Akurat Logo

Ghosting: Ketika Pasangan Menghilang Tanpa Kata Seperti Hantu

Redaksi Akurat | 8 Agustus 2026, 20:11 WIB
Ghosting: Ketika Pasangan Menghilang Tanpa Kata Seperti Hantu
Ghosting

AKURAT.CO Ghosting dalam hubungan berarti menghentikan semua komunikasi secara mendadak tanpa memberikan penjelasan kepada pasangan. Praktik ini semakin umum di zaman digital, di mana seseorang bisa dengan mudah menghilang hanya dengan memblokir nomor telepon, tidak merespons pesan, atau menghapus akun media sosial.

Berbeda dengan perpisahan yang biasanya melibatkan pembicaraan dan klarifikasi, ghosting membuat pihak yang ditinggalkan merasa bingung, terluka, dan penuh dengan pertanyaan tanpa jawaban.

Kata ghosting berasal dari istilah “ghost” yang berarti hantu, yang menggambarkan seseorang yang tiba-tiba lenyap seperti hantu tanpa jejak.

Baca Juga: Apa yang Harus Dilakuin ke Cowo Suka Ghosting, Love Story Podcast Punya Jawaban

Tanda-tanda Sedang Mengalami Ghosting

Mengenali tanda-tanda awal ghosting dapat mempersiapkan Anda secara emosional.

Jika pesan Anda tidak dijawab dalam waktu yang lama tanpa alasan yang jelas, telepon Anda tidak diangkat atau langsung masuk ke voicemail, dan status media sosial pasangan aktif namun chat Anda diabaikan, itu bisa menjadi tanda-tanda ghosting.

Janji untuk bertemu selalu dibatalkan dengan alasan yang tidak masuk akal, dan komunikasi juga menurun drastis dari waktu ke waktu.

Pola ini biasanya berlangsung selama beberapa hari hingga minggu dan menciptakan ketidakpastian yang menyakitkan secara psikologis. Berbeda dengan kesibukan biasa, ghosting memiliki pola penghindaran yang jelas dan disengaja.

Alasan Seseorang Melakukan Ghosting

Takut Konfrontasi

Banyak orang memilih ghosting karena takut menghadapi percakapan yang sulit. Mereka berusaha menghindari konflik dengan harapan pasangan akan mengerti sendiri tanpa penjelasan. Ketakutan terhadap reaksi emosional pasangan terkadang membuat mereka memilih cara yang lebih menyakitkan ini.

Kurang Keterampilan Komunikasi

Beberapa orang merasa tidak mampu mengungkapkan perasaan mereka dengan tepat dan memilih untuk menghilang sebagai solusi. Mereka tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan keinginan untuk mengakhiri hubungan dengan cara yang matang dan bertanggung jawab.

Pengaruh Budaya Digital

Kemudahan untuk memblokir atau menghapus kontak di jaman digital membuat ghosting seolah-olah terasa lebih sederhana dan tidak menyakitkan bagi pelakunya. Jarak yang diciptakan oleh dunia maya memberikan ilusi bahwa tindakan ini tidak berpengaruh pada orang lain, padahal dampak emosionalnya sangat nyata.

Contoh Kasus Ghosting dalam Pacaran

Dina dan Rizki berkenalan lewat aplikasi kencan dan merasa cocok setelah kencan pertama. Mereka saling berkirim pesan ramah selama seminggu, namun tiba-tiba Rizki menghentikan balasan chat Dina tanpa penjelasan. Meskipun akun media sosialnya aktif, semua pesan Dina diabaikan.

Contoh lainnya adalah Andi dan Sari yang menjalani hubungan selama 8 bulan. Setelah bertengkar kecil, Andi menghilang selama dua minggu tanpa memberi kabar. Semua usaha Sari untuk menghubunginya gagal karena nomor telepon telah diblokir dan akun Instagramnya tidak diikuti.

Ada juga situasi ghosting bertahap atau slow fade, di mana Kevin mulai mengurangi frekuensi komunikasi dengan pacarnya dari chatting setiap hari menjadi seminggu sekali, hingga akhirnya tidak merespons sama sekali. Proses ini berlangsung selama sebulan, menyulitkan pasangannya untuk mengetahui kapan hubungan sudah berakhir.

Dampak Psikologis Ghosting bagi Korban

Ghosting dapat menyebabkan luka emosional yang mendalam karena korban tidak mendapatkan penutupan yang jelas. Penelitian dari Journal of Social and Personal Relationships menemukan bahwa mereka yang di-ghosting mengalami tingkat kecemasan dan depresi yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang berpisah secara normal.

Pengalaman ghosting membuat seseorang merasa kesulitan untuk mempercayai orang lain di hubungan berikutnya. Hal ini dapat membuat mereka lebih waspada berlebihan dan takut terluka lagi, yang pada akhirnya mengganggu kemampuan mereka untuk membangun hubungan yang sehat di masa depan.

Korban ghosting sering kali menyalahkan diri mereka sendiri dan mempertanyakan kesalahan yang mereka buat. Pikiran seperti “Apa yang salah padaku? ” atau “Mengapa aku tidak cukup baik? ” terus muncul dan merusak rasa harga diri serta kepercayaan diri mereka.

Cara Menangani Ghosting dengan Bijak

Jangan terburu-buru untuk bangkit, beri diri Anda waktu untuk merasakan kekecewaan, kemarahan, atau kesedihan. Proses penyembuhan dapat berbeda untuk setiap orang, dan itu sangat normal.

Jika Anda sudah mengirim beberapa pesan dan tidak ada balasan, sebaiknya berhenti mencoba berkomunikasi. Mengejar seseorang yang jelas tidak ingin berbicara hanya akan menyakiti diri sendiri dan memberi kesan putus asa.

Alihkan fokus Anda pada kegiatan positif seperti berolahraga, mengembangkan hobi, atau berkumpul dengan teman. Perawatan diri sangat penting untuk pulih secara mental setelah mengalami pengalaman yang sulit.

Berbicara dengan sahabat atau anggota keluarga dapat membantu meredakan beban emosional, dan jika dampaknya terlalu berat, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan seorang psikolog profesional.

Cara Menghindari Menjadi Pelaku Ghosting

Jika Anda ingin mengakhiri sebuah hubungan, lakukan dengan cara yang lebih dewasa serta menghargai perasaan orang lain.

Komunikasilah dengan jujur meskipun sulit, pilih waktu dan cara yang tepat untuk berbicara langsung ketimbang melalui pesan. Berikan penjelasan singkat tanpa perlu rincian berlebihan, dan bersikaplah tegas tetapi tetap sopan agar tidak memberikan harapan palsu.

Ghosting dalam konteks pacaran adalah masalah yang berpotensi merugikan secara emosional dan psikologis bagi yang terdampak.

Meskipun di era digital tindakan ini menjadi lebih mudah, penting untuk diingat bahwa di balik layar terdapat manusia dengan perasaan yang nyata. Setiap individu berhak untuk mendapatkan rasa penutupan dan penjelasan yang jelas ketika suatu hubungan berakhir.

Jika Anda pernah mengalami ghosting, ingatlah bahwa itu bukan kesalahan Anda dan Anda pantas mendapatkan perlakuan yang lebih baik.

Tia Ayulia (Magang)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
R