Rupiah Masih Dibayangi Tekanan Suku Bunga The Fed dan Transisi di BI, Bisa Tembus Rp18.020

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Rabu (29/7/2026).
Rupiah ditaksir akan bergerak fluktuatif di kisaran Rp17.960 hingga Rp18.020 per USD dengan kecenderungan masih berada dalam tekanan.
Pelaku pasar masih menahan posisi menjelang keputusan Fed Fund Rate (FFR) atau suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), di saat sentimen domestik masih dibayangi proses transisi kepemimpinan Bank Indonesia.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah, Transisi Kepemimpinan BI Jadi Sorotan Pasar
Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan indeks dolar AS masih menjadi faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Di sisi lain, pasar juga masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah yang memengaruhi persepsi risiko investor global.
"Rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif, namun cenderung melemah pada perdagangan besok di kisaran Rp17.960 hingga Rp18.020 per USD. Pasar saat ini masih menunggu arah kebijakan The Fed sekaligus mencermati perkembangan transisi kepemimpinan Bank Indonesia," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Rabu (29/7/2026).
Menurut Ibrahim, meredanya eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran memang sedikit mengurangi kekhawatiran pasar.
Laporan The New York Times menyebut Presiden Donald Trump menghentikan rencana memperluas operasi militer AS di Iran setelah mempertimbangkan kondisi persediaan sistem pertahanan udara Pentagon.
Meski demikian, ketegangan di kawasan Timur Tengah belum sepenuhnya berakhir.
Konflik yang berlangsung selama hampir dua pekan sempat mengganggu jalur distribusi energi global setelah Iran menyerang kapal komersial di sekitar Selat Hormuz dan kelompok Houthi menargetkan kapal tanker di Selat Bab el-Mandeb.
Kondisi tersebut sempat mendorong harga minyak dunia melonjak sekitar 20% dalam dua pekan terakhir.
Di saat bersamaan, perhatian investor kini tertuju pada hasil rapat Federal Reserve. Berdasarkan CME FedWatch, mayoritas pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga acuannya.
"Walaupun ekspektasi pasar masih mengarah pada suku bunga yang ditahan, pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh akan menjadi perhatian utama investor. Sikap yang tetap hawkish berpotensi mempertahankan penguatan dolar AS sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah," ujar Ibrahim.
Selain keputusan suku bunga, pasar juga menunggu rilis sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat, mulai dari pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal II hingga indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) yang menjadi acuan inflasi The Fed.
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai pasar masih mencermati proses pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Gubernur BI.
Menurutnya, pengunduran diri Perry sempat meningkatkan ketidakpastian di pasar karena terjadi ketika rupiah sedang berada di bawah tekanan, arus modal asing keluar masih tinggi, dan risiko kenaikan suku bunga global belum mereda.
"Namun penunjukan Destry Damayanti memberikan optimisme bahwa Bank Indonesia tetap memiliki komitmen menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, serta menjaga stabilitas sistem keuangan," katanya.
Ibrahim mengatakan fokus investor berikutnya adalah proses penunjukan gubernur definitif Bank Indonesia. Ia berharap proses suksesi berjalan sesuai mekanisme yang berlaku sehingga mampu menjaga kredibilitas dan independensi bank sentral.
"Pasar berharap pemerintah dapat menunjuk figur yang memiliki kredibilitas tinggi serta mampu menjaga kesinambungan kebijakan moneter. Kepastian tersebut penting untuk menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia," ujarnya.
Sentimen tersebut juga mendapat perhatian dari lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings. Sovereign Analyst S&P Global Ratings, Rain Yin, mengatakan kepada Bloomberg bahwa pengunduran diri Perry Warjiyo tidak secara langsung memengaruhi peringkat utang (sovereign rating) Indonesia.
Namun, perubahan kepemimpinan di bank sentral dinilai dapat meningkatkan risiko terhadap prospek kebijakan apabila proses transisi tidak berjalan mulus.
Pada perdagangan Selasa (28/7/2026), rupiah ditutup melemah 26 poin di level Rp17.962 per USD, setelah sebelumnya sempat tertekan hingga 95 poin.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 8BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026









