Fundamental Ekonomi Indonesia Dinilai Masih Lemah, INDEF: Ini Tantangan Besar Bagi Presiden Terpilih

AKURAT.CO Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) sekaligus pengajar di Universitas Diponegoro, Esther Sri Astuti, memberikan pandangan kritis terhadap kondisi perekonomian Indonesia yang dianggapnya masih memiliki fundamental yang lemah.
Menurut Esther, kelemahan ini menyebabkan daya tahan ekonomi Indonesia terhadap guncangan global menjadi tidak kuat.
"Fundamental ekonomi Indonesia masih lemah, dan hal ini membuat kita rentan terhadap tekanan global. Menyalahkan tekanan global sebagai penyebab utama lemahnya perekonomian domestik bukanlah solusi yang tepat," ujar Esther, dikutip Minggu (14/7/2024).
Esther menyoroti perkembangan ekspor Indonesia sejak awal 2023 hingga kuartal pertama 2024 yang menunjukkan tren menurun.
Baca Juga: Haji Faisal soal Kasus Fujianti Utami: Kembalikan Saja Uangnya, Ruginya Anak Juga Kerugian Saya
Perlambatan perdagangan dunia turut berkontribusi pada penurunan selisih antara ekspor dan impor atau neraca perdagangan.
"Pada kuartal I-2023, Indonesia mengalami surplus perdagangan sebesar 14 miliar USD. Namun, pada kuartal pertama tahun 2024, surplus tersebut menurun menjadi 9,8 miliar USD. Selain itu, harga komoditas ekspor utama Indonesia juga mulai menurun di pasar global," jelas Esther.
Ia juga menyoroti tren peningkatan utang Indonesia, baik dalam bentuk USD maupun Rupiah dari Surat Berharga Negara (SBN), yang membuat ketergantungan terhadap USD sebagai alat pembayaran semakin meningkat.
"Hal ini tidak diimbangi oleh generate income dalam bentuk USD, karena kapasitas ekspor kita terus mengalami penurunan. Kondisi ini mengkhawatirkan karena meningkatkan risiko ekonomi Indonesia," tambah Esther.
Baca Juga: Wimbledon 2024: Krejcikova Taklukkan Polini 3 Set untuk Gelar Grand Slam Lapangan Rumput Pertama
Inflasi bahan pangan di Indonesia juga relatif tinggi, terutama karena banyak bahan makanan yang masih diimpor seperti beras dan susu.
Esther khawatir, program makan siang gratis yang digalakkan pemerintah justru akan mendorong impor lebih tinggi.
"Kondisi ini menambah beban pada perekonomian kita karena meningkatkan ketergantungan pada impor, yang pada gilirannya memperparah defisit perdagangan," kata Esther.
Dia menilai, kondisi fiskal Indonesia juga tidak baik-baik saja karena rasio utang yang terus meningkat, sementara pendapatan negara cenderung menurun. Hal ini membuat defisit fiskal melebar.
"Rasio utang terhadap PDB yang mencapai sekitar 40 persen akan membawa persoalan tersendiri bagi Presiden terpilih, Prabowo. Ini akan menyebabkan efektivitas jalannya pemerintahan ke depan menjadi sangat riskan," ungkapnya.
Di sisi lain, Esther juga menekankan, pentingnya membentuk kabinet yang ramping dan efektif untuk mengurangi belanja rutin yang besar. Menurutnya, meskipun koalisi partai besar, kabinet harus tetap rasional dan ramping.
"Semakin 'gemoy' kabinet, maka akan semakin besar belanja rutinnya. Hendaknya kabinet dibuat seramping mungkin agar efektif, walaupun koalisi partainya besar," tutup Esther.
Ia menggarisbawahi bahwa penguatan fundamental ekonomi Indonesia adalah kunci untuk menghadapi tantangan global.
Kebijakan yang lebih bijak dan efisien dalam pengelolaan utang serta pembentukan kabinet yang efektif akan menjadi langkah penting bagi pemerintahan Presiden terpilih untuk memastikan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









