Akurat Logo

IHSG Diprediksi Lanjut Menguat ke 6.000, Risiko Koreksi Mengintai

Esha Tri Wahyuni | 7 Juli 2026, 07:30 WIB
IHSG Diprediksi Lanjut Menguat ke 6.000, Risiko Koreksi Mengintai
ilustrasi IHSG

AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan melanjutkan penguatan dan menguji level psikologis 6.000 pada perdagangan Selasa (7/7/2026).

Meski demikian, kenaikan indeks masih dibayangi rendahnya aktivitas transaksi yang menunjukkan partisipasi investor belum sepenuhnya pulih.

Pada penutupan perdagangan Senin (6/7/2026), IHSG menguat 0,69% ke level 5.916. Namun, kenaikan tersebut terjadi di tengah volume perdagangan yang hanya mencapai 19,6 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp9,4 triliun.

Baca Juga: IHSG Siap Uji 5.900, Analis Buka Peluang Reli hingga 6.000

Angka tersebut masih jauh di bawah rata-rata harian Bursa Efek Indonesia yang berada di kisaran 41 miliar saham dan Rp24 triliun.

Secara sektoral, saham barang konsumen non-primer mencatat kenaikan tertinggi sebesar 1,26%, sedangkan sektor infrastruktur menjadi satu-satunya sektor yang terkoreksi tipis 0,05%.

Phintraco Sekuritas dalam risetnya menyatakan secara teknikal IHSG masih memiliki peluang melanjutkan penguatan.

Posisi indeks yang berada di atas moving average (MA) 5 dan MA10, didukung pelebaran histogram MACD serta penguatan Stochastic RSI di area pivot, dinilai membuka ruang bagi IHSG untuk menguji level 6.000 pada perdagangan berikutnya.

Di sisi lain, MNC Sekuritas mengingatkan bahwa risiko koreksi belum sepenuhnya hilang. Perusahaan sekuritas tersebut memperkirakan IHSG masih berpotensi menguji area 5.472–5.540 apabila tekanan jual kembali meningkat.

Untuk perdagangan Selasa, MNC Sekuritas merekomendasikan aksi buy pada saham BBRI, MDKA, TINS, dan XCEG, sementara saham EMAS direkomendasikan sell.

Sentimen global masih menjadi faktor yang memengaruhi arah perdagangan domestik. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun ke bawah USD69 per barel, level terendah sejak Februari 2026.

Baca Juga: IHSG Berpotensi Konsolidasi, Data NFP AS Jadi Penentu Arah Pasar

Penurunan dipicu kekhawatiran kelebihan pasokan setelah distribusi minyak melalui Selat Hormuz kembali normal dan keputusan OPEC+ menaikkan produksi sebesar 188 ribu barel per hari mulai bulan depan.

Di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah juga masih berada dalam tekanan. Rupiah ditutup melemah 0,23% ke posisi Rp17.995 per USD pada Senin (6/7/2026), seiring penguatan dolar AS yang turut mendorong harga emas dunia terkoreksi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.