Akurat Logo

Transformasi Digital Sukses Ala Jahja Setiaatmadja

Esha Tri Wahyuni | 16 Juli 2026, 08:48 WIB
Transformasi Digital Sukses Ala Jahja Setiaatmadja
Presiden Komisaris PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), Jahja Setiaatmadja

AKURAT.CO Di tengah derasnya transformasi digital dan perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), banyak perusahaan berlomba-lomba mengadopsi teknologi terbaru untuk meningkatkan efisiensi. 

Digitalisasi bahkan menjadi salah satu ukuran kesiapan perusahaan menghadapi persaingan global yang semakin kompleks. Namun, bagi Presiden Komisaris PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), Jahja Setiaatmadja, teknologi hanyalah salah satu instrumen dalam membangun organisasi.

Di atas seluruh inovasi digital, menurut dia, masih ada faktor yang jauh lebih menentukan keberlanjutan sebuah perusahaan, yakni kualitas manusia dan integritas yang menjadi fondasi tata kelola perusahaan.

Baca Juga: Jahja Setiaatmadja Ungkap Mengapa Keberhasilan Perusahaan Tak Bisa Bertumpu pada KPI Semata

Pandangan tersebut disampaikan Jahja saat berbicara mengenai kepemimpinan, manajemen risiko, dan transformasi organisasi dalam forum Governance, Risk, and Compliance (GRC) 2026. 

"Pada akhirnya, yang menentukan keberhasilan bukan hanya strategi, bukan hanya teknologi, dan bukan hanya modal. Yang paling menentukan adalah manusianya," ujar Jahja.

Pernyataan tersebut menjadi relevan ketika industri jasa keuangan memasuki fase digitalisasi yang semakin agresif. Layanan perbankan kini berkembang dari sekadar transaksi konvensional menuju ekosistem digital yang memanfaatkan kecerdasan buatan, analitik data, komputasi awan (cloud computing), hingga otomatisasi proses bisnis.

Di Indonesia sendiri, transformasi digital menjadi agenda utama industri keuangan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam berbagai kebijakan mendorong percepatan digitalisasi layanan keuangan.

Sementara Bank Indonesia memperluas digitalisasi sistem pembayaran melalui QRIS, BI-FAST, dan pengembangan infrastruktur pembayaran nasional. Namun, menurut Jahja, keberhasilan transformasi digital tidak dapat diukur hanya dari seberapa banyak teknologi yang digunakan perusahaan.

Pisau Bermata Dua

Teknologi, lanjut Jahja, punya dua sisi yang harus dipahami secara seimbang. Ia menggambarkan teknologi sebagai sebuah pisau dapur. Satu sisi sangat tajam dan memberikan manfaat besar, sedangkan sisi lainnya memerlukan kehati-hatian agar tidak justru melukai organisasi.

"Saya mengibaratkan teknologi seperti pisau. Ada sisi yang sangat tajam ke dalam organisasi, tetapi ada sisi lain yang harus benar-benar diperhatikan ketika berhadapan dengan pelanggan," tegasnya.

Menurut dia, sisi pertama berkaitan dengan bagaimana perusahaan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi operasional.

Digitalisasi memungkinkan berbagai proses bisnis menjadi lebih cepat, sederhana, dan akurat. Otomatisasi juga mampu mengurangi pekerjaan administratif yang berulang sehingga sumber daya manusia dapat lebih fokus pada aktivitas yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Meski demikian, Jahja mengingatkan bahwa perusahaan tidak boleh terjebak pada semangat digitalisasi yang berlebihan. Justru Jahja memilih menggunakan istilah optimal, bukan maksimal.

Menurut dia, setiap investasi teknologi harus dihitung berdasarkan manfaat yang dihasilkan dibandingkan biaya yang dikeluarkan.

"Perusahaan harus menghitung sendiri berapa investasi yang dikeluarkan dan apa manfaat yang diperoleh. Jangan sampai biaya yang dikeluarkan lebih besar daripada manfaatnya," ucapnya.

Pendekatan tersebut mencerminkan prinsip efisiensi yang selama ini menjadi karakter industri perbankan. Digitalisasi memang mampu meningkatkan produktivitas, tetapi investasi teknologi juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Mulai dari pembangunan infrastruktur, keamanan siber, hingga pengembangan sumber daya manusia. Karena itu, perusahaan dituntut mampu memilih inovasi yang benar-benar memberikan nilai tambah bagi bisnis.

Nasabah Benci Fitur Rumit

Pengalaman Jahja memimpin BCA menunjukkan bahwa inovasi digital tidak selalu identik dengan penambahan fitur.

Ia mengisahkan bagaimana pada masa awal perkembangan mobile banking, BCA sangat bersemangat menghadirkan berbagai layanan baru. Tim teknologi informasi berlomba-lomba menciptakan aplikasi dengan fitur yang semakin lengkap.

Namun, hasil evaluasi justru menunjukkan kenyataan yang berbeda. Banyak nasabah, terutama dari kalangan senior, merasa aplikasi menjadi semakin rumit.

Mereka (nasabah) harus terus mempelajari antarmuka baru, sementara kebutuhan utama mereka sebenarnya sangat sederhana. Hingga pada akhirnya, saran dan kritikan tersebut mengubah cara pandang perusahaan (BCA) terhadap inovasi.

"Saya hanya ingin transfer dan melihat saldo," kata Jahja menirukan keluhan sebagian nasabah.

Menurut Jahja, keberhasilan teknologi bukan ditentukan oleh banyaknya fitur yang dimiliki sebuah aplikasi, melainkan sejauh mana teknologi tersebut benar-benar menjawab kebutuhan mayoritas pelanggan.

Prinsip itu kemudian menjadi dasar dalam mengevaluasi berbagai inovasi digital yang dikembangkan BCA.

Sebagai contoh, perusahaan pernah menghadirkan berbagai fitur gaya hidup, mulai dari pembelian tiket transportasi, reservasi hotel, hingga layanan hiburan.

Secara nominal, transaksi yang terjadi memang mencapai puluhan ribu setiap hari. Namun, jika dibandingkan dengan total transaksi harian BCA yang mencapai sekitar 150 juta transaksi, kontribusi fitur-fitur tersebut relatif kecil.

Artinya, fitur itu bukan prioritas utama. Pelajaran terbesarnya sederhana yakni perusahaan tidak boleh mengembangkan teknologi hanya karena mengikuti tren akan tetapi inovasi juga harus berangkat dari kebutuhan nyata pelanggan.

"Apalagi dalam industri jasa keuangan, kepercayaan dan kemudahan penggunaan seringkali jauh lebih penting dibandingkan banyaknya fitur yang ditawarkan," ujar Jahja.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.