Kisah Ummu Waraqah, Perempuan Pertama Yang Menjadi Imam Sholat Bagi Laki-Laki

AKURAT.CO Meskipun telah menjadi syariat bahwa sholat berjamaah bagi laki-laki dan perempuan diimami oleh seorang laki-laki, terdapat satu riwayat menarik yang mengisahkan perempuan menjadi imam sholat bagi laki-laki. Dialah Ummu Waraqah binti al-Harits al-Anshariyah, seorang wanita salehah dari kalangan Anshar, memegang posisi istimewa ini dan bahkan meraih gelar as-Syahidah selama masa hidupnya. Pemberian nama Ummu Waraqah binti Naufal mengacu pada kakeknya yang terhormat.
Dengan penuh keteguhan hati, Ummu Waraqah telah menyatukan seluruh fokusnya pada akhirat. Cahaya Islam telah membimbing jiwanya sehingga ia tidak tergoda oleh hiasan-hiasan dunia yang fana.
Baca Juga: Lahir Di Tanah Suci Palestina, Ini Biografi Imam Syafi'i, Ulama Besar Pendiri Mazhab Syafi'iyah
Keyakinannya yang kuat membuatnya tahu bahwa setiap tasbih yang diucapkan menjadi bagian dari lembaran amal seorang mukmin, jauh lebih berharga daripada seluruh dunia beserta isinya.
Ummu Waraqah dengan bijaksana menjadikan rumahnya sebagai tempat ibadah, menjelma menjadi ikon dalam pengabdian kepada Allah. Ia meresapi setiap ayat dalam kitab suci Allah SWT seolah-olah aliran kehidupannya mengalir bersama urat-urat tubuhnya, memberikan kesegaran iman dan ketaatan pada kalbunya.
Dikutip Dari berbagai kitab yang merincikan kisah-kisah para shahabiyah, terungkap bahwa Ummu Waraqah adalah salah satu perempuan Anshar yang meninggalkan jejak yang mengagumkan dalam sejarah Islam. Ia bersama wanita-wanita Anshar lainnya secara bersamaan memeluk Islam, memberikan sumpah setia kepada Rasulullah, dan menjadi perawi hadis dari beliau. Tindakan dan dedikasinya memberikan kontribusi berharga dalam melestarikan dan menyebarkan ajaran Islam melalui riwayat-riwayat yang beliau sampaikan.
Dengan begitu, Ummu Waraqah termasuk di antara mereka yang Allah singgung dalam firman-Nya:
“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (QS at-Taubah : 100)
Kesungguhan Ummu Waraqah dalam berislam sangat dihargai oleh Nabi Muhammad SAW. Beliau sering mengunjungi kediaman Ummu Waraqah sebagai tanda penghormatan dan pengakuan terhadap dedikasinya.
Bahkan, Ummu Waraqah diangkat sebagai imam shalat untuk para sahabiyah di rumahnya, mengukuhkan posisinya dalam memimpin ibadah di kalangan Muslimah.
Ummu Waraqah juga terkenal dengan keahlian membaca Al-Quran dengan baik, dan keilmuannya yang mendalam. Rasulullah mengirim seorang muazin tua khusus untuk rumah Ummu Waraqah sebagai bentuk peningkatan spiritualitas di lingkungannya. Dengan adzan pertama yang digaungkan khusus untuk rumahnya dan shalat jamaah bagi para Muslimah, rumah Ummu Waraqah menjadi salah satu yang terbaik di Madinah.
Dalam hadis yang diriwayatkan dalam al-Musnad dan as-Sunan dari Abdurrahman bin Khalad, Ummu Waraqah menyampaikan bahwa Rasulullah SAW pernah mengunjunginya dan menunjuk seorang muazin untuknya. Melihat muazin tersebut, Abdurrahman menyaksikan bahwa lelaki itu sudah tua, menunjukkan perhatian khusus dari Rasulullah terhadap rumah Ummu Waraqah.
Setiap perintah Allah yang disampaikan melalui Nabi-Nya selalu diterima dengan tulus oleh Ummu Waraqah. Sebagai seorang Anshar, ia selalu hadir dan siap sedia untuk melaksanakan setiap perintah yang datang dari Rasulullah. Ketika kaum Muslimin bersiap-siap untuk berjihad di medan Badar, Ummu Waraqah pun mendatangi Nabi SAW dengan penuh keikhlasan dan menyampaikan permintaannya.
"Wahai Rasulullah, izinkan aku pergi bersama kalian agar aku bisa merawat orang yang sakit dan mengobati orang yang terluka. Mudah-mudahan dengan itu Allah SWT menganugerahiku mati syahid," pintanya penuh harap.
Namun, seperti hadis yang diriwayatkan Abu Dawud, Nabi SAW menjawab, "Tinggallah di rumahmu. Sungguh, Allah akan menganugerahimu mati syahid di rumahmu."
Ummu Waraqah pun taat dan patuh dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Sejak saat itulah, Ummu Waraqah digelari asy-Syahidah, padahal dia masih hidup di dunia ini. Salah seorang yang gemar memanggil Ummu Waraqah dengan asy-Syahidah, yakni Umar bin Khattab radhiyallahu'anhu.
Baca Juga: Kisah Syuraih Bin Al-Harits, Hakim Bijak Era Umar Bin Khattab Yang Memenjarakan Putranya Sendiri
Dalam kepemimpinan Umar bin Khattab, Ummu Waraqah menemui ajalnya. Dengan memiliki sepasang budak yang dijanjikan kebebasan setelah kematiannya, budak tersebut merencanakan konspirasi jahat untuk memeroleh kebebasan. Mereka menyekap dan membunuh Ummu Waraqah. Umar bin Khattab, yang biasanya mendengar bacaan Al-Qur'an dari rumah Ummu Waraqah setiap malam, curiga ketika bacaan itu hilang.
Umar bin Khattab mencari Ummu Waraqah dan menemukannya meninggal di dalam rumahnya, memenuhi takdir seperti yang diucapkan Rasulullah. Umar bin Khattab mengumumkan wafatnya Ummu Waraqah dan memerintahkan penangkapan kedua budak yang akhirnya dihukum qishash.
Kisah Ummu Waraqah memberikan pelajaran tentang pentingnya mencintai Allah dan Rasulullah, menetapkan waktu untuk membaca dan memahami Al-Qur'an, serta menghafal ayat-ayat dan hadis-hadis sebagai bagian dari ibadah seorang muslimah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









