Akurat
Pemprov Sumsel

Bank vs Fintech: Persaingan Layanan Keuangan Digital Semakin Ketat, Begini Strategi Maybank Indonesia Menghadapinya

Naufal Lanten | 4 Desember 2025, 13:51 WIB
Bank vs Fintech: Persaingan Layanan Keuangan Digital Semakin Ketat, Begini Strategi Maybank Indonesia Menghadapinya

AKURAT.CO Di tengah perubahan cepat di industri keuangan, bank kini dihadapkan pada kompetisi baru yang jauh lebih kompleks dibandingkan satu dekade lalu. Tidak hanya bersaing dengan sesama bank, mereka kini juga harus berhadapan dengan perusahaan teknologi finansial (fintech) yang agresif, cepat berinovasi, dan dekat dengan gaya hidup digital masyarakat. Maybank Indonesia menjadi salah satu bank besar yang terus memodernisasi teknologi dan memperkuat platform digitalnya untuk menjawab ekspektasi nasabah yang semakin tinggi.

Artikel ini merangkum pandangan Maybank Indonesia tentang tren digital banking, tantangan modernisasi teknologi, hingga strategi personalisasi layanan yang dipimpin oleh aplikasi M2U ID App. Semua dijabarkan melalui penjelasan para pemimpin Maybank Indonesia, mulai dari IT & Digital Director Bambang Andri Irawan hingga Head of Digital Banking Charles Budiman.


Perubahan Perilaku Nasabah dan Ketatnya Kompetisi Digital

Lanskap digital banking berkembang pesat, bukan hanya karena kemajuan teknologi, tetapi juga karena perubahan perilaku masyarakat. Dulu, orang rela datang ke cabang untuk membuka rekening atau melakukan transaksi sederhana. Kini, ekspektasi nasabah sudah bergeser jauh: semua harus bisa dilakukan kapan pun dan di mana pun, dari ponsel.

Menurut Bambang Andri Irawan, meningkatnya gaya hidup serba digital membuat nasabah menginginkan layanan perbankan yang cepat, aman, dan bisa diakses 24 jam sehari. Di saat yang sama, kompetisi juga ikut berubah. Bank tak lagi bersaing hanya dengan bank. Mereka kini harus menghadapi pemain baru seperti fintech dan penyedia layanan digital lain yang menawarkan layanan finansial berbasis aplikasi.

"Kita melihat ekosistemnya makin kompleks, kemudian kompetisinya juga makin intens, gitu, ya. Di mana kita melihat sekarang ini kompetisi bank itu bukan hanya sesama bank, tapi juga dengan para pendidik jasa keuangan lain, seperti fintech misalnya," ujar Bambang dalam acara Maybank Indonesia Media Update – Shaping The Future of Digital Banking di Jakarta, Kamis, 4 Desember 2025.

Bambang menegaskan bahwa inklusivitas digital membuat batas-batas layanan finansial semakin tipis. Nasabah bisa memilih menikmati layanan keuangan dari berbagai pihak tanpa terikat lokasi fisik cabang. Karena itu, bank harus beradaptasi cepat agar tetap relevan.


Modernisasi Teknologi Jadi Kunci: Transformasi Empat Tahun Maybank

Untuk dapat bersaing dalam kompetisi yang semakin terbuka, teknologi menjadi fondasi utama. Modernisasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Bambang menjelaskan bahwa Maybank Indonesia telah menjalankan transformasi teknologi besar-besaran dalam empat tahun terakhir. Peremajaan teknologi dilakukan pada berbagai lini:

Mulai dari data center, sistem di kantor pusat, jaringan cabang, hingga infrastruktur aplikasi mobile M2U ID App. Bahkan, Maybank juga sedang menjalankan modernisasi core banking untuk memastikan sistem yang mereka gunakan siap menghadapi inovasi masa depan.

Tujuannya jelas—menciptakan platform yang mumpuni, fleksibel, dan aman. Sebagai lembaga keuangan, keamanan data nasabah menjadi prioritas utama. Modernisasi ini dilakukan untuk menjawab dua tuntutan besar: inovasi dan keamanan. Dengan pondasi teknologi yang kuat, bank dapat menghadirkan layanan digital yang lebih reliable.


M2U ID App: Senjata Utama Maybank dalam Persaingan Digital

Dalam kompetisi bank vs fintech, peran aplikasi mobile banking sangatlah krusial. M2U ID App menjadi titik sentuh utama antara Maybank dan nasabah digital. Aplikasi ini dirancang untuk menjadi platform yang bisa memenuhi kebutuhan finansial sehari-hari.

Fitur yang ditawarkan cukup lengkap, mulai dari pembukaan rekening digital, transfer dana domestik dan internasional, pembayaran tagihan, hingga layanan investasi. Maybank menyediakan ragam produk seperti reksa dana, retail bond, bancassurance, hingga fitur unik pembelian emas langsung dari aplikasi.

Semua ini selaras dengan semangat Maybank: “humanizing financial services”. Artinya, teknologi bukan sekadar alat, tetapi cara untuk memudahkan hidup nasabah dalam setiap kebutuhan finansial mereka.


Kompetisi Ketat Mendorong Personalisasi Layanan

Head of Digital Banking Maybank Indonesia, Charles Budiman, menambahkan perspektif penting terkait persaingan di era digital. Menurutnya, Indonesia memiliki sekitar 106 bank, sebuah angka yang sangat besar untuk populasi dan kompetisi industri. Dengan kompetisi setinggi ini, bank tidak bisa lagi hanya fokus pada apa yang mereka ingin tawarkan.

Charles menegaskan bahwa digital banking harus dimulai dari manusia, bukan teknologi. Bank perlu memahami siapa nasabah yang ingin mereka layani dan apa kebutuhan masing-masing segmen. Misalnya, keluarga muda jelas punya kebutuhan yang berbeda dengan profesional atau pekerja berpenghasilan tinggi.

Maybank melakukan transformasi mindset untuk menjadi organisasi yang benar-benar customer-centric. Setiap produk atau solusi digital dikembangkan dengan memprioritaskan kebutuhan nasabah terlebih dahulu. Itulah alasan M2U ID App dirancang bukan sebagai alat transaksi semata, tetapi sebagai platform yang mendukung keseharian pengguna.


Digital Banking Sebagai Ekosistem, Bukan Fitur Tunggal

Salah satu poin penting dalam diskusi ini adalah bahwa digital banking tidak bisa lagi dipandang sekadar sebagai aplikasi mobile. Ia adalah bagian dari ekosistem besar yang melibatkan keamanan, infrastruktur, data, perilaku pengguna, dan kolaborasi lintas sektor.

Maybank melihat ekosistem digital semakin kompleks. Meski demikian, mereka tetap fokus pada dua hal: memudahkan nasabah dan menjaga keamanan. Konsistensi dalam dua hal ini menjadi fondasi untuk bersaing dengan fintech yang sering kali lebih fleksibel.


Kesimpulan: Strategi Maybank Menghadapi Persaingan Bank vs Fintech

Dari penjelasan para petinggi Maybank Indonesia, ada beberapa benang merah yang menjelaskan strategi mereka dalam menghadapi kompetisi:

Bank harus adaptif dan proaktif menjawab perubahan perilaku masyarakat. Keamanan dan modernisasi teknologi tidak bisa ditawar. Personalisasi layanan menjadi faktor pembeda di tengah banyaknya pilihan bagi nasabah. Aplikasi mobile banking harus menjadi ekosistem, bukan hanya alat transaksi. Transformasi tidak hanya tentang teknologi, tetapi juga perubahan pola pikir seluruh organisasi.

Perubahan besar di industri keuangan akan terus berlanjut. Dengan kompetisi yang semakin sengit antara bank dan fintech, nasabah akan selalu menjadi pemenang karena mereka akan mendapat layanan yang lebih baik, cepat, dan sesuai kebutuhan.

Kalau kamu tertarik mengikuti perkembangan digital banking dan inovasi keuangan terbaru, pantau terus update selanjutnya di AKURAT.CO.

Baca Juga: Transformasi Digital Bank di Indonesia 2025–2026: Strategi Maybank Hadapi Tren Masa Depan dan Evolusi Kebutuhan Nasabah

Baca Juga: Personalisasi dalam Digital Banking: Cara Maybank Mengikuti Perilaku dan Kebutuhan Nasabah Masa Kini

FAQ

1. Mengapa persaingan digital banking antara bank dan fintech semakin ketat?

Persaingan meningkat karena perubahan perilaku nasabah yang kini lebih memilih layanan keuangan serba cepat, praktis, dan berbasis aplikasi. Fintech menawarkan inovasi lebih agresif, sementara bank harus beradaptasi lewat modernisasi teknologi dan layanan digital.

2. Apa tantangan terbesar bank dalam menghadapi fintech?

Tantangan terbesar meliputi kecepatan inovasi, fleksibilitas layanan, ekspektasi nasabah terhadap kemudahan transaksi, serta kebutuhan untuk meningkatkan keamanan data dan sistem perbankan.

3. Bagaimana Maybank Indonesia menjawab persaingan bank vs fintech?

Maybank melakukan transformasi teknologi besar-besaran selama empat tahun terakhir, memperkuat infrastruktur digital, memodernisasi core banking, serta menghadirkan layanan yang lebih personal melalui M2U ID App.

4. Apa peran M2U ID App dalam strategi digital Maybank?

M2U ID App menjadi pusat pengalaman digital Maybank. Aplikasi ini menyediakan pembukaan rekening online, transfer, pembayaran tagihan, investasi, pembelian emas, dan fitur keuangan lain yang mendukung kebutuhan harian nasabah.

5. Mengapa personalisasi layanan penting dalam digital banking?

Setiap segmen nasabah memiliki kebutuhan berbeda. Personalisasi membantu bank memberikan layanan relevan, meningkatkan engagement, dan membangun loyalitas di tengah banyaknya pilihan layanan finansial.

6. Apa saja modernisasi teknologi yang dilakukan Maybank?

Modernisasi meliputi peningkatan data center, pembaruan sistem kantor pusat, pembaruan jaringan cabang, peningkatan keamanan digital, serta modernisasi core banking untuk mendukung inovasi masa depan.

7. Bagaimana Maybank menjaga keamanan data nasabah?

Maybank memperkuat infrastruktur keamanan, memperbarui sistem inti, meningkatkan pemrosesan data, dan memastikan seluruh inovasi digital memenuhi standar keamanan tinggi untuk melindungi informasi nasabah.

8. Apa yang dimaksud dengan ekosistem digital banking?

Ekosistem digital banking bukan hanya aplikasi, tetapi keseluruhan sistem yang melibatkan keamanan, data, perilaku pengguna, infrastruktur teknologi, dan kolaborasi dengan pihak lain guna menciptakan layanan keuangan yang holistik.

9. Apakah bank masih tetap relevan di era fintech?

Ya. Bank tetap penting dalam urusan keamanan, regulasi, dan layanan finansial yang lebih stabil. Namun, relevansi bank bergantung pada kemampuan mereka melakukan inovasi dan menghadirkan layanan digital yang mudah digunakan.

10. Apa yang menjadi fokus utama Maybank dalam transformasi digital?

Fokus utamanya adalah menempatkan nasabah sebagai pusat pengembangan produk, menciptakan layanan yang mudah dan aman, serta membangun ekosistem digital yang mendukung kebutuhan finansial sehari-hari pengguna.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.