Akurat Logo

Ujian Destry Damayanti, Pejabat Gubernur Sementara BI

Esha Tri Wahyuni | 27 Juli 2026, 10:47 WIB
Ujian Destry Damayanti, Pejabat Gubernur Sementara BI
Ibrahim Assuaibi

AKURAT.CO Pelemahan nilai tukar rupiah dinilai tidak akan mudah berbalik arah meski nantinya Bank Indonesia (BI) dipimpin pejabat gubernur sementara, Destry Damayanti. 

Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai, tekanan terhadap rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi kondisi ekonomi global dan tantangan fiskal di dalam negeri dibanding faktor kepemimpinan semata.

Menurut Ibrahim, konflik geopolitik yang masih berlangsung di berbagai kawasan menjadi salah satu faktor utama yang terus membebani pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

"Kondisi ekonomi global sedang tidak baik-baik saja. Kita melihat perang di Timur Tengah masih berlangsung, kemudian konflik Rusia-Ukraina juga belum berakhir. Bahkan eskalasi geopolitik melebar ke sejumlah kawasan lain. Kondisi ini membuat rupiah terus mengalami pelemahan," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Senin (27/7/2026).

Baca Juga: Profil Destry Damayanti, Pejabat Gubernur BI Sementara Pengganti Perry Warjiyo

Ibrahim mengatakan pemerintah tentu menginginkan nilai tukar rupiah kembali menguat ke kisaran Rp16.500 per dolar USD. Namun, target tersebut dinilai tidak mudah dicapai dalam waktu dekat.

"Keinginan pemerintah tentu rupiah kembali menguat ke Rp16.500. Tetapi kondisi saat ini tidak serta-merta membuat rupiah bisa kembali menguat karena tekanan yang dihadapi masih sangat besar," ujarnya.

Selain tekanan global, Ibrahim menilai kondisi fiskal domestik juga menjadi tantangan tersendiri. Menurut dia, berbagai program pemerintah yang membutuhkan anggaran besar ikut memberikan tekanan terhadap persepsi pasar.

"Banyak program pemerintah yang membutuhkan anggaran jumbo, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih. Di sisi lain muncul berbagai persoalan yang kemudian memengaruhi kekuatan fiskal dalam negeri. Hal itu akhirnya ikut berdampak terhadap pelemahan rupiah," katanya.

Ibrahim juga menanggapi kabar pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. Menurutnya, keputusan tersebut merupakan langkah yang patut dihormati setelah berbagai upaya dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

"Pak Perry Warjiyo sudah bekerja keras untuk menahan agar rupiah kembali menguat. Namun sampai sekarang memang belum berhasil mengangkat nilai tukar rupiah sesuai harapan. Keputusan beliau mengundurkan diri merupakan langkah yang patut diapresiasi karena memberikan kesempatan kepada penerusnya untuk memimpin Bank Indonesia," ujarnya.

Meski demikian, Ibrahim menilai siapapun yang nantinya memimpin Bank Indonesia akan menghadapi tantangan yang tidak ringan.

"Siapapun yang menjadi Gubernur Bank Indonesia saat ini akan sangat sulit mengembalikan rupiah ke level yang lebih kuat. Penyebab utamanya bukan hanya kebijakan moneter, tetapi juga tekanan geopolitik global dan kondisi perekonomian domestik yang masih menghadapi berbagai persoalan," kata Ibrahim.

Ujian Sesungguhnya

brahim menilai, persoalan yang dihadapi bukan sekadar menjaga stabilitas rupiah, tetapi juga menghadapi tekanan ekonomi global dan kondisi domestik yang masih penuh ketidakpastian.

Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah selama ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal dibanding kebijakan individu yang memimpin BI.

Konflik geopolitik yang masih berlangsung di Timur Tengah maupun Eropa Timur menjadi salah satu pemicu utama yang membuat investor cenderung menghindari aset berisiko di negara berkembang.

"Kondisi ekonomi global sedang tidak baik-baik saja. Kita melihat perang di Timur Tengah, konflik Rusia-Ukraina, hingga ketegangan yang terus meluas membuat rupiah terus mengalami tekanan," ujar Ibrahim dalam riset hariannya, Senin (27/7/2026).

Ibrahim mengatakan, kondisi tersebut membuat gubernur BI yang baru nantinya tidak akan memiliki ruang yang mudah untuk mengembalikan rupiah ke level yang lebih kuat.

"Siapapun yang memimpin Bank Indonesia saat ini akan sangat sulit membuat rupiah kembali menguat. Tantangannya bukan hanya berasal dari kebijakan moneter, tetapi juga dari kondisi global yang belum stabil," katanya.

Selain tekanan global, Ibrahim menilai tantangan juga datang dari dalam negeri. Berbagai program pemerintah yang membutuhkan pembiayaan besar dinilai ikut menjadi perhatian pelaku pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia.

"Program-program pemerintah yang membutuhkan anggaran besar juga menjadi perhatian pasar. Kondisi fiskal seperti ini tentu menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah," ujarnya.

Di sisi lain, Ibrahim memberikan apresiasi terhadap langkah Perry Warjiyo yang memilih mundur dari jabatannya setelah memimpin BI dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

"Pak Perry sudah bekerja keras menjaga stabilitas rupiah. Keputusan beliau memberikan kesempatan kepada penerusnya merupakan langkah yang patut dihormati," katanya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa pergantian kepemimpinan tidak akan otomatis mengubah arah pergerakan nilai tukar rupiah apabila faktor-faktor fundamental yang menjadi penyebab tekanan belum mengalami perbaikan.

"Pergantian gubernur bukan solusi instan. Selama tekanan geopolitik masih tinggi dan kondisi ekonomi domestik belum sepenuhnya pulih, gubernur BI yang baru tetap akan menghadapi pekerjaan yang sangat berat," ujar Ibrahim.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.