Debt Trap dan Paradigma Negatif Barat terhadap China

AKURAT.CO Debt trap merupakan salah satu istilah yang digunakan untuk menggambarkan hubungan finansial internasional di mana negara atau lembaga pemberi pinjaman memberikan utang kepada negara peminjam dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan ekonomi atau politik ketika negara peminjam tersebut tidak mampu membayar hutangnya.
Namun sayangnya tak sedikit dari para media Barat menuding China sebagai pelaku utama Debt Trap sejak istilah ini pertama kali muncul oleh sebuah lembaga analis di India pada tahun 2017 silam.
Meskipun begitu, banyak akademisi, profesional, dan lembaga penelitian yang menyatakan bahwa praktik pinjaman yang dilakukan oleh China bukanlah menjadi penyebab utama masalah utang yang dihadapi oleh negara-negara peminjam, bahkan dalam praktiknya bank-bank China bersedia melakukan restrukturisasi ketentuan pinjaman yang ada.
Dilansir Xinhua, menurut seorang analis hubungan Internasional, Adhere Cavince menjelaskan bahwa hanya sekitar 9% dari utang publik Kenya yang bisa dikaitkan dengan China saat ini.
Menurut laporan utang dari Departemen Keuangan Kenya yang diterbitkan pada April 2024, lebih dari separuh (51,5%) utang luar negeri Kenya berasal dari pemberi pinjaman multilateral seperti Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF). Sebaliknya, China dan pemberi pinjaman bilateral lainnya hanya menyumbang seperlima (21,5%) dari utang bilateral Kenya.
Baca Juga: China Kebut Industrialisasi Baru
Bahkan jika mengacu kepada sebuah makalah dari Universitas Johns Hopkins berjudul "Integrating China into Multilateral Debt Relief: Progress and Problems in the G20 DSSI" menemukan bahwa di antara 46 negara yang berpartisipasi dalam Debt Service Suspension Initiative (DSSI) yang diluncurkan oleh Bank Dunia dan IMF, pemberi pinjaman China menyumbang 30 persen dari semua klaim dan memberikan kontribusi sebesar 63 persen dari penangguhan pembayaran utang.
Berbeda dengan janji-janji penghapusan utang dari negara Barat yang belum terpenuhi, "China jauh lebih dermawan dalam memberikan bantuan untuk memungkinkan negara-negara Afrika mengelola pemulihan pasca Covid-19 mereka," kata Charles Onunaiju, direktur pusat studi China di Nigeria.
"Pendekatan China terhadap penghapusan utang lebih fleksibel, sering kali melibatkan restrukturisasi pinjaman untuk memberikan ruang napas bagi negara-negara peminjam, Sebaliknya, pemberi pinjaman lain lebih kaku, lebih mementingkan keuntungan finansial mereka daripada pemulihan ekonomi negara-negara Afrika," ucap Humphrey Moshi selaku Direktur pusat studi China di Universitas Dar es Salaam, Tanzania.
"Oleh karena itu Narasi Debt Trap pada akhirnya bertujuan untuk mendiskreditkan pengaruh China yang semakin besar di Afrika dan mempertahankan dominasi Barat," lanjut Moshi.
Secara tidak langsung hal tersebut tidak menguntungkan bagi negara-negara berkembang maupun bagi China. Itulah sebabnya, meskipun ramai dibicarakan, tidak ada negara Afrika yang benar-benar menanggapinya dengan serius.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 8Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026








