Deretan Pahlawan Muslimah Nusantara Pejuang Kemerdekaan

AKURAT.CO Perjuangan menuju kemerdekaan bangsa Indonesia tak akan lengkap tanpa peran yang luar biasa dari para wanita.
Para pahlawan muslimah Indonesia tampil berani, memerangi ketidakadilan, dan penuh dedikasi berkontribusi untuk masa depan bangsa melalui berbagai bidang seperti pendidikan, kebudayaan, dan banyak hal lainnya.
Ada setidaknya 5 pahlawan muslimah Indonesia yang mencatat sejarah dalam perjuangan kemerdekaan, entah itu dalam perlawanan terhadap penjajah atau dalam upaya memerjuangkan kesetaraan.
Mereka dengan gigihnya mengorbankan nyawa demi mewujudkan cita-cita Indonesia yang merdeka, damai, dan adil.
Berikut 5 tokoh pahlawan muslimah nusantara perjuang kemerdekaan yang berjasa untuk Indonesia.
Baca Juga: Tips Memilih Kosmetik Berlabel Halal Dan Aman Untuk Muslimah
1. Opu Daeng Risaju
Famajjah, yang juga dikenal dengan nama Opu Daeng Risaju, merupakan seorang pahlawan Muslimah yang memainkan peran penting dalam memobilisasi pemuda untuk melawan NICA (Netherlands Indies Civil Administration).
Famajjah lahir di Palopo, Sulawesi Selatan, pada tahun 1880 M. Sejak usia dini, dia sudah menunjukkan minat dalam memelajari agama Islam, termasuk mengkaji Al-Qur'an dan ilmu fikih.
Famajjah tumbuh menjadi seorang individu yang cerdas dan kritis. Pada usia 47 tahun, dia aktif di bidang politik dan bergabung dengan Partai Sarekat Islam (PSII). Di PSII, dia menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dan diikuti oleh banyak orang di Sulawesi Selatan.
2. Rahma El-Yunusia
Selain tokoh-tokoh pahlawan wanita terkenal seperti Cut Nyak Dien, RA Kartini, atau Dewi Sartika, Indonesia juga memiliki pahlawan perempuan hebat dari Minangkabau, yaitu Rahma El Yunusyiah, yang sama-sama bersemangat dalam memerjuangkan pendidikan untuk perempuan.
Rahma El Yunusyiah mendirikan Madrasah Diniyah Putri pada tanggal 1 November 1923, sebuah sekolah khusus untuk perempuan. Melalui langkah ini, Rahma bertujuan agar perempuan Muslim dapat memiliki peran yang signifikan sebagai pendidik, pekerja sosial, teladan moral, serta duta Islam yang menyebarkan pesan-pesan agama.
Selain itu, Rahma El-Yunusiyah juga mendirikan Menyesal School, sebuah sekolah yang bertujuan untuk memerdekakan ibu rumah tangga dari buta huruf. Menyesal School berdiri dari tahun 1925 hingga 1932, memberikan kontribusi penting dalam peningkatan literasi perempuan.
3. Sultanah Safiatuddin
Sultanah Safiatuddin, pemimpin wanita pertama di Kesultanan Aceh Darussalam, telah mencatatkan namanya dalam sejarah dengan kepemimpinannya yang luar biasa. Setelah kematian suaminya, Sultan Iskandar Tsani pada tahun 1641 M, dia menerima tanggung jawab sebagai pemimpin.
Sultanah Safiatuddin, yang lahir pada tahun 1612, sangat menghargai pendidikan dan memberikan dukungan aktif kepada para sastrawan dan kelompok intelektual untuk berkembang. Dia juga berperan dalam pembangunan pesantren-pesantren. Meskipun kepemimpinannya memunculkan pro dan kontra tentang seorang wanita memimpin Aceh, dia tidak goyah dalam tugasnya untuk menjaga masyarakat.
Selama masa pemerintahannya, Sultanah Safiatuddin mengambil berbagai tindakan dan strategi pemerintahan yang berhasil mencegah upaya penjajahan kolonial selama 34 tahun. Selain itu, dia memromosikan pengembangan ilmu pengetahuan dengan mendirikan perpustakaan dan mendirikan pusat pendidikan seperti Jami' Baiturrahman (Universitas Baiturrahman). Dia juga mendirikan beberapa pesantren di berbagai wilayah Aceh dengan bantuan para ulama.
4. Rasuna Said
Rasuna Said adalah seorang pahlawan muslimah yang memerjuangkan kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Ia juga sangat peduli dengan perkembangan pendidikan bagi perempuan.
Hajjah Rangkayo Rasuna Said lahir di Maninjau, Agam, Sumatera Barat, pada 14 September 1910. Sejak masa kecil, Rasuna Said telah belajar banyak hal tentang pendidikan Islam dan menjalani pendidikan di pesantren. Dia aktif dalam organisasi politik dan bahkan mendirikan Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI) pada tahun 1930 di Bukittinggi.
Rasuna Said dianugerahi gelar pahlawan nasional pada tahun 1974 sebagai pengakuan atas kontribusinya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia serta perjuangannya untuk kesetaraan gender dan pendidikan bagi perempuan.
Baca Juga: Perjuangan Rasuna Said, Pahlawan Perempuan Indonesia
5. Syekhah Hajjah Rangkayo Rahmah El Yunusiyah
Pahlawan Muslimah yang lahir pada tahun 1900 adalah seorang tokoh reformator pendidikan yang berjuang untuk melestarikan Sekolah Diniyah Putri di Padang Panjang. Ia berhasil memeroleh pengakuan dari seorang petinggi Universitas Al-Azhar Mesir yang datang ke Padang. Petinggi tersebut sangat terkesan dengan sekolah yang didirikan oleh Syekhah Rahmah.
Dampak positif dari kunjungan tersebut adalah berdirinya Kulliyatul Lil Banat, yaitu fakultas khusus untuk perempuan di Universitas Al-Azhar, yang kemudian diwujudkan pada tahun 1962.
Syekhah Rahmah juga diberikan gelar kehormatan "Syekhah" oleh Universitas Al-Azhar sebagai penghargaan atas kontribusinya dalam bidang pendidikan.
Syekhah Rahmah adalah contoh nyata dari seorang pahlawan yang berjuang untuk pendidikan dan hak-hak perempuan. (Maulidia Azzahra)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









