AKURAT.CO Indonesia telah menjadi pelopor dalam upaya global untuk memerangi perubahan iklim melalui inovasi keuangan syariah. Salah satu instrumen keuangan yang menonjol dalam upaya ini adalah Green Sukuk, yang pertama kali diperkenalkan pada 2018.
Instrumen ini menjadi bukti nyata komitmen Indonesia terhadap pembangunan berkelanjutan dan lingkungan, mengintegrasikan prinsip-prinsip syariah dengan kebutuhan mendesak untuk menangani krisis iklim. Dalam pidato yang disampaikan di The 8th Annual Islamic Finance Conference (AIFC), Wakil Menteri Keuangan II, Thomas Djiwandono, menegaskan bahwa Green Sukuk didesain khusus untuk mendanai proyek-proyek ramah lingkungan.
Proyek-proyek tersebut meliputi pengembangan energi terbarukan, reboisasi, dan berbagai inisiatif pertanian berkelanjutan yang menjadi kunci dalam menekan emisi karbon dan menjaga keseimbangan ekosistem. Dengan dukungan global, instrumen ini berhasil mengumpulkan dana sebesar USD1,25 miliar, dengan imbal hasil sebesar 3,75% untuk tenor lima tahun.
Baca Juga: Penerbitan Green Sukuk USD3,5 Dollar untuk Biayai Ancaman Perubahan Iklim
"Pada 2018, Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang menerbitkan sukuk hijau global. Instrumen inovatif ini mengumpulkan dana untuk proyek yang berkelanjutan secara lingkungan seperti energi terbarukan, reboisasi, dan pertanian berkelanjutan," kata Thomas saat memberikan pidato kunci di acara AIFC, Kamis (3/10/2024).
Selain meningkatkan diversifikasi sumber pendanaan pemerintah, Green Sukuk juga memainkan peran strategis dalam memperkuat posisi Indonesia di panggung global sebagai negara yang berkomitmen pada keuangan hijau. Dengan partisipasi investor internasional yang tersebar di seluruh dunia, dari 32% pasar Islam, 25% pasar Asia, hingga 18% pasar Amerika Serikat, Green Sukuk telah menarik perhatian luas terhadap peluang investasi berbasis syariah yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga membawa dampak positif terhadap lingkungan.
Keberhasilan penerbitan Green Sukuk juga memperlihatkan bahwa keuangan syariah dapat memberikan kontribusi besar dalam menjawab tantangan global seperti perubahan iklim. Instrumen ini memungkinkan pemerintah untuk mendanai proyek-proyek yang berorientasi lingkungan tanpa mengorbankan prinsip-prinsip syariah, menawarkan keseimbangan antara profitabilitas ekonomi dan tanggung jawab moral terhadap alam.
Melalui inovasi ini, Indonesia tidak hanya memimpin di tingkat nasional, tetapi juga memberi contoh kepada negara-negara lain tentang bagaimana keuangan syariah dapat dimanfaatkan secara strategis untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Dengan semakin berkembangnya kebutuhan akan solusi keuangan yang mendukung keberlanjutan, Green Sukuk diharapkan terus memainkan peran penting dalam mendanai proyek-proyek yang mendukung transisi Indonesia menuju ekonomi rendah karbon.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal










