkatkan risiko.

Menurut Head of Fund Services PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Francisca Gerungan, diversifikasi tetap menjadi pendekatan yang paling relevan.

"Diversifikasi membantu investor mengelola risiko sekaligus tetap menangkap peluang investasi di berbagai kondisi pasar. Dengan memilih kombinasi instrumen yang tepat sesuai profil risiko, investor dapat membangun portofolio yang lebih seimbang untuk mencapai tujuan keuangan jangka panjang," ujar Francisca.

Diversifikasi bukan berarti mengejar sebanyak mungkin instrumen investasi, melainkan menyusun portofolio yang sesuai dengan tujuan keuangan, profil risiko, dan kebutuhan likuiditas.

Sebagai bagian dari strategi tersebut, Mirae Asset Sekuritas juga terus memperluas pilihan produk reksa dana melalui platform M-FUND by Mirae Asset, termasuk menghadirkan Syailendra Sharia Fixed Income Fund (SSFIF) Kelas A, yang berinvestasi pada sukuk negara dan sukuk korporasi bagi investor dengan profil risiko moderat-konservatif.

Volatilitas Bukan Selalu Pertanda Buruk

Dari penjelasan Mirae Asset Sekuritas Indonesia, terlihat bahwa penyebab pasar Indonesia masih volatil saat ini jauh lebih kompleks dibanding sekadar faktor geopolitik.

Meredanya ketegangan di Timur Tengah memang mengurangi satu sumber ketidakpastian. Namun, perhatian pasar kini bergeser pada arah kebijakan suku bunga global, kondisi ekonomi domestik, stabilitas rupiah, hingga kepercayaan investor terhadap kebijakan pemerintah.

Di sisi lain, volatilitas juga membuka peluang bagi investor yang mampu melihat fundamental secara lebih jernih. Sektor-sektor tertentu, seperti poultry, menunjukkan prospek pertumbuhan yang tetap menarik meski pasar belum sepenuhnya stabil.

Pada akhirnya, memahami hubungan antara faktor global dan domestik menjadi kunci agar investor tidak hanya bereaksi terhadap berita sesaat, tetapi mampu mengambil keputusan berdasarkan analisis yang lebih menyeluruh. Di tengah pasar yang masih mencari kepastian, fokus pada fundamental dan strategi diversifikasi dapat menjadi langkah yang lebih bijak untuk menghadapi dinamika investasi jangka panjang.

Baca Juga: OJK: Bank Akan Optimalkan CASA di Tengah Suku Bunga Tinggi

Baca Juga: BI Sudah Agresif Naikkan Suku Bunga, Mengapa Rupiah Belum Kuat?

FAQ

Mengapa pasar saham Indonesia masih volatil meskipun konflik geopolitik global mereda?

Meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah ternyata tidak serta-merta membuat pasar keuangan domestik langsung stabil. Fokus utama investor global kini telah bergeser ke arah kebijakan moneter Amerika Serikat, khususnya terkait ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed) hingga akhir tahun. Kondisi likuiditas global yang ketat ini memicu kekhawatiran baru di kalangan pelaku pasar modal.

Selain faktor eksternal tersebut, pergerakan fluktuatif Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga dipengaruhi oleh sentimen domestik. Investor saat ini tengah mencermati potensi terjadinya twin deficit akibat melemahnya neraca transaksi berjalan dan neraca finansial Indonesia pada kuartal I. Akibatnya, pasar masih bergerak dinamis karena investor cenderung bersikap hati-hati dalam mengantisipasi arah kebijakan ekonomi ke depan.

Apa dampaknya kenaikan suku bunga The Fed terhadap nilai tukar rupiah dan investasi domestik?

Kenaikan Federal Funds Rate (FFR) atau suku bunga The Fed memiliki efek domino yang signifikan terhadap pasar negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia. Ketika suku bunga AS meningkat, daya tarik aset berdenominasi dolar AS ikut melonjak karena menawarkan imbal hasil (yield) yang lebih tinggi dengan risiko yang relatif minim. Hal ini memicu terjadinya aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan dalam negeri.

Tekanan capital outflow tersebut secara langsung memperlemah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Bagi pasar saham dan obligasi domestik, fenomena ini meningkatkan volatilitas harga aset dan memicu koreksi harga karena aksi jual oleh investor asing. Oleh sebab itu, stabilitas pasar keuangan Indonesia sangat sensitif terhadap setiap sinyal perubahan kebijakan moneter yang dirilis oleh bank sentral AS.

Bagaimana cara fundamental ekonomi Indonesia mempertahankan kepercayaan investor di tengah ketidakpastian?

Daya tahan fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih menunjukkan performa yang cukup solid. Pertumbuhan ekonomi domestik diproyeksikan mampu bertahan di kisaran 5,0%, sebuah angka yang relatif kuat di tengah tren revisi turun pertumbuhan ekonomi global yang melambat ke level 3,1%. Ketangguhan indikator makroekonomi ini menjadi jangkar penting untuk menjaga persepsi positif pasar internasional.

Kendati demikian, untuk mempertahankan kepercayaan investor secara jangka panjang, stabilitas angka pertumbuhan saja tidaklah cukup. Pemerintah dan otoritas moneter perlu menunjukkan konsistensi dalam menjaga kesehatan fiskal, mengendalikan stabilitas nilai tukar rupiah, serta menerapkan kebijakan ekonomi yang kredibel. Kebijakan domestik yang terukur dan dapat diprediksi akan menjadi kunci utama pemulihan iklim investasi nasional.

Apa itu sektor poultry dan mengapa saham industri ini dinilai prospektif saat pasar bergejolak?

Sektor poultry merupakan industri peternakan dan pengolahan ayam ras yang memiliki cakupan bisnis mulai dari pakan ternak, pembibitan, hingga produk konsumsi jadi. Di tengah tingginya volatilitas pasar saat ini, sektor ini dinilai sangat menarik karena didorong oleh ruang pertumbuhan konsumsi domestik yang masih sangat luas. Konsumsi daging ayam per kapita masyarakat Indonesia masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Vietnam.

Selain potensi pasar yang besar, kinerja emiten poultry juga mendapat sentimen positif dari berbagai kebijakan strategis. Mulai dari implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah, penurunan kuota impor grand parent stock (GPS), hingga program culling (pengurangan pasokan secara terencana). Kombinasi antara pasokan yang lebih terkendali dan permintaan yang stabil membuat profitabilitas industri ini diproyeksikan meningkat dan menjadi pilihan investasi defensif yang menjanjikan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.