BCA Genjot Green Financing, Kredit Energi Terbarukan Melonjak 82 Persen pada Semester I 2026

AKURAT.CO Transisi menuju ekonomi rendah karbon bukan lagi sekadar isu lingkungan, tetapi telah menjadi peluang bisnis baru bagi industri perbankan. Ketika semakin banyak perusahaan berinvestasi pada energi bersih dan teknologi ramah lingkungan, kebutuhan akan pembiayaan juga meningkat. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menjadi salah satu bank yang menangkap momentum tersebut dengan memperbesar portofolio green financing atau pembiayaan hijau sepanjang semester I 2026.
Langkah itu tercermin dari pertumbuhan pembiayaan hijau BCA yang mencapai 19% secara tahunan (yoy) menjadi Rp123 triliun. Di dalamnya, pembiayaan untuk sektor Energi Baru Terbarukan (EBT) mencatat lonjakan paling signifikan, yakni 82% yoy hingga mencapai Rp7,7 triliun. Selain itu, kredit kendaraan bermotor listrik juga meningkat 25% yoy menjadi Rp4 triliun.
Secara singkat, berikut capaian utama pembiayaan hijau BCA pada semester I 2026:
Green financing tumbuh 19% yoy menjadi Rp123 triliun.
Pembiayaan sektor Energi Baru Terbarukan (EBT) melonjak 82% yoy menjadi Rp7,7 triliun.
Kredit kendaraan bermotor listrik meningkat 25% yoy menjadi Rp4 triliun.
Pertumbuhan pembiayaan hijau didukung oleh komitmen BCA menjaga penyaluran kredit secara pruden sekaligus menangkap peluang dari berkembangnya ekonomi berkelanjutan.
Presiden Direktur BCA Hendra Lembong menegaskan bahwa pertumbuhan bisnis perseroan tetap dijalankan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit.
"BCA berterima kasih atas seluruh kepercayaan nasabah setia selama ini, sehingga kami dapat terus tumbuh dan memberikan pelayanan terbaik. Kinerja BCA pada paruh pertama 2026 ditopang berbagai hal, seperti BCA Expoversary 2026 dan penyaluran kredit produktif ke berbagai sektor. Kami memastikan penyaluran kredit BCA dilakukan dengan selalu mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan kondisi likuiditas perusahaan," kata Hendra Lembong saat konferensi pers paparan kinerja BCA beberapa waktu lalu.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa ekspansi pembiayaan hijau bukan dilakukan secara agresif tanpa perhitungan. Sebaliknya, BCA berupaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, kualitas aset, dan kondisi likuiditas perusahaan di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan pada sektor-sektor berkelanjutan.
Mengapa Green Financing BCA Terus Bertumbuh?
Kenaikan pembiayaan hijau BCA menjadi Rp123 triliun bukan hanya menunjukkan besarnya komitmen terhadap prinsip keberlanjutan atau Environmental, Social, and Governance (ESG). Lebih dari itu, angka tersebut mengindikasikan bahwa sektor ekonomi hijau mulai berkembang menjadi salah satu pasar pembiayaan yang semakin menarik bagi industri perbankan.
Dalam beberapa tahun terakhir, permintaan pendanaan untuk proyek-proyek ramah lingkungan terus meningkat. Perusahaan membutuhkan modal untuk membangun pembangkit energi terbarukan, meningkatkan efisiensi energi, mengembangkan kendaraan listrik, hingga mengadopsi teknologi yang menghasilkan emisi lebih rendah.
Perubahan kebutuhan tersebut menciptakan peluang baru bagi bank. Jika sebelumnya pertumbuhan kredit banyak bertumpu pada sektor-sektor konvensional, kini pembiayaan hijau mulai menjadi salah satu sumber pertumbuhan yang memiliki prospek jangka panjang.
Bagi BCA, perkembangan ini juga sejalan dengan kinerja bisnis secara keseluruhan. Hingga semester I 2026, total kredit perseroan tumbuh 8% yoy menjadi Rp1.036 triliun, sementara laba bersama entitas anak mencapai Rp29,5 triliun. Artinya, ekspansi pembiayaan hijau berlangsung bersamaan dengan pertumbuhan bisnis inti perusahaan, bukan sebagai program yang berdiri sendiri.
Mengapa Pembiayaan Energi Terbarukan Melonjak Hingga 82%?
Di antara seluruh segmen pembiayaan hijau, sektor Energi Baru Terbarukan (EBT) menjadi penyumbang pertumbuhan paling tinggi. Nilai pembiayaan untuk sektor ini meningkat 82% yoy menjadi Rp7,7 triliun.
Lonjakan tersebut mencerminkan semakin besarnya kebutuhan investasi pada proyek-proyek energi bersih di Indonesia. Berbeda dengan proyek konvensional yang umumnya telah memiliki infrastruktur matang, pengembangan energi terbarukan membutuhkan investasi awal yang relatif besar. Pembangunan pembangkit listrik tenaga surya, tenaga air, panas bumi, maupun sumber energi terbarukan lainnya memerlukan dukungan pembiayaan jangka panjang agar proyek dapat berjalan sesuai rencana.
Di sinilah peran bank menjadi penting. Kehadiran lembaga keuangan memungkinkan perusahaan memperoleh akses pendanaan untuk membangun infrastruktur energi yang membutuhkan modal besar sebelum akhirnya menghasilkan arus kas.
Sebagai ilustrasi, bayangkan sebuah perusahaan ingin membangun pembangkit listrik tenaga surya untuk memasok listrik ke kawasan industri. Nilai investasinya bisa mencapai ratusan miliar hingga triliunan rupiah, sementara pengembalian modal baru terjadi dalam jangka panjang. Tanpa dukungan pembiayaan dari perbankan, proyek semacam ini akan lebih sulit direalisasikan.
Karena itu, peningkatan pembiayaan EBT tidak hanya mencerminkan strategi bisnis BCA, tetapi juga menggambarkan semakin besarnya aktivitas investasi pada sektor energi bersih di Indonesia.
Lebih dari Sekadar ESG, Green Financing Kini Menjadi Peluang Bisnis
Selama ini, pembiayaan hijau sering dipandang sebagai bagian dari komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan. Padahal, perkembangan beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa perspektif tersebut mulai berubah.
Bagi industri perbankan, green financing tidak lagi hanya berkaitan dengan pencapaian target ESG atau tanggung jawab sosial perusahaan. Pembiayaan hijau mulai berkembang menjadi segmen bisnis yang menawarkan potensi pertumbuhan baru seiring meningkatnya kebutuhan investasi pada ekonomi rendah karbon.
Perubahan ini dapat dilihat dari semakin beragamnya sektor yang membutuhkan dukungan pembiayaan. Tidak hanya proyek energi terbarukan, tetapi juga kendaraan listrik, bangunan hemat energi, hingga berbagai investasi yang berorientasi pada pengurangan emisi karbon.
Dengan kata lain, semakin cepat transformasi ekonomi menuju energi bersih berlangsung, semakin besar pula kebutuhan pembiayaan dari sektor perbankan. Kondisi tersebut membuka peluang bagi bank yang sejak awal membangun portofolio pembiayaan hijau secara bertahap dan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit.
Baca Juga: Perkuat Layanan BNPL, Indodana Finance Kantongi Pendanaan Rp1,5 Triliun dari Bank BCA
Apa Arti Lonjakan Kredit Kendaraan Listrik bagi Strategi BCA?
Selain pembiayaan untuk proyek energi terbarukan, BCA juga mencatat pertumbuhan pada pembiayaan kendaraan bermotor listrik. Hingga semester I 2026, nilai kredit di segmen ini mencapai Rp4 triliun, meningkat 25% yoy.
Meski nilainya masih lebih kecil dibandingkan pembiayaan korporasi atau kredit produktif lainnya, pertumbuhan tersebut menunjukkan adanya perubahan perilaku pasar. Kendaraan listrik tidak lagi hanya menjadi produk bagi segmen tertentu, tetapi mulai masuk ke pasar yang lebih luas seiring bertambahnya pilihan model, pembangunan infrastruktur pengisian daya, serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap efisiensi energi.
Bagi perbankan, tren ini membuka ceruk bisnis baru. Pembiayaan kendaraan listrik tidak hanya berasal dari pembelian mobil pribadi, tetapi juga kendaraan operasional perusahaan, armada logistik, hingga transportasi umum berbasis listrik.
Jika ekosistem kendaraan listrik terus berkembang, permintaan pembiayaan diperkirakan akan ikut meningkat. Artinya, bank tidak hanya memperoleh peluang dari sisi kredit konsumsi, tetapi juga dari pembiayaan rantai pasok industri kendaraan listrik yang melibatkan produsen komponen, distributor, hingga penyedia infrastruktur pendukung.
Green Financing Tidak Berdiri Sendiri, tetapi Menjadi Bagian dari Strategi Bisnis
Peningkatan pembiayaan hijau BCA tidak terjadi secara terpisah dari kinerja bisnis perusahaan secara keseluruhan. Sebaliknya, strategi tersebut berjalan beriringan dengan pertumbuhan kredit dan pendanaan yang tetap kuat.
Pada semester I 2026, total kredit BCA mencapai Rp1.036 triliun, tumbuh 8% yoy dan untuk pertama kalinya menembus level Rp1.000 triliun. Dari jumlah tersebut, kredit produktif menjadi kontributor utama dengan nilai Rp802 triliun, meningkat 11% yoy.
Pembiayaan korporasi tumbuh 13,6% yoy menjadi Rp513,4 triliun, sementara kredit komersial dan UKM meningkat 6,6% yoy menjadi Rp288,5 triliun.
Di sisi pendanaan, BCA juga mencatat pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 7,9% yoy menjadi Rp1.284 triliun. Sementara itu, dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) meningkat 10,2% yoy menjadi Rp1.082 triliun, dengan kontribusi sekitar 84,3% terhadap total DPK.
Dominasi CASA menjadi salah satu faktor penting yang mendukung ekspansi pembiayaan. Karena sebagian besar dana berasal dari giro dan tabungan yang memiliki biaya relatif rendah, BCA memiliki ruang yang lebih besar untuk menyalurkan kredit tanpa menghadapi tekanan biaya dana yang tinggi.
Kondisi tersebut juga tercermin pada Cost of Fund (CoF) yang tetap terjaga, sehingga perusahaan dapat menjaga profitabilitas di tengah ekspansi bisnis.
Mengapa Pembiayaan Hijau Berpotensi Menjadi Mesin Pertumbuhan Jangka Panjang?
Salah satu hal yang menarik dari perkembangan pembiayaan hijau adalah perubahan cara industri perbankan memandang sektor ini.
Beberapa tahun lalu, pembiayaan hijau lebih sering dikaitkan dengan komitmen keberlanjutan atau pemenuhan prinsip ESG. Kini, perspektif tersebut mulai bergeser.
Semakin banyak proyek energi bersih yang membutuhkan pembiayaan, semakin besar pula peluang bank untuk memperluas portofolio kredit pada sektor yang diperkirakan akan terus berkembang dalam jangka panjang.
Dengan kata lain, green financing mulai bertransformasi dari sekadar instrumen keberlanjutan menjadi salah satu sumber pertumbuhan bisnis.
Hal ini terlihat dari semakin luasnya sektor yang membutuhkan pembiayaan, mulai dari pembangkit listrik berbasis energi terbarukan, kendaraan listrik, efisiensi energi di kawasan industri, hingga pembangunan infrastruktur pendukung ekonomi rendah karbon.
Bagi bank, diversifikasi seperti ini juga memiliki nilai strategis. Ketika permintaan kredit dari sektor tertentu melambat, pembiayaan hijau dapat menjadi salah satu alternatif untuk menjaga pertumbuhan portofolio.
Green Financing Kini Menjadi Indikator Daya Saing Bank
Dalam beberapa tahun ke depan, persaingan antarbank kemungkinan tidak lagi hanya ditentukan oleh besarnya aset atau jumlah kantor cabang.
Kemampuan membaca arah perubahan ekonomi juga akan menjadi faktor pembeda.
Transisi menuju energi yang lebih bersih diperkirakan menciptakan kebutuhan investasi dalam jumlah besar. Perusahaan membutuhkan pembiayaan untuk membangun pembangkit listrik, memperbarui teknologi produksi, hingga mengembangkan armada kendaraan listrik. Semua kebutuhan tersebut membuka peluang bagi industri perbankan.
Dari sudut pandang ini, kenaikan pembiayaan energi terbarukan BCA sebesar 82% bukan sekadar angka pertumbuhan tahunan. Angka tersebut dapat dibaca sebagai sinyal bahwa bank mulai menempatkan sektor hijau sebagai bagian dari strategi pertumbuhan jangka panjang, bukan hanya pelengkap laporan keberlanjutan.
Namun demikian, tantangan tetap ada. Proyek-proyek hijau umumnya membutuhkan investasi besar dengan periode pengembalian yang lebih panjang. Karena itu, bank harus mampu menyeimbangkan antara peluang pertumbuhan, pengelolaan risiko, dan kualitas pembiayaan agar ekspansi tetap berjalan secara sehat.
Inovasi Digital dan Kualitas Aset Perkuat Fondasi Pertumbuhan
Selain memperluas pembiayaan hijau, BCA juga terus memperkuat ekosistem layanan digital untuk meningkatkan aktivitas transaksi nasabah.
Perseroan kini memungkinkan nasabah membuka rekening efek dan Rekening Dana Nasabah (RDN) BCA Sekuritas melalui aplikasi myBCA. Selain itu, pengajuan kartu kredit baru maupun kartu tambahan juga dapat dilakukan secara digital.
Di sektor gaya hidup, myBCA turut menghadirkan layanan pembelian tiket pesawat melalui tiket.com, melengkapi fitur pembelian tiket kereta api dan kapal yang telah tersedia sebelumnya.
Inovasi tersebut berkontribusi terhadap pertumbuhan pendapatan nonbunga yang mencapai Rp13,2 triliun, meningkat 11% yoy hingga Juni 2026.
Sementara itu, kualitas aset tetap terjaga. Rasio Loan at Risk (LAR) tercatat 4,9%, sedangkan Non Performing Loan (NPL) berada di level 1,9%.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ekspansi kredit, termasuk pembiayaan hijau, tetap dijalankan dengan memperhatikan kualitas portofolio dan prinsip kehati-hatian.
Green Financing Menunjukkan Perubahan Arah Industri Perbankan
Pertumbuhan pembiayaan hijau BCA memberi gambaran bahwa transformasi menuju ekonomi berkelanjutan tidak hanya berlangsung di sektor energi atau industri manufaktur, tetapi juga mulai membentuk strategi bisnis lembaga keuangan.
Ketika investasi pada energi baru terbarukan, kendaraan listrik, dan proyek rendah karbon terus meningkat, kebutuhan pembiayaan juga akan bertambah. Dalam situasi seperti ini, bank memiliki posisi strategis sebagai penyedia modal yang menghubungkan kebutuhan investasi dengan pelaksanaan proyek di lapangan.
Di sisi lain, bagi perbankan sendiri, pembiayaan hijau dapat menjadi sumber diversifikasi portofolio sekaligus peluang menciptakan pertumbuhan jangka panjang. Karena itu, peningkatan green financing BCA hingga Rp123 triliun dan lonjakan pembiayaan energi terbarukan sebesar 82% menjadi sinyal bahwa sektor ini semakin diperhitungkan dalam strategi bisnis perusahaan.
Ke depan, keberhasilan bank dalam mengembangkan pembiayaan hijau kemungkinan tidak hanya diukur dari besarnya dana yang disalurkan, tetapi juga dari kemampuan menjaga kualitas aset, memilih proyek yang layak, dan memastikan pembiayaan tersebut benar-benar memberikan dampak ekonomi maupun lingkungan.
Dengan fondasi pendanaan yang kuat, kualitas kredit yang sehat, dan semakin besarnya kebutuhan investasi hijau di Indonesia, green financing berpotensi menjadi salah satu pilar pertumbuhan industri perbankan pada tahun-tahun mendatang.
Pantau terus perkembangan sektor perbankan dan transisi energi untuk mengetahui bagaimana pembiayaan hijau akan semakin memengaruhi arah investasi dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Baca Juga: Bagaimana Cara Main Gacha BCA? Begini Panduan Lengkap Mengumpulkan Poin hingga Klaim Hadiah
Baca Juga: Meski Ekonomi Diprediksi Melambat, Mirae Tetap Jagokan BBCA dan BRIS, Ini Alasannya
FAQ
Apa yang dimaksud green financing BCA?
Green financing BCA adalah pembiayaan yang disalurkan untuk mendukung kegiatan atau proyek yang memberikan manfaat bagi lingkungan, seperti energi baru terbarukan, kendaraan listrik, dan sektor lain yang mendukung pembangunan berkelanjutan. Hingga semester I 2026, nilai green financing BCA mencapai Rp123 triliun.
Berapa nilai pembiayaan hijau BCA pada semester I 2026?
Per semester I 2026, green financing BCA tercatat sebesar Rp123 triliun, meningkat 19% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut didukung oleh kenaikan pembiayaan energi terbarukan dan kendaraan listrik.
Mengapa pembiayaan energi terbarukan BCA naik 82%?
Kenaikan pembiayaan energi terbarukan mencerminkan meningkatnya kebutuhan investasi pada proyek-proyek energi bersih di Indonesia. Pembangunan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan membutuhkan modal besar sehingga perbankan berperan penting dalam menyediakan pembiayaan jangka panjang.
Berapa nilai kredit kendaraan listrik BCA?
Hingga semester I 2026, kredit kendaraan bermotor listrik BCA mencapai Rp4 triliun, atau tumbuh 25% yoy. Pertumbuhan ini menunjukkan meningkatnya permintaan pembiayaan pada ekosistem kendaraan listrik.
Mengapa green financing penting bagi industri perbankan?
Green financing membuka peluang pertumbuhan baru bagi industri perbankan karena semakin banyak proyek berkelanjutan yang membutuhkan pembiayaan. Selain mendukung transisi energi, pembiayaan hijau juga membantu bank melakukan diversifikasi portofolio kredit ke sektor-sektor yang diperkirakan terus berkembang.
Apa hubungan green financing dengan strategi bisnis BCA?
Bagi BCA, pembiayaan hijau menjadi bagian dari strategi pertumbuhan jangka panjang. Hal ini terlihat dari peningkatan pembiayaan energi terbarukan, kendaraan listrik, serta tetap terjaganya kualitas aset dan pertumbuhan kredit secara keseluruhan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 4Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 520 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 8Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026








