AKURAT.CO Jerman baru-baru ini mengeluarkan data resmi mitra perdagangan utamanya di kuartal I-2024, di mana China sudah tidak lagi menjadi salah satu mitra dagang utama melainkan Amerika Serikat.
Nilai perdagangan Jerman dan Amerika, termasuk ekspor dan impor, berjumlah sekitar USD68 miliar atau Rp1.092 triliun (kurs Rp 16.059). Sedangkan nilai kerja sama China dengan Jerman, hanya berada di bawah EUR60 miliar.
Hal ini menandai pergeseran signifikan, di mana China masih menjadi mitra dagang terbesar Jerman selama delapan tahun berturut-turut.
Melihat hal tersebut, Ekonom Commerzbank, Vincent Stamer menjelaskan bahwa meningkatnya ekspor Jerman ke AS disebabkan oleh kekuatan ekonomi AS, sementara perdagangan dengan China mengalami penurunan.
"Ekspor Jerman ke AS kini semakin meningkat karena kuatnya perekonomian di sana, sementara ekspor ke dan impor dari China telah menurun," kata ekonom Commerzbank Vincent Stamer dilansir Reuters, Jumat (10/5/2024).
Baca Juga: Ekonomi Jerman Melemah, Tetangga Dibuat Ketar-ketir
Tak hanya itu saja, Vincent juga menyoroti bahwa China telah mulai memproduksi sendiri barang-barang yang sebelumnya diimpor dari Jerman, sedangkan Jerman sendiri lebih cenderung memproduksi barang untuk pasar dalam negeri daripada melakukan ekspor ke China.
Penurunan nilai perdagangan ini juga disebabkan oleh upaya Jerman untuk mengurangi ketergantungannya pada China karena perbedaan politik. Meskipun demikian, strategi Jerman dalam mengurangi ketergantungan ekonomi pada China masih belum jelas.
Pada kuartal I-2024, impor barang dari China turun 12% di Jerman, sementara ekspor barang Jerman ke China juga mengalami penurunan lebih dari 1%.
Kemudian menurut ekonom Jerman IW, Juergen Matthes. Dia menyatakan bahwa kinerja ekonomi China yang di bawah ekspektasi banyak orang dan kinerja ekonomi AS yang melampaui harapan mungkin menjadi faktor penyebabnya.
"Fakta bahwa perekonomian China berkinerja lebih buruk dari perkiraan banyak orang, sementara perekonomian AS melebihi ekspektasi, mungkin berkontribusi terhadap hal ini," kata Matthes.
Sekitar 10% dari total ekspor barang Jerman sekarang berasal dari AS, sementara pangsa ekspor ke China turun menjadi kurang dari 6%.
Juergen menambahkan bahwa dengan tantangan ekonomi global yang jelas terhadap model ekonomi Jerman, terlihat adanya pergeseran menuju mitra transatlantik, AS, menjauh dari persaingan sistem dengan China.
"Dengan tantangan ekonomi global yang jelas terhadap model ekonomi Jerman, sebuah reorientasi yang juga bermotif geopolitik tampaknya sedang terjadi, menjauh dari saingan sistem China dan menuju mitra transatlantik, AS," tambah Juergen.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK










