Akurat Logo

BPS: Inflasi Juli 2026 Meluas, Transportasi hingga Harga Emas Jadi Pemicu

Esha Tri Wahyuni | 3 Agustus 2026, 18:44 WIB
BPS: Inflasi Juli 2026 Meluas, Transportasi hingga Harga Emas Jadi Pemicu
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono - AKURAT.CO/ANDOY

AKURAT.CO Tekanan inflasi pada Juli 2026 tidak hanya berasal dari kenaikan harga pangan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat biaya transportasi serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga menjadi penyumbang utama inflasi tahunan, mencerminkan tekanan biaya hidup yang semakin meluas ke berbagai kebutuhan rumah tangga.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan, terdapat tiga kelompok pengeluaran yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan pada Juli 2026.

"Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi didorong oleh tiga kelompok," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (3/8/2026).

Baca Juga: Data BPS: 4 dari 10 Balita Mengalami Keluhan Kesehatan, Apa Penyebabnya?

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,87% terhadap inflasi tahunan. Secara tahunan, kelompok ini mengalami inflasi sebesar 2,97%.

Menurut Ateng, kenaikan harga pada kelompok tersebut terutama dipengaruhi oleh meningkatnya harga ikan segar, minyak goreng, beras, sigaret kretek mesin (SKM), daging ayam ras, cabai merah, daging sapi, serta rokok kretek tangan (SKT).

Selain pangan, kelompok transportasi juga memberikan tekanan cukup besar terhadap inflasi. Kelompok ini mencatat inflasi sebesar 5,12% secara tahunan dengan andil 0,62%.

"Komoditas yang dominan memberikan andil pada kelompok transportasi antara lain bensin, tarif angkutan udara, mobil, pelumas atau oli mesin, serta sepeda motor," ujar Ateng.

Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi kelompok dengan kenaikan harga tertinggi secara tahunan, yakni mencapai 9,04% dengan kontribusi 0,61% terhadap inflasi umum.

BPS mencatat lonjakan harga emas perhiasan menjadi faktor utama yang mendorong inflasi pada kelompok tersebut seiring tingginya harga logam mulia.

Dari sisi komponen pembentuk inflasi, inflasi inti (core inflation) tercatat sebesar 2,76% (year on year/yoy) dengan kontribusi terbesar terhadap inflasi umum, yakni mencapai 1,76%.

Baca Juga: BPS: Rata-rata Biaya Kuliah Tembus Rp19 Juta per Tahun, Benarkah Itu Total Pengeluaran Mahasiswa?

"Komoditas penyumbang inflasi inti antara lain emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, serta biaya akademi dan perguruan tinggi," jelas Ateng.

Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) mengalami inflasi sebesar 3,58% (yoy) dengan andil 0,70%. Tekanan berasal dari kenaikan harga bensin, tarif angkutan udara, sigaret kretek mesin (SKM), serta bahan bakar rumah tangga.

Adapun komponen harga bergejolak (volatile food) mencatat inflasi sebesar 2,52% (yoy) dengan kontribusi 0,42%. Komoditas utama penyumbangnya meliputi beras, daging ayam ras, cabai merah, dan daging sapi.

Secara spasial, BPS mencatat seluruh provinsi di Indonesia mengalami inflasi tahunan pada Juli 2026. Papua Barat menjadi provinsi dengan inflasi tertinggi sebesar 5,47%, sedangkan Papua Selatan mencatat inflasi terendah sebesar 1,46%.

Data tersebut menunjukkan tekanan inflasi pada Juli tidak lagi terkonsentrasi pada kelompok pangan semata. Kenaikan biaya transportasi dan tingginya harga emas turut memperluas sumber tekanan terhadap pengeluaran masyarakat di berbagai daerah.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.