OJK Catat Lonjakan Investor di Tengah Koreksi Bursa Saham

AKURAT.CO Jumlah investor pasar modal Indonesia terus bertambah meski kinerja bursa saham masih berada dalam tekanan.
Kondisi tersebut menunjukkan minat masyarakat terhadap investasi belum surut, bahkan ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bergerak di zona negatif sampai saat ini.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total investor pasar modal mencapai 28,96 juta Single Investor Identification (SID) hingga akhir Juni 2026.
Angka tersebut bertambah sekitar 1,21 juta investor dibandingkan bulan sebelumnya atau meningkat 42,22% sejak awal tahun.
Baca Juga: Waspada, Ini Modus Baru Penipuan Online yang Diungkap OJK
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi mengatakan, pertumbuhan investor tetap berlangsung di tengah kondisi pasar yang masih bergejolak.
Namun, di saat basis investor terus melebar, regulator juga memperketat pengawasan terhadap pelaku industri. Hingga 29 Juni 2026, OJK telah menjatuhkan sanksi administratif kepada 100 pihak di sektor pasar modal, keuangan derivatif, dan bursa karbon.
Total nilai denda yang dikenakan mencapai Rp86,26 miliar. Selain itu, OJK juga menjatuhkan satu pencabutan izin usaha, satu pembatalan Surat Tanda Terdaftar (STTD), enam pembekuan izin, sembilan peringatan tertulis, serta delapan perintah tertulis.
"Langkah ini ditempuh dalam rangka penegakan ketentuan dan perlindungan konsumen pada sektor pasar modal, keuangan derivatif, dan bursa karbon," ujar Hasan dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK di Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Jumlah Investor Melonjak di tengah Koreksi IHSG
Lonjakan jumlah investor terjadi ketika pasar saham domestik masih menghadapi tekanan cukup dalam. Hingga akhir Juni 2026, IHSG ditutup pada level 5.643,19, melemah 7,9% secara bulanan dan terkoreksi 34,74% sejak awal tahun.
Meski demikian, Hasan menilai tekanan di pasar mulai mereda memasuki awal Juli, walaupun pergerakan indeks masih berada dalam fase konsolidasi.
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan jumlah investor tidak lagi sepenuhnya dipengaruhi oleh pergerakan harga saham dalam jangka pendek.
Dalam beberapa tahun terakhir, pembukaan rekening investasi yang semakin mudah melalui platform digital, meningkatnya literasi keuangan, serta akses investasi yang lebih luas telah mendorong masyarakat masuk ke pasar modal.
Tren tersebut juga tercermin dari data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang menunjukkan jumlah investor pasar modal terus meningkat sejak pandemi Covid-19 dan kembali mencetak rekor baru sepanjang 2026.
Baca Juga: OJK Ungkap 608 Ribu Kasus Penipuan Digital, Dana Rp674 Miliar Berhasil Diamankan
Di sisi lain, bertambahnya jumlah investor ritel juga memperbesar tantangan perlindungan konsumen. Karena itu, pengawasan terhadap aktivitas pelaku pasar dinilai semakin penting untuk menjaga kredibilitas dan kepercayaan investor.
Meski volatilitas pasar saham masih tinggi, aktivitas penghimpunan dana melalui pasar modal belum berhenti.
OJK mencatat nilai fundraising korporasi sejak awal tahun mencapai Rp112,67 triliun. Selain itu, masih terdapat 11 rencana penawaran umum yang berada dalam pipeline, menunjukkan perusahaan tetap memanfaatkan pasar modal sebagai salah satu sumber pembiayaan jangka panjang.
Sementara itu, industri pengelolaan investasi masih menghadapi tekanan. Nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana tercatat sebesar Rp652,9 triliun, turun 4,79% dibandingkan bulan sebelumnya dan melemah 3,32% secara year-to-date.
Selama Juni, investor melakukan pencairan dana (net redemption) sebesar Rp23,75 triliun. Secara kumulatif sejak awal tahun, net redemption mencapai Rp2,14 triliun, mencerminkan sebagian investor memilih mengalihkan dana atau merealisasikan investasinya di tengah fluktuasi pasar.
Berbeda dengan pasar saham, pasar obligasi menunjukkan kondisi yang relatif lebih stabil.
Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup pada level 429,85, turun 1,69% secara bulanan. Di tengah koreksi tersebut, investor asing masih mencatat pembelian bersih (net buy) Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp22,43 triliun, mengindikasikan minat terhadap instrumen pendapatan tetap Indonesia masih terjaga.
Pada sektor keuangan derivatif, volume transaksi secara kumulatif telah mencapai 235.343 lot hingga akhir Juni 2026.
Sementara itu, perkembangan bursa karbon juga terus berlanjut. Hingga akhir semester pertama tahun ini tercatat 155 pengguna jasa, dengan volume transaksi mencapai 1,98 juta ton CO₂ ekuivalen (tCO₂e) dan nilai transaksi akumulatif sebesar Rp93,81 miliar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 4Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 520 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 8Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026










