Pertumbuhan Ekonomi Israel Anjlok ke 1,2 Persen di Kuartal II-2024 Terimbas Perang

AKURAT.CO Ekonomi Israel mengalami perlambatan pada kuartal kedua tahun ini, dengan dampak perang melawan kelompok Hamas yang menghambat pemulihan ekonomi. Perang yang berlangsung selama beberapa bulan telah mengganggu ekspor dan investasi.
Produk domestik bruto (PDB) tumbuh sebesar 1,2% secara tahunan dari April hingga Juni, namun mengalami penurunan 1,4% dibandingkan dengan kuartal yang sama tahun lalu, berdasarkan data awal yang dirilis oleh Biro Statistik Pusat Israel pada Minggu.
Menurut Times of Israel, angka pertumbuhan ini lebih rendah dari yang diperkirakan para ekonom, yang memperkirakan pertumbuhan antara 2,3% hingga 5%. Secara per kapita, dengan memperhitungkan pertumbuhan populasi, PDB mengalami kontraksi sebesar 0,4% pada kuartal kedua.
“Produk domestik bruto per kapita menyusut dibandingkan kuartal sebelumnya dan kuartal yang sama tahun lalu, angka yang jelas menunjukkan kerusakan signifikan akibat perang yang sedang berlangsung terhadap perekonomian,” ujar kepala ekonom pasar Bank Mizrahi Tefahot Ronen Menachem dikutip pada Jumat (30/8/2024).
Baca Juga: RI Surplus Dagang dengan Israel Rp510 M di 5 Bulan Pertama 2024
Selama kuartal kedua, produksi bisnis turun 1,9% karena ekspor barang dan jasa mengalami penurunan 8,3%, menurut data biro statistik. Investasi pada aset tetap hanya meningkat sebesar 1,1%.
“Pertumbuhan PDB mengecewakan pada kuartal kedua karena kontraksi ekspor (barang dan jasa) dan lemahnya investasi,” kata kepala ekonom di Leader Capital Markets Jonathan Katz.
Di samping pertempuran di Gaza, Hizbullah, sekutu Hamas yang didukung Iran, telah melancarkan serangan roket ke Israel utara selama 10 bulan terakhir. Serangan ini menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas menjadi perang besar-besaran.
Puluhan ribu penduduk di dekat perbatasan Israel-Lebanon telah mengungsi akibat kekerasan tersebut, yang juga mengganggu aktivitas tenaga kerja dan bisnis di komunitas selatan dan utara.
Data pertumbuhan yang lemah ini muncul setelah Fitch menurunkan peringkat kredit Israel dari A+ ke A minggu lalu, dengan perkiraan bahwa perang mungkin akan berlanjut hingga tahun 2025.
Lembaga pemeringkat tersebut memperingatkan bahwa peningkatan belanja militer dan kehancuran infrastruktur dapat menyebabkan kerusakan yang signifikan dan dampak berkelanjutan terhadap ekonomi dan investasi. Fitch adalah lembaga kredit global ketiga yang menurunkan peringkat Israel tahun ini, setelah S&P dan Moody’s.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









