Akurat Logo

Penetrasi Asuransi RI Baru 1,3 Persen PDB di Tengah Pertumbuhan Premi 11 Persen

Esha Tri Wahyuni | 4 Juli 2026, 21:41 WIB
Penetrasi Asuransi RI Baru 1,3 Persen PDB di Tengah Pertumbuhan Premi 11 Persen
Ilustrasi produk asuransi

AKURAT.CO Industri asuransi Indonesia mencatat pertumbuhan dua digit pada 2025 di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap perlindungan finansial. 

Berdasarkan Allianz Global Insurance Report 2026, total pendapatan premi asuransi Indonesia mencapai EUR15,8 miliar, atau tumbuh 11% secara tahunan.

Meski demikian, tingkat penetrasi asuransi nasional masih berada di kisaran 1,3% terhadap produk domestik bruto (PDB), menunjukkan masih besarnya kebutuhan proteksi yang belum terpenuhi.

Baca Juga: OJK: Pelemahan Rupiah Belum Ganggu Bisnis Asuransi Properti

Laporan Allianz Research menunjukkan pertumbuhan tersebut terjadi di tengah tren positif industri asuransi global yang diperkirakan meningkat 7,1% menjadi EUR6,9 triliun pada 2025, dengan tambahan premi mencapai EUR456 miliar. 

Secara global, segmen asuransi jiwa masih menjadi penyumbang premi terbesar senilai EUR2,861 triliun, disusul asuransi umum EUR2,320 triliun, serta asuransi kesehatan EUR1,688 triliun.

Country Manager sekaligus Direktur Utama Allianz Life Indonesia, Alexander Grenz mengatakan, kenaikan premi mencerminkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan keuangan.

Pertumbuhan industri asuransi Indonesia yang terus berlanjut mencerminkan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan perlindungan, baik untuk jiwa, kesehatan, maupun aset.

"Dengan tingkat penetrasi asuransi yang masih relatif rendah, Indonesia memiliki ruang pertumbuhan yang signifikan untuk memperluas akses proteksi bagi lebih banyak masyarakat," kata Alexander Grenz dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (4/7/2026).

Dirinya menambahkan meningkatnya biaya layanan kesehatan membuat keberlanjutan premi asuransi kesehatan menjadi tantangan yang perlu dijaga agar masyarakat tetap memperoleh akses perlindungan dalam jangka panjang.

Sebagai informasi, penetrasi asuransi Indonesia memang masih tertinggal dibandingkan banyak negara di kawasan Asia. 

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Indonesia dinilai memiliki potensi ekspansi industri yang besar, terutama di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap risiko kesehatan, perlindungan jiwa, hingga aset di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Allianz Research memperkirakan prospek industri asuransi nasional masih akan tetap positif. Dalam sepuluh tahun ke depan, total premi asuransi Indonesia diproyeksikan tumbuh rata-rata 8,2% per tahun, lebih tinggi dibandingkan proyeksi pertumbuhan nominal PDB sebesar 7,6%. 

Segmen asuransi kesehatan diperkirakan menjadi motor pertumbuhan dengan kenaikan rata-rata 12,9% per tahun, diikuti asuransi jiwa 7,9% dan asuransi kerugian 7,3%. Di tingkat global, perubahan geopolitik dan fragmentasi ekonomi dinilai menjadi faktor yang membentuk arah baru industri asuransi. 

Chief Economist sekaligus Chief Investment Officer Allianz, Ludovic Subran menyatakan, perusahaan asuransi kini dituntut lebih adaptif menghadapi perubahan risiko.

"Seiring perdagangan, arus modal, dan regulasi yang semakin terfragmentasi, ketahanan kini menggantikan efisiensi sebagai prinsip utama dalam pengambilan keputusan. Pergeseran ini membuat lingkungan operasional menjadi semakin kompleks dan mahal," ujar Ludovic Subran.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.