Dior dan Armani Diduga Eksploitasi Buruh Migran Ilegal di China

AKURAT.CO Dior dan Armani, dua merek fesyen ternama, mendapat tuduhan mengeksploitasi buruh ilegal asal China dengan membayar mereka hanya Rp32 ribu per jam untuk membuat tas yang dijual seharga Rp45 juta. Dugaan ini diungkap oleh aparat penegak hukum Italia setelah mereka melakukan penggerebekan di sejumlah tempat kerja dan pabrik yang mempekerjakan buruh migran ilegal.
Jaksa di Milan menyatakan bahwa "perusahaan tersebut (Dior dan Armani) membayar subkontraktor untuk mempekerjakan migran China dan pekerja asing lainnya, yang dibayar hanya USD2-3 per jam," demikian laporan Sky News, dikutip pada Sabtu (6/7/2024).
Buruh yang menerima upah rendah ini dilaporkan bekerja dari sore hingga pagi hari, bahkan harus masuk pada hari libur dan akhir pekan. Beberapa di antaranya bahkan harus tidur di tempat kerja mereka.
Dior, brand fesyen asal Prancis yang dijalankan oleh Bernard Arnault dan keluarga, membayar USD57 atau Rp928 ribu kepada pemasok untuk setiap tas tangan. Tas tersebut kemudian dijual dengan harga USD2.780 atau Rp45,27 juta.
Sementara itu, Armani, merek asal Italia, membayar pemasoknya USD270 atau Rp4,39 juta per tas tangan yang dijual seharga USD2.000 atau Rp32,57 juta.
Baca Juga: Segini Harga Baju Dior yang Dipakai Crazy Rich Helena Lim Saat Ditangkap Kasus Korupsi
Perusahaan-perusahaan mode ini kini menghadapi tuntutan di pengadilan Italia. Mereka dituduh mempekerjakan buruh dengan kondisi yang tidak layak. Namun, Giorgio Armani Group menyangkal tuduhan tersebut. Perusahaan yang meng-outsource produksinya kepada GA Operations membantah serangkaian tuduhan eksploitasi buruh.
"Perusahaan selalu menerapkan langkah-langkah pengendalian dan pencegahan untuk meminimalkan penyalahgunaan dalam rantai pasok. GA Operations akan bekerja sama dengan pihak berwenang secara transparan untuk mengklarifikasi mengenai masalah ini," jelas pernyataan resmi Armani.
Namun, Kepolisian Italia menyatakan bahwa GA Operations menyewa subkontraktor untuk mempekerjakan buruh China yang merupakan migran ilegal. Untuk satu tas tangan yang dijual Armani, subkontraktor China dibayar USD100 atau Rp1,62 juta, sementara subkontraktor lainnya sebagai perantara mendapatkan Rp4,4 juta plus Rp2,76 untuk setiap tas yang diproduksi.
"Sistem ini memungkinkan perusahaan memaksimalkan keuntungan dengan memangkas biaya tenaga kerja menggunakan pekerja ilegal," ungkap polisi setempat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







