AKURAT.CO Pemerintah China kembali melayangkan protes kepada Amerika Serikat akibat pengenaan sanksi yang dinilai tidak adil dan mendesak AS untuk segera menghentikan sanksi tersebut.
Dilansir Bloomberg, pengenaan sanksi baru tersebut kembali menyasar sejumlah perusahaan asal China. Di mana sanksi tersebut sengaja dirancang oleh AS untuk menargetkan rantai pasok, yang diduga membantu Rusia dalam upayanya mempertahankan ekonomi selama masa perang, terutama dalam konflik berkepanjangan dengan Ukraina.
China yang merupakan salah satu negara dengan kekuatan besar di Asia Timur kembali menentang langkah tersebut sekaligus memperingatkan bahwa pihaknya akan mengambil tindakan yang diperlukan untuk melindungi hak-hak serta kepentingan sah perusahaan-perusahaan China yang terdampak.
Bahkan beberapa waktu lalu, Kementerian Perdagangan China, dalam sebuah pernyataan resmi yang dirilis pada hari Minggu menegaskan bahwa langkah sepihak yang diambil oleh AS tersebut tidak hanya merugikan hubungan bilateral antar negara namun juga menimbulkan ketidakstabilan dalam perdagangan global.
Usut punya usut, langkah tersebut merupakan respons terhadap keputusan Departemen Keuangan AS yang beberapa waktu lalu mengumumkan daftar entitas baru yang dikenai sanksi.
Usut punya usut, langkah tersebut merupakan respons terhadap keputusan Departemen Keuangan AS yang beberapa waktu lalu mengumumkan daftar entitas baru yang dikenai sanksi.
Daftar ini mencakup individu-individu asal Rusia serta perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Hong Kong dan China daratan. AS menyatakan bahwa sanksi ini ditujukan kepada pihak-pihak yang menyediakan produk dan layanan yang mendukung Rusia dalam mempertahankan mesin perangnya melawan Ukraina serta menghindari sanksi internasional yang telah diterapkan sebelumnya.
Ketegangan antara kedua negara ini semakin memuncak setelah awal tahun ini, Presiden China, Xi Jinping secara terbuka mengingatkan diplomat tertinggi Amerika Serikat bahwa menargetkan atau menentang China hanya akan memperburuk situasi.
Ketegangan antara kedua negara ini semakin memuncak setelah awal tahun ini, Presiden China, Xi Jinping secara terbuka mengingatkan diplomat tertinggi Amerika Serikat bahwa menargetkan atau menentang China hanya akan memperburuk situasi.
Peringatan ini disampaikan dalam pertemuan penting yang menandai peningkatan ketegangan di antara kedua kekuatan besar dunia tersebut. Pada saat itu, Menteri Luar Negeri AS, Anthony Blinken, menyebutkan bahwa China adalah pemasok utama bagi Rusia, terutama dalam hal peralatan mesin militer serta bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan amunisi dan propelan roket.
Dalam perkembangan terkini, sanksi baru dari AS juga mencakup kapal-kapal pengangkut gas alam cair yang terkait dengan Rusia, termasuk kapal tanker yang diduga telah melakukan pemuatan di proyek Arctic LNG 2, yang juga telah dikenai sanksi oleh pemerintah Amerika Serikat. Proyek ini menjadi salah satu target utama dalam upaya AS untuk menekan ekonomi Rusia melalui pembatasan di sektor energi.
Sikap keras Beijing terhadap langkah tersebut menunjukkan betapa pentingnya hubungan dagang dan diplomasi bagi China dalam mempertahankan posisinya di panggung global. Langkah balasan dari Beijing mungkin tidak hanya bersifat diplomatik tetapi juga ekonomi, yang bisa berdampak signifikan pada hubungan dagang antara kedua negara adidaya ini.
Selain itu, tindakan tersebut menegaskan komitmen China untuk melindungi kepentingan nasional dan kedaulatan ekonominya di tengah tekanan internasional yang semakin meningkat.
Dalam situasi ini, sangat penting bagi komunitas internasional untuk memantau perkembangan lebih lanjut, mengingat implikasi dari perselisihan antara AS dan China ini bisa berdampak pada stabilitas ekonomi global. Negara-negara lain, terutama yang memiliki hubungan dagang dengan kedua belah pihak, mungkin juga akan terdampak oleh ketegangan yang semakin memburuk ini.
Dalam situasi ini, sangat penting bagi komunitas internasional untuk memantau perkembangan lebih lanjut, mengingat implikasi dari perselisihan antara AS dan China ini bisa berdampak pada stabilitas ekonomi global. Negara-negara lain, terutama yang memiliki hubungan dagang dengan kedua belah pihak, mungkin juga akan terdampak oleh ketegangan yang semakin memburuk ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal










