Akurat Logo

IHSG Melesat 1,37 Persen ke 6.319, Inflasi dan Neraca Dagang Jadi Penopang

Esha Tri Wahyuni | 4 Agustus 2026, 17:40 WIB
IHSG Melesat 1,37 Persen ke 6.319, Inflasi dan Neraca Dagang Jadi Penopang
ilustrasi Indeks Pergerakan Saham

AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup perdagangan di zona hijau pada Selasa (4/8/2026), menunjukkan optimisme investor terhadap kondisi ekonomi domestik yang dinilai tetap solid di tengah ketidakpastian global.

IHSG ditutup menguat 85,11 poin atau 1,37% ke level 6.319,61. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi saham-saham berkapitalisasi besar turut naik 1,81% menjadi 635,21.

Kenaikan ini terjadi ketika pelaku pasar mulai kembali memberikan perhatian pada indikator fundamental ekonomi Indonesia, mulai dari inflasi yang tetap berada dalam target Bank Indonesia (BI) hingga membaiknya kinerja neraca perdagangan.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan, penguatan IHSG tidak hanya ditopang sentimen dari bursa global, tetapi juga didukung kondisi makroekonomi Indonesia yang relatif stabil.

Baca Juga: IHSG Ditaksir Rebound ke 6.300 Usai Aksi Profit Taking

"Bursa regional Asia bergerak menguat sejalan dengan tren positif bursa Wall Street," ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, Selasa (4/8/2026).

Menurutnya, inflasi Indonesia pada Juli 2026 yang tercatat sebesar 2,88% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi salah satu katalis positif karena masih berada dalam kisaran target Bank Indonesia sebesar 2,5% kurang lebih 1%.

"Terjaganya inflasi dalam kisaran sasaran tersebut merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter serta eratnya sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan pemerintah," kata Nico.

Tak hanya itu, sentimen domestik juga datang dari membaiknya neraca perdagangan Indonesia. Meski masih mencatat defisit sebesar USD450 juta pada Juni 2026, angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan defisit Mei 2026 yang mencapai USD1,61 miliar.

Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia selama Januari hingga Juni 2026 bahkan masih membukukan surplus sebesar USD3,58 miliar. Kondisi ini dinilai menjadi sinyal bahwa sektor eksternal Indonesia tetap memiliki daya tahan di tengah perlambatan ekonomi global.

Di sisi lain, pelaku pasar kini menunggu rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia kuartal II-2026 yang diperkirakan akan menjadi penentu arah pergerakan pasar dalam jangka pendek.

Sentimen positif juga datang dari Amerika Serikat. Data Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan indeks manufaktur AS meningkat dari 53,3 menjadi 55,6 atau menjadi laju ekspansi tercepat dalam lebih dari empat tahun terakhir.

"Kuatnya permintaan mendorong kenaikan produksi sehingga memberikan sentimen positif bagi pasar ketenagakerjaan," ujar Nico.

Meski demikian, investor belum sepenuhnya mengabaikan risiko geopolitik di Timur Tengah. Pasar masih mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan minyak dunia.

Baca Juga: OJK: IHSG Bangkit 10,51 Persen, Penghimpunan Dana Pasar Modal Tetap Kuat

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyebut pembicaraan dengan Iran mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz tengah berlangsung. Namun, Iran membantah adanya proses negosiasi tersebut.

Di tengah ketidakpastian itu, pasar merespons positif kabar mengenai pertemuan Iran dan Oman yang disebut menunjukkan kemajuan dalam upaya meningkatkan kelancaran lalu lintas melalui Selat Hormuz.

Sepanjang perdagangan, IHSG dibuka menguat dan mampu mempertahankan penguatannya hingga penutupan.

Hampir seluruh sektor berhasil mencatatkan kenaikan. Sektor properti menjadi pemimpin penguatan dengan kenaikan 2,57%, disusul sektor transportasi dan logistik sebesar 1,94% serta sektor barang baku sebesar 1,86%.

Sebaliknya, hanya sektor barang konsumen nonprimer yang terkoreksi sebesar 0,37%.

Dari sisi saham, ENZO, PADA, PRDL, HDFA, dan MBTO menjadi emiten dengan kenaikan terbesar. Sementara saham BACH, TMPO, KOCI, OMRE, dan JELI mengalami pelemahan paling dalam.

Aktivitas perdagangan juga berlangsung cukup ramai. Bursa mencatat frekuensi transaksi mencapai 2,11 juta kali dengan volume perdagangan 32,39 miliar saham senilai Rp12,95 triliun. Sebanyak 420 saham menguat, 234 saham melemah, dan 309 saham bergerak stagnan.

Penguatan pasar domestik juga sejalan dengan mayoritas bursa Asia. Indeks Shanghai naik 0,33%, Kospi menguat 1,62%, Nikkei bertambah 0,23 persen, dan Kuala Lumpur menguat 0,40%. Sementara itu, Hang Seng menjadi satu-satunya indeks utama yang ditutup melemah sebesar 0,60%.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.