Pertumbuhan Multifinance Melambat, Pegadaian Melonjak: Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Industri Pembiayaan Indonesia?

AKURAT.CO Pernahkah Anda merasa semakin banyak orang memilih menggadaikan emas atau barang berharga dibanding mengambil cicilan baru? Fenomena tersebut ternyata mulai tercermin dalam data terbaru industri pembiayaan nasional. Di saat perusahaan multifinance dan pinjaman daring (pindar) masih mencatat pertumbuhan, lajunya justru melambat. Sebaliknya, industri pegadaian mengalami lonjakan pembiayaan yang sangat tinggi.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) pada Selasa, 7 Juli 2026, pertumbuhan multifinance hanya mencapai 1,71% secara tahunan (year-on-year/yoy) hingga Mei 2026. Sementara itu, penyaluran pembiayaan industri pegadaian melonjak hampir 58% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Perbedaan arah pertumbuhan ini bukan sekadar statistik, melainkan memberi sinyal adanya perubahan perilaku masyarakat dalam memilih sumber pembiayaan.
Bagi konsumen, pelaku usaha, hingga investor, perubahan tren tersebut penting dipahami karena dapat menjadi gambaran kondisi daya beli, tingkat kehati-hatian masyarakat dalam berutang, hingga arah kebijakan industri jasa keuangan dalam beberapa waktu ke depan.
Ringkasan
Jika Anda ingin mengetahui inti persoalan dalam waktu singkat, berikut poin-poin utamanya.
Pertumbuhan multifinance hanya mencapai 1,71% (yoy) pada Mei 2026.
Pembiayaan modal kerja menjadi penopang utama dengan pertumbuhan 7,96% (yoy).
Outstanding pinjaman daring masih tumbuh 25,60%, tetapi lajunya mulai melambat dibanding bulan sebelumnya.
Industri pegadaian justru mencatat pertumbuhan tertinggi dengan kenaikan pembiayaan 57,97% (yoy).
Menurut OJK, kualitas pembiayaan multifinance dan pinjaman daring masih relatif terjaga meski pertumbuhannya mulai melandai.
Singkatnya, industri pembiayaan Indonesia saat ini tidak sedang mengalami kontraksi secara menyeluruh. Yang terjadi adalah pergeseran preferensi masyarakat dalam memilih jenis pembiayaan, dari kredit berbasis cicilan menuju pembiayaan yang lebih cepat, fleksibel, dan berbasis aset.
Mengapa Pertumbuhan Multifinance Melambat?
Data OJK menunjukkan piutang pembiayaan perusahaan multifinance mencapai Rp513,19 triliun hingga Mei 2026. Meski nilainya tetap besar, pertumbuhannya hanya 1,71% secara tahunan, jauh lebih rendah dibanding laju pertumbuhan industri keuangan lain yang masih mencatat kenaikan lebih agresif.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK, Agusman, menjelaskan bahwa pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh pembiayaan modal kerja yang meningkat 7,96% (yoy). Artinya, aktivitas pembiayaan produktif masih bergerak positif meskipun pembiayaan konsumtif tidak tumbuh secepat sebelumnya.
"Pertumbuhan tersebut terutama didukung oleh peningkatan pembiayaan modal kerja yang tumbuh 7,96% secara tahunan," ujar Agusman dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK.
Perlambatan Bukan Berarti Industri Sedang Melemah Total
Sekilas, angka pertumbuhan 1,71% mungkin terlihat mengkhawatirkan. Namun, jika dicermati lebih dalam, kondisi ini belum tentu menunjukkan industri multifinance sedang mengalami penurunan yang serius.
Justru sebaliknya, perlambatan tersebut bisa menjadi indikasi bahwa perusahaan pembiayaan kini semakin selektif dalam menyalurkan kredit. Setelah beberapa tahun menghadapi tantangan ekonomi global, inflasi, hingga perubahan pola konsumsi masyarakat, banyak perusahaan memilih lebih berhati-hati dalam mengelola risiko pembiayaan.
Pendekatan yang lebih konservatif tersebut lazim dilakukan ketika ketidakpastian ekonomi masih membayangi. Daripada mengejar pertumbuhan tinggi tetapi berisiko meningkatkan kredit bermasalah, perusahaan cenderung memprioritaskan kualitas portofolio pembiayaannya.
Pembiayaan Produktif Masih Menjadi Penopang
Salah satu temuan menarik dari data OJK adalah pembiayaan modal kerja justru masih mencatat pertumbuhan yang cukup kuat.
Hal ini mengindikasikan bahwa kebutuhan pendanaan bagi pelaku usaha tetap ada. Banyak perusahaan maupun UMKM masih membutuhkan tambahan modal untuk menjalankan operasional, memperluas usaha, atau menjaga arus kas.
Di sisi lain, pembiayaan konsumtif—seperti pembelian kendaraan bermotor atau barang konsumsi dengan sistem cicilan—diduga tidak tumbuh secepat beberapa tahun sebelumnya. Meskipun OJK tidak merinci kontribusi setiap segmen, pola tersebut sejalan dengan kecenderungan masyarakat yang kini lebih berhati-hati menambah kewajiban cicilan.
Interpretasi Data: Apa Makna Angka 1,71%?
Angka pertumbuhan 1,71% bukan sekadar menunjukkan bahwa industri multifinance masih bertumbuh. Lebih dari itu, angka tersebut dapat dibaca sebagai sinyal bahwa pasar pembiayaan mulai memasuki fase yang lebih matang.
Pada fase ini, perusahaan tidak lagi berlomba memperbesar penyaluran kredit tanpa mempertimbangkan kualitas debitur. Sebaliknya, fokus mulai bergeser ke pembiayaan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Bagi masyarakat, perubahan tersebut memiliki dua konsekuensi. Di satu sisi, calon debitur yang memiliki profil keuangan baik masih memiliki peluang memperoleh pembiayaan. Namun di sisi lain, proses penilaian kredit kemungkinan menjadi lebih ketat dibanding beberapa tahun lalu.
Dengan kata lain, perlambatan pertumbuhan multifinance tidak selalu menjadi kabar buruk. Dalam perspektif jangka panjang, kondisi ini justru dapat mencerminkan upaya industri menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan kualitas pembiayaan agar tetap sehat.
Baca Juga: Daftar Pinjol Resmi OJK Juli 2026, Lengkap 95 Perusahaan Legal yang Aman Digunakan
Baca Juga: Waspada Skema Tadpole Pinjol: Tenor 14 hari dan bunga harian tembus 9 persen
Mengapa Pertumbuhan Pinjaman Daring Mulai Kehilangan Momentum?
Selain multifinance, OJK juga mencatat perubahan menarik pada industri pinjaman daring (pindar). Hingga Mei 2026, outstanding pembiayaan pindar mencapai sekitar Rp103,73 triliun, atau tumbuh 25,60% secara tahunan.
Sekilas, pertumbuhan di atas 25% masih tergolong tinggi. Namun, jika dibandingkan dengan April 2026 yang mencapai 26,11% (yoy), terlihat adanya perlambatan laju ekspansi.
Perbedaannya memang hanya sekitar 0,51 poin persentase, tetapi bagi industri jasa keuangan, perlambatan kecil seperti ini layak diperhatikan. Sebab, perubahan tren sering kali muncul secara bertahap sebelum akhirnya menjadi pola yang lebih jelas.
Melambat, tetapi Kualitas Pembiayaan Justru Membaik
Di balik perlambatan tersebut, ada kabar positif yang patut dicermati.
OJK mencatat tingkat wanprestasi di atas 90 hari atau TWP90 turun menjadi 4,42%, dari sebelumnya 4,62% pada April 2026.
Penurunan ini menunjukkan kualitas pembiayaan mulai membaik. Dengan kata lain, proporsi peminjam yang terlambat membayar lebih dari 90 hari semakin berkurang.
Fenomena tersebut mengindikasikan bahwa perusahaan pindar kemungkinan mulai memperketat proses seleksi calon peminjam, memperbaiki sistem penilaian risiko (credit scoring), hingga meningkatkan pengawasan terhadap kualitas portofolio pinjaman.
Artinya, perlambatan pertumbuhan bukan selalu pertanda negatif. Dalam banyak kasus, pertumbuhan yang lebih moderat justru menjadi fondasi bagi industri yang lebih sehat.
Mengapa Masyarakat Mulai Lebih Selektif Menggunakan Pinjaman Daring?
Ada beberapa faktor yang dapat menjelaskan mengapa pertumbuhan pindar mulai kehilangan momentum.
Pertama, masyarakat semakin memahami pentingnya mengelola utang secara bijak. Edukasi mengenai risiko pinjaman daring yang terus dilakukan pemerintah, OJK, dan media membuat calon peminjam tidak lagi mudah tergoda mengambil pinjaman tanpa mempertimbangkan kemampuan membayar.
Kedua, perusahaan pindar juga semakin selektif dalam menyalurkan pembiayaan. Pendekatan ini bertujuan menjaga kualitas aset agar angka kredit bermasalah tidak kembali meningkat.
Ketiga, kondisi ekonomi yang masih penuh tantangan mendorong masyarakat lebih berhati-hati dalam mengambil komitmen finansial baru. Banyak rumah tangga memilih menunda pengeluaran yang tidak mendesak dibanding menambah cicilan bulanan.
Mengapa Industri Pegadaian Justru Tumbuh Paling Tinggi?
Di tengah perlambatan multifinance dan pindar, industri pegadaian justru menunjukkan performa yang sangat kontras.
Menurut data OJK, penyaluran pembiayaan pegadaian mencapai Rp163,27 triliun hingga Mei 2026. Angka tersebut melonjak 57,97% secara tahunan, menjadikannya sektor dengan pertumbuhan paling tinggi di antara industri pembiayaan yang diawasi OJK.
Lebih menarik lagi, sekitar 84,03% dari total pembiayaan atau setara Rp137,2 triliun masih berasal dari produk gadai.
Data tersebut menunjukkan bahwa masyarakat masih menaruh kepercayaan besar terhadap layanan gadai sebagai salah satu solusi memperoleh dana tunai dalam waktu singkat.
Mengapa Pegadaian Lebih Diminati?
Pertumbuhan tinggi industri pegadaian tidak terjadi tanpa alasan.
Berbeda dengan kredit konsumtif maupun pinjaman daring, layanan gadai menawarkan karakteristik yang lebih sederhana.
Beberapa faktor yang diduga mendorong kenaikan tersebut antara lain:
Proses pencairan dana relatif cepat.
Nasabah tidak harus menambah cicilan jangka panjang.
Barang yang digadaikan menjadi jaminan sehingga risiko bagi lembaga pembiayaan lebih terkendali.
Banyak masyarakat telah memiliki aset seperti emas yang dapat dimanfaatkan saat membutuhkan dana mendesak.
Dalam situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian, fleksibilitas semacam ini menjadi nilai tambah yang sulit ditandingi produk pembiayaan lain.
Simulasi: Mengapa Banyak Orang Beralih ke Pegadaian?
Bayangkan seorang karyawan membutuhkan dana Rp7 juta untuk biaya pendidikan anak yang harus dibayarkan minggu ini.
Ia memiliki tiga pilihan.
Pilihan pertama adalah mengajukan kredit konsumtif melalui perusahaan multifinance. Namun, proses analisis kredit membutuhkan waktu lebih lama dan menambah cicilan beberapa bulan ke depan.
Pilihan kedua adalah mengajukan pinjaman daring. Dana memang bisa cair lebih cepat, tetapi ia tetap harus memperhitungkan biaya pinjaman dan kemampuan membayar sesuai tenor yang dipilih.
Pilihan ketiga adalah menggadaikan emas yang selama ini disimpan sebagai tabungan keluarga. Dana dapat diperoleh dalam waktu singkat, sementara barang tersebut masih bisa ditebus kembali setelah kondisi keuangan membaik.
Dalam situasi seperti ini, tidak sedikit masyarakat yang memilih opsi ketiga karena dianggap lebih praktis dan tidak menambah beban utang jangka panjang.
Ilustrasi tersebut membantu menjelaskan mengapa pembiayaan pegadaian tumbuh jauh lebih cepat dibanding sektor pembiayaan lainnya.
Pergeseran Perilaku Masyarakat dalam Mencari Pembiayaan
Jika ketiga data OJK dibaca secara bersamaan, terlihat sebuah pola yang menarik.
Pertumbuhan multifinance melambat.
Pertumbuhan pindar juga mulai kehilangan momentum.
Sebaliknya, pegadaian justru berkembang sangat pesat.
Perbedaan arah ini mengindikasikan bahwa masyarakat kini tidak lagi hanya mempertimbangkan kemudahan memperoleh dana, tetapi juga fleksibilitas dalam mengelola risiko keuangan.
Beberapa tahun lalu, masyarakat cenderung memanfaatkan berbagai fasilitas kredit untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, mulai dari kendaraan hingga barang elektronik. Kini, kecenderungannya mulai bergeser. Banyak orang memilih instrumen yang memungkinkan mereka memperoleh dana tanpa menambah kewajiban cicilan jangka panjang.
Fenomena tersebut juga bisa dibaca sebagai sinyal meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga arus kas rumah tangga. Dalam kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, keputusan finansial menjadi lebih berhati-hati.
Dari sudut pandang industri, tren ini menunjukkan bahwa pertumbuhan bukan lagi sekadar soal memperbesar penyaluran pembiayaan. Yang lebih penting adalah bagaimana perusahaan mampu menawarkan produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang terus berubah.
Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Industri Keuangan?
Perubahan tren pembiayaan tidak hanya memengaruhi perusahaan jasa keuangan, tetapi juga masyarakat luas.
Bagi konsumen, semakin selektifnya perusahaan pembiayaan berarti calon debitur perlu memiliki riwayat kredit yang baik agar peluang memperoleh pembiayaan tetap tinggi.
Sementara itu, bagi pelaku usaha, terutama UMKM, pembiayaan modal kerja yang masih tumbuh menjadi sinyal positif bahwa akses pendanaan produktif masih tersedia.
Di sisi lain, meningkatnya penggunaan layanan pegadaian menunjukkan bahwa aset seperti emas semakin dipandang sebagai instrumen yang tidak hanya berfungsi sebagai investasi, tetapi juga menjadi sumber likuiditas ketika dibutuhkan.
Bagaimana OJK Menjaga Kesehatan Industri Pembiayaan?
Selain memantau pertumbuhan industri, OJK juga terus memperkuat pengawasan terhadap sektor pembiayaan.
Agusman mengungkapkan OJK tengah menyusun sejumlah regulasi baru, termasuk aturan mengenai pelaporan keuangan penyelenggara pindar serta penyempurnaan regulasi pada sektor pegadaian.
Di bidang permodalan, OJK masih menemukan:
8 dari 144 perusahaan pembiayaan belum memenuhi ketentuan modal minimum.
8 dari 94 penyelenggara pindar belum memenuhi ketentuan ekuitas minimum sebesar Rp12,5 miliar.
Seluruh perusahaan tersebut telah menyampaikan action plan kepada OJK sebagai komitmen untuk memenuhi persyaratan yang berlaku.
Sementara dalam aspek penegakan hukum, hingga Juni 2026 OJK telah menjatuhkan sanksi administratif kepada:
38 perusahaan pembiayaan;
2 perusahaan modal ventura; dan
14 penyelenggara pindar.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pengawasan tidak hanya berfokus pada pertumbuhan industri, tetapi juga pada kepatuhan terhadap regulasi dan perlindungan konsumen.
Apa yang Perlu Diperhatikan Sebelum Memilih Produk Pembiayaan?
Data OJK menunjukkan setiap jenis pembiayaan memiliki karakteristik yang berbeda. Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan kemudahan memperoleh dana.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum mengajukan pembiayaan antara lain:
Sesuaikan jumlah pinjaman dengan kemampuan membayar.
Pahami seluruh biaya, bunga, atau imbal hasil yang dikenakan.
Pastikan lembaga pembiayaan berada di bawah pengawasan OJK.
Gunakan pembiayaan untuk kebutuhan yang benar-benar mendesak atau produktif.
Hindari mengambil beberapa pinjaman sekaligus yang dapat membebani kondisi keuangan.
Dengan mempertimbangkan aspek tersebut, masyarakat dapat memanfaatkan layanan pembiayaan secara lebih sehat dan berkelanjutan.
Kesimpulan
Data OJK hingga Mei 2026 memperlihatkan bahwa industri pembiayaan Indonesia sedang memasuki fase baru.
Pertumbuhan multifinance dan pinjaman daring memang masih positif, tetapi lajunya mulai melambat. Sebaliknya, industri pegadaian mencatat lonjakan yang jauh lebih tinggi dibanding sektor lainnya.
Perbedaan tersebut mencerminkan perubahan preferensi masyarakat dalam mengelola kebutuhan dana. Di tengah ketidakpastian ekonomi, banyak orang tampaknya lebih mengutamakan fleksibilitas, kecepatan, dan pengelolaan risiko dibanding sekadar memperoleh akses kredit baru.
Bagi pelaku industri, kondisi ini menjadi pengingat bahwa inovasi produk harus mengikuti perubahan perilaku konsumen. Sementara bagi masyarakat, memahami karakteristik setiap jenis pembiayaan menjadi langkah penting agar keputusan finansial yang diambil tetap sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan.
Menarik untuk terus mengamati apakah tren ini hanya bersifat sementara atau justru menjadi arah baru industri pembiayaan nasional dalam beberapa tahun mendatang. Pantau terus perkembangan kebijakan dan data terbaru OJK agar setiap keputusan keuangan yang diambil didasarkan pada informasi yang akurat.
Baca Juga: Laba Pegadaian Melonjak 87,2%, Kelolaan Emas Capai 153 Ton
FAQ
Mengapa pertumbuhan multifinance melambat pada 2026?
Pertumbuhan multifinance melambat karena perusahaan pembiayaan cenderung lebih selektif dalam menyalurkan kredit di tengah berbagai tantangan ekonomi. Fokus industri bergeser dari mengejar pertumbuhan tinggi menuju menjaga kualitas pembiayaan agar risiko kredit bermasalah tetap terkendali. Meski demikian, pembiayaan modal kerja masih menjadi penopang utama pertumbuhan sektor ini.
Mengapa industri pegadaian mencatat pertumbuhan paling tinggi?
Industri pegadaian tumbuh pesat karena menawarkan proses pencairan dana yang cepat dengan jaminan aset, seperti emas. Banyak masyarakat memanfaatkan layanan ini untuk memenuhi kebutuhan dana mendesak tanpa harus menambah cicilan jangka panjang, sehingga produk gadai menjadi pilihan yang lebih fleksibel dibanding beberapa jenis pembiayaan lainnya.
Apakah perlambatan pinjaman daring merupakan sinyal negatif?
Tidak selalu. Walaupun laju pertumbuhannya melambat, kualitas pembiayaan justru membaik. Hal ini terlihat dari penurunan tingkat wanprestasi di atas 90 hari (TWP90), yang menunjukkan perusahaan pindar semakin selektif dalam menyalurkan pinjaman dan lebih fokus menjaga kesehatan portofolio pembiayaan.
Apa arti rasio NPF pada perusahaan multifinance?
Non-Performing Financing (NPF) merupakan indikator kualitas pembiayaan. Semakin rendah nilai NPF, semakin kecil proporsi pembiayaan bermasalah yang dimiliki perusahaan. Pada Mei 2026, NPF gross multifinance tercatat sebesar 3,06% dan NPF net 0,85%, yang menunjukkan kualitas aset industri masih relatif terjaga.
Bagaimana OJK menjaga kesehatan industri pembiayaan?
OJK memperkuat industri melalui pengawasan, penyempurnaan regulasi, pemantauan kecukupan modal perusahaan, serta pemberian sanksi administratif bagi pelaku usaha yang melanggar ketentuan. Langkah tersebut bertujuan menjaga stabilitas sektor pembiayaan sekaligus meningkatkan perlindungan terhadap konsumen.
Apa yang harus dipertimbangkan sebelum memilih produk pembiayaan?
Sebelum mengajukan pembiayaan, masyarakat perlu menyesuaikan jumlah pinjaman dengan kemampuan membayar, memahami seluruh biaya yang dikenakan, memastikan lembaga pembiayaan diawasi OJK, serta menggunakan pembiayaan untuk kebutuhan yang benar-benar penting atau produktif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026








