Rupiah Depresiasi 2,85 Persen dalam Sebulan, Chatib Basri: Belum Signifikan

AKURAT.CO Menteri Keuangan di era Presiden SBY, Chatib Basri mengungkapkan nilai tukar rupiah masih relatif stabil dan depresiasinya belum signifikan jika dibandingkan dengan negara lain.
Dilansir dari XE, rupiah dalam sebulan terakhir terdepresiasi 2,85%. Berbanding Yen Jepang yang terdepresiasi 4,84%, dolar Singapura terdepresiasi 1,51%, Bath Thailand terdepresiasi 3,85%, Yuan Renmimbi China terdepresiasi 1,15%, Ringgit Malaysia terdepresiasi 3,03% serta Peso Filipina yang terdepresiasi 1,83%.
Adapun rupiah hari ini ditutup naik 15 poin ke Rp15.810.
Baca Juga: Rupiah Naik 15 Poin ke Rp15.810 Usai Rilis Data PCE AS
"Kalau dilihat relative stabil exchange rate kita, kan rangenya ada di kisaran itu, dan saya selalu lihat depresisai rupiah masih relative lebih kecil dari mata uang negara lain, kalau ada penurunan 200 perak, enggak apa-apa lah," kata Chatib di sela IIF's Anniversary Dialogue di Jakarta, Senin (29/1/2024).
Pasar sendiri, menurut Chatib tengah menunggu kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed) pekan ini. Chatib memperkirakan the Fed akan menurunkan suku bunganya atau Fed Fund Rate (FFR) sebanyak 2-3 kali di paruh kedua tahun ini, dengan hati-hati.
Namun, tantangannya defisit AS masih besar, jadi akan ada kebutuhan penerbitan bond yang cukup besar. Kendati demikian, penurunan suku bunga ini seharusnya menjadi sentimen penguat bagi rupiah.
"Kalau fed itu menurunkan suku bunga, mestinya rupiah bisa menguat, tapi faktor dari exchange rate kan gak hanya itu ada banyak hal. Fed akan turunkan tingkat bunga 2-3 kali di paruh kedua 2024, challenge-nya adalah defisit di AS masih besar, jadi akan ada kebutuhan bond issuance yang cukup besar," imbuhnya.
Diketahui, defisit fiskal AS saat ini mencapai USD1,7 triliun pada 2023, naik 23% dari posisi tahun 2022. Defisit ini sejalan dengan penerimaan AS yang turun USD457 miliar atau sekitar 9%.
Chatib mengingatkan ketika AS merilis surat utang (bond) cukup besar, sementara peluang resesi mengecil, maka investor tak akan membeli surat utang AS.
"Orang enggak akan pegang bond yang digunakan uangnya untuk transaksi, demand bond akan turun, supply naik, maka price bond-nya akan jatoh dan yield akan naik. Ini yg mungkin akan membuat The Fed harus hati-hati dalam menurunkan tingkat suku bunga," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







